Beranda Pertanian Kubota DC-60, Tekan Kerugian Panen Kurang Dari 3%

Kubota DC-60, Tekan Kerugian Panen Kurang Dari 3%

BERBAGI
Foto : Bimo

Agrofarm.co.id – Indonesia adalah negara penanam padi terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Luas areal tanaman padi di Indonesia mencapai 13 juta hektar. Namun permasalahan yang dihadapi sekarang untuk mencapai swasembada beras terjadi kelangkaan tenaga kerja yakni petani. Untuk itu, mekanisasi pertanian menjadi sebuah jawaban untuk menghemat tenaga kerja dan peningkatan hasil panen.

Kubota saat ini terus memperkenalkan mekanisasi pertanian kepada petani karena lebih efisien dan dapat meningkatkan produksi padi. Namun terkendala sulitnya merubah kebiasaan petani untuk menggunakan mesin, karena masih ada ketakutakan dari petani gagal panen ketika menggunakan mesin. “Ini sesuatu yang lumrah karena ini hal baru bagi petani,” tandas Melinda Tunjung Wulan, Sales & Service Department PT Kubota Machinery Indonesia.

Kubota menawarkan berbagai produk dari mulai traktor , mesin panen dan mesin menanam padi. Produk-produk ini akan membantu memperlancar mekanisasi pertanian di Indonesia. Salah satu produk unggulan adalah combine harvester (mesin pemanen ) Kubota DC-60. Melinda mengatakan, produk yang terbilang baru ini, namun penyerapan pasar cukup cepat lantaran mulai sulitnya mendapatkan tenaga kerja di sektor pertanian. “Tren sekarang adalah mekanisasi lantaran kurangnya sumber daya manusia di sektor pertanian. Banyak petani beralih profesi dan yang tersisa tinggal generasi tua saja,” ujar Melinda.

Meskipun, katanya, penjualan produksi ini di Pulau Jawa melambat , malahan sekarang banyak permintaan di luar Jawa seperti di daerah Sulawesi, Sumatera dan Marauke . Sebentar lagi akan menjamah pasar Kalimantan.

Menurutnya, permintaan produk Kubota paling banyak sekarang pada mesin panen DC-60. “Dengan menggunakan produk ini mampu menekan kerugian panen kurang dari 3%. Sementara dengan panen manual bisa mencapai 15-17%,” ujar Melinda pada Agrofarm.

DC-60 menggunkan mesin diesel Kubota 60 HP model V2403DI-T yang sangat bertenaga. Memanen tanaman yang melekat ataupun melakukan pengoperasian dalam kondisi berlumpur. Mesin ini menghasilkan tenaga yang menyelesaikan pemanenan padi paling efisien.

Melinda menambahkan, mesin ini memakai teknologi 3-way air stream cleaning system, membuat bulir-bulir gabah hasil panen menjadi bersih, bebas dari debu dan kotoran. “Resiko kerusakan bulir gabah maupun gabah terbuang sangat minim,” ujar Melinda.

Menurutnya, kelebihan produk DC-60 ini adalah menggunakan tenaga manusia lebih sedikit dan waktu lebih cepat. Cara manual setiap hari membutuhkan orang sebanyak 15-20 orang untuk panen padi seluas 1 hektar. Sedangkan menggunakan mesin pemanen hanya membutuhkan lima orang untuk panen padi seluas 3-4 hektar per hari.

Mesin pemanen Kubota sendiri ada dua jenis yakni DC-35 untuk ukuran kecil dan DC-60 berukuran besar. “Mesin DC-35 kemampuan panen bisa mencapai 2 hektar per hari. Sementara DC-60 panen padi per hari mencapai 4 hektar,” katanya.

Melinda mengungkapkan, harga jual mesin pemanen ini berbeda-beda di setiap daerah atau pulau. Pulau Jawa akses untuk mendapatkan mesin ini lebih mudah ketimbang luar Pulau Jawa. “Jadi biaya transportasi menjadi lebih mahal. Jenis DC-35 harganya di Pulau Jawa ini sekitar Rp 200 juta per unit. Sementara untuk DC-60 Rp 380 juta per unit ,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, produk keluaran tahun 2011 ini tren penjualannya terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2014 lalu saja terjual sekitar 700 unit. Ini meningkat dari tahun sebelumnya berkisar 250 unit. Target tahun ini bisa terjual 1.000 unit. Alat ini bisa dimodifikasi untuk lahan pertanian tanaman jagung atau kedelai. “Market sekarang fokus pada tanaman padi terlebih dahulu,” ujar Melinda.

Produk Kubota sudah diakui dunia untuk sektor pengairan, pertanian, pipa dan alat berat eksavator. Sektor pertanian merupakan bisnis terbesar dari Kubota. Market share terbesar di Asia karena masyarakatnya banyak makan beras . Meskipun, katanya untuk mendapatkan mesin ini masih impor karena pabrik Kubota di Asia berada di Jepang, Thailand dan China.

Dia menambahkan, layanan purna jual yang diberikan Kubota adalah memberikan tiga kali free service. Pada saat pembelian para customer dibekali dengan sperpat sampai waktu garansi habis. “Penggunaan garansi alat maksimal 600 jam, maka kami memberikan penggantian Sparepart sampai usia 600 jam. Kemudian Kubota juga menyediakan sparepart original,” ungkapnya.

Melinda menegaskan, setiap dealer Kubota menyediakan sparepart asli. Dimana pelanggan beli barang, maka dapat membeli sekaligus sparepartnya. Selain itu, menyediakan waranty book untuk setiap pembeli. “Inilah yang kami janjikan ke para costumer,” ujar Melinda.

Selain itu, para costumer pasca membeli akan diberikan training dan pendampingan untuk cara penggunaan alat ini. “Kemudian mekanik kami juga memberikan cara merawat mesin ini agar awet selama dipakai. Dari mengganti oli. Jadi kami benar-benar memberi kepuasan terhadap para pembeli. Ini penting menjaga brand Kubota. Sampai-sampai dalam memilih dealer tidak sembarangan, Bina Pertiwi menjadi dealer untuk produk-produk Kubota,”

Melinda mengatakan, saat ini baru ada 13 dealer cabang Kubota di seluruh Indonesia. Tersebar dari Aceh, Medan, Padang, Jambi, Palembang, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Marauke . Tahun ini berencana membuka cabang baru di Kalimantan Timur. Saat ini tren pembukaan lahan padi ke wilayah Indonesia Timur, terutama Papua dan Sulawesi.

Pembeli mesin pemanen tidak hanya dari kalangan petani, akan tetapi dari kalangan usaha penggilingan padi. Biasanya mereka membeli mesin pemanenan ini, lantas disewakan ke para petani dan ketika panen petani menjual gabahnya ke pemilik penggilingan padi. Kelompok tani juga banyak membeli mesin ini,” pungkasnya. (Beledug Bantolo)