Beranda Perkebunan KPB Nussantara Bidik Penjualan Teh Sebesar 45.000 ton

KPB Nussantara Bidik Penjualan Teh Sebesar 45.000 ton

251
BERBAGI

Agrofarm.co.id – Tahun 2017 PT Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) Nusantara, anak usaha PT Perkebunan Nusantara III, membidik kenaikan volume penjualan teh sebesar 45.000 ton atau naik 25%, daripada tahun lalu 36.000 ton.

Direktur Utama PT Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) Nusantara, Iriana Ekasari mengatakan, perdagangan teh tahun ini akan lebih baik dari tahun 2016. Meski, sejak tahun 2008 perdagangan teh mengalami penurunan. Di satu sisi daya saing teh PTPN di pasar ekspor utama seperti Rusia, Amerika Serikat (AS) dan Eropa melemah

Iriana mengungkapkan, tahun 2016 ekspor dari PTPN tinggal sepertiga dari tahun 2008. Penurunan kualitas teh dan melmahnya ekonomi di pasar utama ekspor menjadi penyebab utama dari kemuduran tersebut,” tandasnya.

Sedangkan pasar dalam negeri mengalami tantangan oleh kebiasaan konsumsen yang terbiaa mengkonsumsi teh kualitas dua dan tiga yang harganya murah. Ini berimbas rendahnya harga teh kualitas wahid Indonesia. “Untuk itu, kumcinya musti mengembalikan kualitas teh terbaik agar dapat kembali eksis di pasar ekspor dengan mutu terbaik. Perbaikan mutu teh akan dimulai tahun ini,” jelasnya.

Dia menargetkan,  penjualan teh tahun ini tumbuh 25% atau ke level 45.000 ton dibandingkan dengan tahun lalu 36.000 ton dengan nilai USD 56,1 juta. Kenaikan volume penjualan 9.000 ton ter sebut iharapkan dapat ditopang oleh pasar ekspor.

Sementara itu, pasar dalam negeri sudah mulai jenuh, hanya tumbuh 2% karena ada serangan jenis minuman jus, susu, soft drink dan teh dalam kemasan. “Untuk itu, kita akan genjot pasar ekspor,” ujar Iriana.

Dalam memperkuat pasar ekspor, pihaknya akan fokus melakukan promosi ke beberapa negara yakni Rusia, Pakistan, Inggris, AS, Jerman, Polandia dan Afganistan. Selain itu, perusahaan akan melakukan beberapa strategi pemasaran.

Pertama, melakukan integrasi rencana bisnis dengan para pembeli yang telah ada selama ini. Para pembeli dipersiapkan untuk menambah kapasitas pembeliannya. “Mereka harus menambah jumlah buyer di luar negeri, meningkatkan kemampuan finansial dan menambah kapasitas gudang,” katanya.

Kedua. KPB Nusantara akan melakukan integrasi suplai dengan kebun-kebun untuk memastikan ketersediaan barang dan konsistensi mutu. Ketiga, pelaksanaan auction yang lebih transparan dengan melakukan display produk unggulan kepada setiap pembeli, terutama untuk kebun yang telah meningkat mutunya.

Keempat, memfasilitasi supply chain financing dengan pihak bank untuk para pembeli yang terdaftar di KPB Nusantara agar dapat mebeli teh. Sedangkan untuk meningkatkan jumlah pembeli, perusahaan akan melakukan kegiatan marketing yang lebih agresif dan tepat sasaran. “KPB Nusantara bakal melakukan pameran baik di dalam maupun luar negeri,” katanya.

Selain itu, untuk meningkatkan kecintaan konsumen teh dalam negeri , perusahaan akan melakukan kegiatan rutin yakni Indonesia Tea Appreciaton Night (INTAN) untuk konsumen kelas menengah keatas. Kemudian segmen hotel, restoran dan katering (horeka) yang menyasar pasar generasi muda ada kegiatan Kharisma Tea Academy (KHATA). “Semua ini bertujuan supaya ada keberlanjutan industri teh di Indonesia, “ ujar Iriana.

Ketua Jakarta Tea Buyers Association Farid Akbany,‎ mengungkapkan harga teh produksi dalam negeri terus mengalami penurunan. Ia menjelaskan, sejak beberapa tahun ini, persoalan harga sudah menjadi keluhan rutin dan seolah-olah masalah tersebut penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan. “Harga teh kita selalu kalah dengan harga teh di sentra produksi negara lain, seperti Kenya, Sri Lanka, dan India. Hal ini sudah terjadi sejak lama,” ujar Farid.

Padahal, katanya,  pada masa keemasan teh era 1990-an, di mana harga teh Indonesia lebih tinggi dibanding negara lain. Dia bercerita, penyelenggara lelang teh di Kolombo pernah sampai datang dan mengintip untuk mencari tahu kenapa harga teh mereka kalah dengan Indonesia.

“Ternyata harga kita pada waktu itu bagus karena para pembeli dari negara lain begitu yakin dengan mutu teh Indonesia, sehingga mereka berani memesan teh hanya dengan menyebut nama kebun dan grade, tanpa melihat sampel karena saat itu mutu teh kita termasuk PTPN begitu konsisten,” ujar Farid.

Menurutnya, ketidakstabilan mutu dan produksi teh mengakibatkan negara lain tidak lagi mengandalkan teh dari Indonesia. “Yang tadinya beli teh kita, sekarang mengurangi atau bahkan menghentikan pembelian teh Indonesia sama sekali. Makin lama makin sedikit dan packer-lah sekarang menentukan harga,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Elia Massa Manik mengungkapkan, harga tertinggi teh Indonesia di era 1992 pernah mencapai USD 3,5-USD 4 per kilogram (kg). Tapi sekarang tinggal USD 1,2-US$ 1,6 per kg, anjlok sampai 50%.

Dia menambahkan,  teh menjadi komoditas tanaman rakyat, uniknya di Indonesia 50% tanaman teh dipegang perusahaan. Berbeda dengan Kenya dan Sri Lanka, teh menjadi komoditas tanaman rakyat. Untuk itu, PTPN harus bertransformasi karena teh mempunyai peranan penting dalam penjualan.

Dia menyebutkan, masa lalu kontribusi teh mencapai 5%-7% terhadap total total penjualan, namun sekarang hanya 3%. “Dari total pendapatan Rp 35 triliun, kontribusi penjualan dari teh hanya Rp 700 miliar, “ tandasnya.

Elia menambahkan, penurunan kualitas teh Indonesia disebabkan Indonesia kurang melakukan pengawasan ‎atau kontrol kualitas di pasar luar negeri dan tidak aktif lagi ikut lelang teh yang diselenggarakan di luar negeri.

“Makanya sekarang kita mau perbaiki kualitas teh Indonesia dari sektor hulu hingga hilir. Ini sudah dua tahun ini kita galakkan agar target tersebut dapat tercapai,” ujar Elia.

Saat ini diperkirakan luas areal teh PTPN mencapai 30.000 ha, paling besar di Jawa Barat seluas 20.000 ha. Sisanya tersebar di Jawa Tengah, jawa Timur dan Sumatera. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here