Beranda Pertanian Komitmen Syngenta Menjaga Ketahanan Pangan Dunia

Komitmen Syngenta Menjaga Ketahanan Pangan Dunia

105
BERBAGI
Parveen Kathuria, President Director Syngenta Indonesia/ist

Agrofarm.co.id- Lahan tanaman di Tanah Air semakin tahun kian berkurang. Namun, permintaan akan pangan selalu mengalami peningkatan, apalagi dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Ini menjadi tantangan besar, tak hanya bagi para petani, tapi juga Pemerintah Indonesia.

Kualitas pangan yang tersedia juga menjadi tuntutan masyarakat Indonesia, yang menginginkan yang terbaik. Salah satu perusahaan yang turut terlibat dalam kegiatan agrobisnis di Indonesia, yaitu PT Syngenta Indonesia.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Parveen Kathuria, mengatakan masalah ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga belahan dunia lain. Parveen juga menjelaskan, pengaruh perusahaan untuk mengembangkan pertanian di nusantara. Termasuk juga produk-produk dan teknologi yang disediakan untuk mendukung pertanian ataupun per kebunan masyarakat di Tanah Air. Menurut dia, masa depan ketahanan pangan tidak akan datang dari Syngenta sendiri. Tetapi, diper lukan keterlibatan semua pihak, sampai kepada para petani kecil, agar mampu membangun Indone sia yang lebih baik lagi.

Pria ramah ini menyebutkan keterbatasan lahan akan menjadi tantangan yang nyata. Apalagi ditambah agresifnya industri yang membuat lahan pertanian jadi tergerus. Namun pertanian harus tetap bertumbuh lebih banyak meskipun lahan berkurang. Tantangan itu harus dijawab dengan mendidik petani dalam budaya agronomi dan teknologi terbaru. Bagaimana kita bisa tumbuh lebih dengan lahan menurun, ujarnya lagi.

Berbicara tentang dua miliar orang di planet ini, dalam 30 tahun ke depan, berarti perlu meningkatkan produk. Hal ini sangat menantang. Saat ini Syngenta dan Pemerintah Indonesia sangat berkomitmen dalam hal ini. Semua ini bisa dilakukan secara ber sama-sama, sangat mungkin, ucapnya optimis. Syngenta membuat komitmen global yang disebut good growth plan. Syngenta membuat sebuah komitmen untuk tanaman, padi, jagung, sayuran, dan beberapa tanaman penting, seperti kedelai dan kacang hijau. Ini dapat membantu petani, dan produktivitasnya. Kemudian, terpenting mengedukasi petani untuk memiliki biodiversity yang lebih, perlindungan lebih untuk tanaman, mempertahankan kesuburan dan menggunakan pestisida yang aman.

Itu komitmen kami untuk Indonesia. Sekali lagi tantangannya adalah lebih dari 20 juta petani yang memiliki lahan sekitar dua hektare. Bagaimana kita dapat membantu mereka tumbuh lebih dengan lahan yang kurang. Ini adalah hal yang penting, ujarnya pria yang telah malang melintang di dunia pertanian ini.

Saat ini Fokus Syngenta di pertanian Indonesia adalah beras, jagung, sayuran, perkebunan kelapa sawit, dengan kedelai, dan kentang, semua tanaman yang sangat kritis dengan memberikan teknologi terbaik.

Keberadaan Syngenta di Indonesia telah terlihat dengan bekerja bersama Pisagro. Berbicara tentang tanaman adalah bagaimana kita bisa meningkatkan 20 persen produktivitas. Kedua, berbicara mengenai keanekaragaman hayati yang mengalami penurunan, penting bagi kita untuk dapat mempertahankan kesubur an tanah. Alasannya, ketika tanah semakin kurang, kesuburan akan menjadi fundamental. Ini adalah komitmen Syngenta, kami mendorong semua orang dengan istilah biodervisity, perlindungan tanaman.

Kekurangan pangan, merupakan tantangan yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia. Ada miliaran orang di planet ini dan pada 2030, mereka akan terus bertambah. Jumlah penduduk saat ini juga menjadi salah satu tantangan. Indonesia tidak terkecuali, hari ini ada ratusan juta penduduk di sini.

Kami percaya bahwa populasi yang meningkat setiap tahun di Indonesia akan lebih bertumbuh. Semua ini akan meminta lebih banyak makanan dan kualitas yang lebih baik, ini adalah komitmen Syngenta. Kita memiliki tujuan yang sama untuk Indonesia melalui program self eficiency. Bermitra dengan Presiden Jokowi, misi kami adalah untuk mem bawa keamanan pangan di sekitar dunia, ujarnya lagi pada saat kunjungan pabrik di kawasan Cileungsi Bogor.

Menjaga Ketahanan Pangan Dunia

PT Syngenta Indonesia bukan pemain baru di dunia agrobisnis Indonesia. Perusahaan yang berkantor pusat di Swiss ini menggeluti bisnis bibit, pupuk, pestisida, dan bahan pelindung tanaman lainnya. Baik tanaman sayuran maupun tanaman pangan dan perkebunan. Di Indonesia, Syngenta berkantor di Jakarta dan mengawasi tiga wilayah komersial antara lain Jawa, Sumatera dan Indonesia bagian timur. 80 hingga 85 persen hasil produknya ditujukan untuk pasar lokal, sementara sisanya diekspor ke beberapa negara seperti Filipina, Thailand dan negara lainnya.

Hingga kini, Syngenta Indonesia telah memiliki tak kurang 700 karyawan yang memiliki pabrik perlindungan tanaman di Gunung Putri, Bogor yang didirikan pada 1981. Pabrik seluas 12 ribu m2 diatas tanah selebar 32 ribu m2 yang terletak tak jauh dari timur Jakarta itu merupakan site formulation, filling and packaging (FF&P) untuk produk perlindungan tanaman. Total kapasitas produksinya bisa mencapai 58 juta liter per tahun. Produksi utamanya adalah herbisida, gramoxone, yang 86 persennya diikuti oleh insektisida dan fungisida.

Menurut Parveen, sedangkan untuk pendapatan di Indonesia sendiri, angkanya belum spesifik. Meskipun demikian, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar, mengingat Indonesia menjadi negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan memiliki lahan pertanian yang sangat luas hingga kini.

Dengan faktor inilah, Syngenta tidak ragu untuk menginvestasikan dananya di berbagai negara, termasuk Indonesia untuk menciptakan iklim agrobisnis lebih baik ke depannya.

“Secara global, kami menginvestasikan Rp 50 miliar per hari yang digunakan untuk mengedepankan bidang pertanian ataupun berbagai benih melalui inovasi teknologi berkelas yang dapat menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, Syngenta Indonesia juga memiliki dua pabrik, seperti di Pasuruan, Jawa Timur dan di Gunung Putri, Jawa Barat. Pabrik di Pasuruan fokus untuk pengembangan benih, khususnya jagung. Sedangkan pabrik Gunung Putri fokus pada pengembangan crop chemical atau obat kimia untuk tanaman.

“Dengan kata lain, Site Syngenta di Gunung Putri merupakan site Formulation, Filling and Packing (FF&P) untuk produk perlindungan tanaman Syngenta,” ucap Parveen. Diany

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here