Beranda Sawit Kita Harus Bangga dengan ISPO

Kita Harus Bangga dengan ISPO

BERBAGI
Dirjen Perkebunan Kementan Bambang. (Bimo Agrofarm)

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong semua perusahaan sawit untuk mengikuti program sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO). Pasalnya ISPO merupakan pengakuan pasar terhadap produk sawit bahwa dilaksanakan dengan tata kelola ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Kementan Bambang mengatakan, ISPO merupakan suatu pengakuan pasar atas pengelolaan perkebunan kelapa sawit dengan baik dan diakui pasar Internasional. Kami ingin menjadikan ISPO lebih acceptable di dalam negeri maupun di pasar internasional, ujar Bambang.

Menurutnya, sertifikasi ISPO wajib dilakukan agar minyak sawit Indonesia dapat diterima dan memikili posisi tawar yang tinggi di pasar ekspor, serta pengelolaan perkebunan sawit Indonesia dapat dilakukan secara berkelanjutan.

“Dari Rp 11,9 juta hektar lahan sawit di Indonesia, baru 16,7% saja yang sudah bersertifikat ISPO. Capaian kita baru 14% untuk ISPO. Setelah penyerahan sertifikasi hari ini jadi 16,7%. Salahnya bukan di sekretariat, tetapi karena persyaratan yang memang harus banyak dipenuhi. Kita targetnya harus ISPO semua. Jika sudah ISPO, saya kira tidak ada yang mengatakan bahwa sawit kita tidak baik. Pasar luar negeri pun bisa menghargai produk sawit kita,” kata Bambang.

Menurutnya, penerapan ISPO juga sebagai langkah Indonesia menghadapi tudingan-tudingan negatif yang dialamatkan kepada sawit Indonesia. Isu tersebut yakni dari perusakan hutan hingga pelanggaran hak asasi manusia.

“Maka kita harus bangga dengan ISPO dan menghargai sertifikasi ini, karena kalau masih ada diantara kita ragu dan tidak yakin dengan ISPO. Maka jangan harapkan orang lain akan bangga dengan ISPO agar dunia internasional juga menghargai ISPO,” lanjut Bambang.

Dia menegaskan, kelapa sawit adalah kekuatan Indonesia, sawit menciptakan keseimbangan lingkungan. “Bung karno menyatakan, siapa yang menguasai pangan dan energy maka mereka lah yang menguasai dunia, dan siapapun yang menguasai dunia menjadi lawan bagi orang yang tdiak mau disaingi.” ujar Bambang saat menanggapi maraknya berita negative terkait industri kelapa sawit.

Karena itu, dia mengimbau kepada para pelaku usaha dan Sekretariat ISPO untuk terus melakukan percepatan sehingga sertifikasi ISPO dipercepat. “Untuk percepatan kita terus membuka diri kepada perusahaan yang ingin memberikan pengabdian terhadap wacana sertifikasi,” tegasnnya.

Bambang menuturkan, percepatan penerapan sertifikasi ISPO sangat penting. Hal ini mengingat hingga saat ini kelapa sawit masih menjadi komoditas emas perkebunan. Kelapa sawit sebagai sumber devisa juga memberikan kontribusi yang sangat besar untuk pembangunan nasional.

“Faktanya, Kelapa sawit juga sebagai penyedia lapangan kerja cukup banyak dan penyedia bahan pangan seperti minyak goreng, mentega dan shortening. Kemudian sebagai bahan baku energi nabati, sebagai pendorong pengembangan wilayah dan menjamin keseimbangan pelestarian lingkungan,” tegasnya.

Dia menambahkan, kelapa sawit Indonesia memberikan peran yang luar biasa bagi Indonesia. Pasalnya sawit menyumbang sumber devisa mencapai Rp 239,4 triliun. “Pada sektor perkebunan sawit secara khusus berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja lebih dari 82 juta jiwa kepala keluarga (KK),” katanya.

Oleh karena itu, untuk menjamin dan meningkatkan produksi kelapa sawit, Bambang menyebutkan Kementan saat ini tengah fokus juga memperbaiki kebun kelapa sawit rakyat yang luas totalnya 20.780 hektar yakni melalui program replanting. Pelaksanaan replanting perdana akan dilakukan pada September 2017 ini, yakni di daerah Musi, Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Pelaksana replanting ini kita harapkan benar-benar memperbaiki kelapa sawit rakyat. Saya mohon dukungan pelaku industri kelapa sawit sekiranya alokasi dan khususnya untuk replanting melalui BPDP Sawit agar petani sawit mengawal petani disekitarnya supaya bisa melaksanakan replanting secara swadaya sehingga benar-benar memberikan kesejahteraan untuk teman-teman petani. Ini merupakan salah satu tekad kita wujudkan nawacita,” tuturnya.

Hingga saat ini 551 pelaku usaha perkebunan telah mengikuti sosialisasi dan telah diterbitkan pengakuan sertifikat ISPO kepada 306 pelaku usaha atau 81,04%. Laporan Hasil Audit (LHA) yang diterima Sekretariat Komisi ISPO sebanyak 376 laporan, dalam proses verifikasi/Surat Pengantar Kelengkapan Dokumen (SKPD) dan ditunda sebanyak 70 laporan dan ada pula yang ditunda pengakuannya karena belum adanya kejelasan sebanyak 11 perusahaan.

Pada Agustus 2017 ini Komisi ISPO menyetujui 40 sertifikasi bagi perusahaan perkebunan dengan luas areal sebesar 202.427,17 Ha dan produksi CPO sebesar 539.265,88 ton. Sedangkan pada April Tahun 2017 lalu, tim sertifikasi telah menyetujui 40 sertifikasi bagi 38 perusahaan perkebunan sawit, 1 Koperasi Unit Desa (KUD) Plasma dan asosiasi kebun swadaya dengan luas areal sebanyak 249.543,37 hektare (ha) dan produksi CPO sebesar 861.425,82 ton.

Dengan demikian, jumlah sertifikasi ISPO yang diterbitkan dari tahun 2011 hingga tahun 2017 adalah 306 sertifikat dengan luas total 1.882.075 Ha dan total produksi CPO 8.147.013,63 ton. Beledug Bantolo