Beranda Pertanian Kementan Turunkan Tim Cegah Penyebaran Anthrax di Sulsel dan Gorontalo

Kementan Turunkan Tim Cegah Penyebaran Anthrax di Sulsel dan Gorontalo

82
BERBAGI
Pemberian vaksin Anthrax/Ist

Agrofarm.co.id-Dalam rangka mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit Anthrax di Sulawesi Selatan dan Gorontalo, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah mengerahkan Tim ke lokasi. Selain itu juga telah melakukan investigasi dan pengambilan sampel untuk pengujian laboratorium, serta memberikan bantuan vaksin dan obat-obatan.

Terkait dengan adanya kasus Anthrax di Sulawesi Selatan, berdasarkan laporan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros disampaikan bahwa kasus penyakit Anthrax di Sulawesi Selatan terjadi di Dusun Moncongjai, Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana. Sapi yang mati di lokasi tersebut hanya 3 ekor yaitu 1 ekor terjadi pada tanggal 8 Agustus 2017, 1 ekor pada tanggal 11 Agustus dan 1 ekor sapi pada tanggal 21 Agustus 2017.

Drh. Sulaxono, Kepala Balai Besar Veteriner Maros, salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknis ) Ditjen PKH, mengatakan bahwa pada tanggal 22 Agustus 2017 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros beserta pihak Kepolisian telah melakukan investigasi ke lapangan untuk mengetahui penyebab kematian ternak sapi dan melakukan pengambilan sampel potongan telinga ternak yang mati.

Dari sampel potongan telinga sapi yang mati tersebut selanjutnya dilakukan pengujian di Laboratorium Bakteriologi Balai Besar Veteriner Maros. “Berdasarkan hasil pengujian sampel tersebut pada tanggal 23 Agustus telah teridentifikasi dan diyakini adanya kuman Bacillus anthracis. Kuman Bacillus anthracis merupakan kuman penyebab penyakit Anthrax,” jelas Sulaxono dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/8/2017)

Berdasarkan laporan tersebut, Balai Besar Veteriner Maros pada tanggal 24 Agustus 2017 bersama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kabupaten Maros langsung melakukan gerak cepat mengerahkan Tim ke lapangan untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit Antrhax tersebut.

Tindakan yang telah dilakukan diantaranya: Pertama, melakukan isolasi terhadap sapi yang berada di daerah tersebut agar tidak digembalakan dan dibawa keluar dari Desa tertular. Kedua, pengobatan dan melaksanakan vaksinasi Anthrax. Ketiga, penyemprotan desinfektan pada tanah yang tercemar. Keempat, penguburan dan pembakaran terhadap bangkai sapi. Kelima, Public Awareness kepada masyarakat melalui TV, media cetak dan radio.

Bantuan vaksin dan obat-obatan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan telah diberikan kepada masyarakat pada tanggal 24 Agustus 2017 berupa vaksin Anthrax sebanyak 2.000 dosis, injectamin 10 botol, antibiotik sebanyak 14 botol, desinfektan 7 liter, obat cacing 2 pot dan formalin 5 liter.

“Vaksinasi massal juga telah dilakukan terhadap 300 ekor sapi dan pengobatan juga telah diberikan terhadap 118 ekor sapi,” ujar Sulaxono. Menurutnya, hingga saat ini kasus telah bisa dikendalikan dan tidak ditemukan kematian sapi.

Sementara itu, terkait dengan adanya kasus Anthrax di Gorontalo, Ditjen PKH Kementan pada tanggal 25 Agustus 2017 hingga 31 Agustus 2017 telah secara langsung melakukan gerak cepat dengan mengerahkan Tim yang diketuai oleh drh. Sulaxono Hadi (Kepala Balai Besar Veteriner Maros) dengan anggota drh. Faizal Zakaria MSc, drh. Titis Djatmikowati dan paramedik Faizal, serta Tim Pusat terdiri dari drh. Wahyu Eko dan drh. Ermawanto (Staf Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen PKH).

Tim telah turun ke lokasi kasus. Selain tim pusat , Tim Propinsi Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo juga turun ke lokasi yang terdiri dari drh. Fitasari Octaviany Tuna, drh. I.Ketut Bayu Kumat, drh. Asriena S. Dunggio dan drh. Zainul Alim.

Tim gabungan sampai saat ini masih melakukan kegiatan pengamanan dan pengendalian bersama Dinas dan Kepolisian setempat. Dalam investigasi yang dilakukan oleh Tim tersebut diperoleh laporan adanya 6 ekor sapi yang mati pada tanggal 28 Agustus 2017 milik seorang peternak bernama Usman Ismail di Kelurahan Bolihuangga dan Kelurahan Tenilo Kecamatan Limboto.

Pengambilan sampel terhadap ternak yang mati telah dilakukan oleh petugas Dinas untuk diperiksa secara cepat dengan pewarnaan sederhana di laboratorium kabupaten. Hasil pengujian cepat di laboratorium kabupaten menunjukkan adanya kuman batang papak yang diduga kuat merupakan kuman Bacillus anthracis.

Pada tanggal 30 Agustus 2017, saat Tim BBVet Maros dan Tim Direktorat Kesehatan hewan di lapangan menjumpai adanya 4 ekor sapi mati di kelurahan yang sama yang diduga terserang Anthrax. Pengambilan sampel telah dilakukan Tim untuk diuji di Laboratoriun Bakteriologi BBVet Maros.

Tim gabungan langsung melakukan tindakan cepat sebagai upaya mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit Antrhax di daerah ini. Selain itu, Pemerintah pusat melalui Timnya telah memberikan bantuan obat-obatan untuk peternak pada tanggal 30 Agustus berupa Limoxin 42 botol, Buposolamin 12 botol, serta Destan 12 botol.

Saat ini Tim masih di lokasi untuk melaksanakan investigasi, serta tindakan yang diperlukan di lapangan. Selain itu, pada hari ini Tim BBVet Maros bersama dengan Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo serta TNI juga melakukan pengawasan intensif di pasar, kios daging dan tempat pemotongan hewan (TPH, serta tempat penampungan hewan qurban di Kota Gorontalo. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here