Beranda Perkebunan Kementan Dorong Pengembangan Lada Putih di Bangka Belitung

Kementan Dorong Pengembangan Lada Putih di Bangka Belitung

BERBAGI

Agrofarm.co.id – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong program pengembangan lada putih di propinsi Bangka Belitung (Babel). Lada putih Bangka Belitung yang dikenal di pasar dunia sebagai Munthok White Pepper memiliki rasa sangat pedas dan berkadar peperin tertinggi di dunia, sehingga menjadikannya lada dengan harga termahal di dunia.

Bambang Direktur Jenderal Perkebunan Kementan mengatakan, selama lima tahun terakhir harga lada khususnya lada putih fluktuatif, namun cenderung meningkat dari waktu ke waktu, bahkan pernah mencapai sekitar Rp 180.000 per kilogram (kg). Ini harga tertinggi yang pernah dicapai selama ini. Meskipun, pada akhir 2016 terjadi penurunan berada di kisaran Rp 115.000 – Rp130.000 per kg.

Untuk mendukung pengembangan lada putih Bangka Belitung, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian meluncurkan berbagai program melalui peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman secara terintegrasi dan berkelanjutan.

“Langkah-langkah yang dilakukan meliputi pengembangan komoditi (rehabilitasi, intensifikasi dan diversifikasi), peningkatan kemampuan sumberdaya manusia, pengembangan kelembagaan dan kemitraan usaha, peningkatan investasi usaha serta pengembangan sistem informasi,” jelas Bambang dalam siaran persnya, Rabu (26/4/2017).

Selain itu, katanya, dalam peningkatan kemampuan sumber daya manusia, pihaknya mendorong pemberdayaan petani dan penguatan kelembagaan melalui pelatihan asistensi dan pendampingan.

Ditjen Perkebunan juga bekerja sama dengan Badan Litbang Pertanian dalam memperkenalkan inovasi dalam budidaya lada. Salah satu yang diperkenalkan adalah integrasi lada dan ternak dengan pemanfaatan tajar hidup sebagai pakan ternak. “Pengintegrasian diharapkan dapat mendorong pengembangan dua komoditas ini secara berkesinambungan,” tandasnya.

Di samping itu, pihaknya juga memperkenalkan teknologi pembibitan stek lada satu ruas di polybag. Sistem pembibitan seperti ini dapat  menghasilkan bibit unggul dan lebih adaptif  dibandingkan dengan teknik tradisional yaitu menanam langsung di lapangan benih stek lada 7 ruas. “Teknologi pembibitan tersebut berkembang pesat dengan tumbuh dan berkembangnya penangkar dan pelaku usaha benih lada yang dikelola baik kelompok pemuda maupun petani lada,” paparnya.

Adapun usahatani lada putih di Babel masih jauh lebih menguntungkan dibandingkan  komoditi lain. Dengan memperhitungkan produktivitas lada di Bangka Belitung yang rata-rata mencapai 1,5 ton/ha/tahun. Sementara harga Rp 120.000 per kg, maka pendapatan kotor yang diterima petani Rp 180 juta.

“Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 40 juta per hektar/tahun. Dengan demikian, pendapatan bersih petani lada sebesar Rp140 juta per tahun,” ujarnya. Beledug Bantolo