Beranda Pertanian Kementan Bakal Cabut Pengakuan Keamanan Pangan AS

Kementan Bakal Cabut Pengakuan Keamanan Pangan AS

BERBAGI
Ilustrasi

Agrofarm.co.id – Pada 3 Februari 2015 Badan Karantina Pertanian (Barantan) menyita empat kontainer buah apel jenis granny yang datang dari AS. Dari hasil pengujian laboratorium bahwa apel itu positif mengandung bakteri Listeria Monocytogenes.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini mengatakan, ada kontainer buah apel yang terdeteksi ada bakteri Listeria Monocytogenes. Satu kontainer berisi 20 ton apel, diperkirakan ada 40 ton apel dalam kontainer yang pemasukkannya melalui Pelabuhan Tanjung Priok. “Adapun, hasil sample yang diteliti menunjukkan buah dalam kontainer itu positif terjangkit penyakit Listeria Monocytogenes,” ujar Banun.

Banun menegaskan, dari hasil temuan itu pihaknya segera memusnahkan buah apel tersebut. Sekarang dalam proses penolakan. “Kita tunggu sampai 14 hari. Jatuh temponya tanggal 20 februari. Apabila melewati tanggal itu, kontainer berisi buah itu akan tidak kita musnahkan,” tegas Banun di kantor Kementerian Pertanian.

Alhasil pihaknya memperluas pemeriksaan yang sangat ketat tidak hanya pada pemasukkan buah apel, namun diperluas terhadap buah dan sayuran yang diimpor dari Amerika Serikat. Jenis buah tersebut antara lain pir, peach dan plum. “Pasalnya bakteri listeria juga dapat hidup pada sayuran, susu dan buah. Namun, impor sayur, susu dan buah sangat jarang dilakukan dari Amerika, sehingga pihaknya fokus pada pemeriksaan buah saja,” tandasnya.

Banun menambahkan, Kementan juga akan mencabut pengakuan sistem keamanan pangan untuk buah asal Amerika Serikat, apabila ditemukan tiga bukti produk hortikultura asal Negeri Paman Sam positif terdeteksi bakteri Listeria Monocytogenes.

Dia mengatakan pihaknya baru menemukan satu bukti berupa dua kontainer yang berisi apel berbakteri dari Amerika Serikat. Kontainer tersebut baru saja tiba pada tanggal 3 Februari atau setelah adanya pelarangan pemasukan buah apel jenis gala dan granny ke Indonesia. “Aturannya ada 3 evidence. Ini sekarang baru satu kali,” ujar banun.

Banun mengungkapkan, Kementan sedang mempersiapkan Peraturan Menteri Pertanian terkait pencabutan sanitary and phytosanitary (SPS). “Ke depan ada aturan untuk mencabut recognisi (pengakuan) sistem keamanan pangan,” tandasnya.

Dia menambahkan, Kementan sudah mengirim surat ke Kementerian Pertanian Amerika Serikat The United States Department of Agriculture (USDA) pada 10 Februari terhadap rencana Indonesia untuk memperketat pemasukan buah dan sayur asal AS.

Meskipun, katanya, diprotes oleh pihak AS, akan tetapi demi keamanan pangan terhadap produk segar dan sehat yang amsuk Indonesia ini harus dilakukan. “Kalau sudah seperti itu Amerika yang menjunjung tinggi asas kemanan pangan seharusnya mengerti,” ujar Banun.

Banun mengatakan, dalam perjanjian SPS dinyatakan bahwa setiap negara berhak untuk melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan dari berbagai penyakit atau hama yang kemungkinan dapat menular. baik menular ke manusia maup perdagangan komoditas

Badan Karantina Pertanian sebagai institusi pengawasan lalu-lintas komoditas tumbuhan dan hewan di Indonesia. Ini sesuai amanah UU No.16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan ini melakukan pengawasan keamanan hayati di pelabuhan, bandara atau dibatas negara terhadap buah dan sayuran segar yang berasal dari luar negeri.

Pada taggal 21 Januari 2015 kami telah menerima notifikasi dari USDA bahwa pemerintah AS secara sukarela melakukan penarikan dan meminta kepada mitra dagang mengambil langkah-langkah untuk pencegahan penyakit Listeriosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Listeria Monocytogenes pada caramel apple brand diantaranya happy apel, carnival dan merb’s candy.

“Potensi terkontaminasi bakteri itu diduga bisa berasal dari kebun apel sampai tempat packing house. Perusahaan packing house Bidart Bros California di AS, akhirnya menarik secara sukarela produknya dari pasaran mulai buah segar sampai produk olahannya,” katanya.

Kejadian terjadi pada karamel, apple brand atau produk olahan karamel dari buah apel. Diantaranya happy apple, karnival dan merb’s candy. Sementara itu untuk apel segar belum ditemukan laporan yang mebahayakan, namun demikian satu packing house AS Bidakbros berlokasi di California secara sukarela menarik produknya granny smith dan gala dari pasaran.

Data Centre of Disease Control (CDC) USA menunjukan pada januari 2015 ada 32 pasien yang terinfeksi Listeria dan 3 orang meninggal dari 11 negara bagian AS.

Sementara itu, buah apel asal AS yang masuk ke Indonesia dari periode 25 Desember 2014 sampai 25 Januari 2015 sebesar 41,041 ton. Ini kuarng lebih 30% dari total apel yang masuk pada periode yang sama ke Indonesia sebesar 145.225 ton.

AS menjadi salah satu eksportir apel terbesar ke Indonesia. Di tahun 2014 saja, AS mengirimkan 40.850 ton apel ke Indonesia. Pada 2013 tercatat sebesar 31.528 ton, kemudian sebanyak 52.729 ton di 2012 dan 50.983 ton di 2011.

Banun menamabahkan, sejak 22 janurai 2015 pihaknya menginstruksikan kepada seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk memperketat pengawasan dan melakukan pengujian laboratorium terhadap apel impor AS. Selain itu, Brantan sudah mengirimkan surat resmi kepada pemerintah AS tentang langkah-langkah pemerintah Indonesia. Pertama, melakukan pengujian laboratorium terhadap kontaminasi Listeria monocytogenes pada seluruh buah apel dan jenis buah lainnya yang berasal dari AS yang masuk ke wilayah Indonesia.

Kedua, apabila ditemukan bukti positif kontaminasi bakteri ini, maka akan dilakukan tindakan penolakan. Ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang karantina. Pihaknya juga mengajak kepada masyarakat dengan kasus ini agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi buah atau sayuran impor mengingat buah tersebut mengalami masa simpan yang cukup lama.

“Dianjurkan menjaga kebersihan dengan mencuci produk buah dan sayuran impor yang akan dikonsumsi. Kemudian marilah mengkonsumsi buah lokal yang lebih sehat dan segar ketimbang buah impor,” ujar Banun. (Beledug Bantolo)