Beranda Industri & Keuangan Kemenperin Gandeng 117 Perusahaan dan 389 SMK di Jateng dan Jogja

Kemenperin Gandeng 117 Perusahaan dan 389 SMK di Jateng dan Jogja

175
BERBAGI
Airlangga Hartarto bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memberikan semangat dan beryel-yel bersama para peserta diklat 3-in-1 pada peluncuran program pendidikan vokasi industri se-Jawa Tengah dan DI Yogyakarta di Semarang/hms

Agrofarm.co.id-Kementerian Perindustrian mampu menggandeng sebanyak 117 perusahaan untuk menandatangani perjanjian kerja sama dengan 389 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam upaya menjalankan program pendidikan vokasi industri di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

Langkah ini bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan dunia usaha saat ini sekaligus mendorong pemerataan ekonomi.

“Di era persaingan global sekarang ini, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci sukses pelaku industri bisa untuk bersaing dan memenangkan kompetisi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peluncuran Program Pendidikan Vokasi Industri (link and match industri dengan SMK) wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta di Semarang, Jumat (21/4/2017).

Menurutnya, sektor industri membutuhkan tenaga kerja yang kompeten, tidak saja dari keilmuan, tetapi lebih diutamakan penguasaan keterampilan dan attitude dalam bekerja. “Kebutuhan ini diharapkan bisa dipasok dari pendidikan, khususnya pendidikan vokasi baik tingkat menengah maupun pendidikan tinggi,” tuturnya.

Pada tahap pertama, peluncuran program pendidikan vokasi industri telah dilaksanakan tanggal 28 Februari 2017 di Mojokerto, melibatkan sebanyak 50 perusahaan dan 234 SMK di Jawa Timur. Sebagai tindak lanjutnya, telah dilakukan penyelarasan kurikulum untuk 18 kompetensi keahlian bidang industri antara SMK dengan perusahaan.

Selanjutnya, Kemenperin menargetkan program pembinaan dan pengembangan SMK yang link and match dengan industri, dengan  sasaran sebanyak 1.775 SMK  dengan  845.000 siswa yang akan dikerjasamakan dengan 355 perusahaan sampai tahun 2019. “Untuk itu, selanjutnya akan diluncurkan secara bertahap program serupa, di provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten, serta di Sumatera dan wilayah Indonesia lainnya,” sebut Airlangga.

“Pada dasarnya ini adalah investasi industri terhadap SDM, karena jika pendidikan vokasi yang ada di Indonesia bisa menghasilkan SDM yang kompeten sesuai kebutuhan industri, maka benefit tersebut akan kembali pada perusahaan,” paparnya.

Pada kesempatan ini, Menperin menyampaikan apresiasi kepada para pelaku usaha yang telah antusias dan berkomitmen untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan vokasi di Indonesia, salah satunya melalui program pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri.

Sedangkan, kepada para kepala SMK yang telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan, Menperin berharap agar dapat memanfaatkan peluang yang ada untuk mengembangkan sekolahnya. “Selanjutnya, saya meminta Pusdiklat Industri Kemenperin sebagai pelaksana untuk terus mengawal dan memantau pelaksanaan di lapangan dan kami mohon Kementerian terkait untuk mendukung program ini sesuai dengan kewenangan masing-masing,” tegasnya.

Program ini diluncurkan oleh Menperin bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Selain itu juga dihadiri Anggota Komisi VI DPR RI serta pejabat di lingkungan Kemenperin dan pemerintah daerah.

Bahkan, Kemenperin akan menyiapkan dana sekitar Rp500 juta untuk masing-masing SMK di Indonesia sebagai upaya memperbarui beberapa fasilitas pembelajaran yang dinilai sudah tertinggal dua generasi dibandingkan industri saat ini. “Ini sedang dibahas di Kementerian Keuangan, dananya dari APBN. Ditujukan untuk pembaruan teknologi peralatan,” ujar Airlangga.

Kemenperin juga menjajaki kerja sama vokasi dengan sejumlah negara, termasuk Perancis, Swiss, dan Singapura. Bentuk sinergi tersebut yang dilakukan adalah pengembangan sistem pendidikan vokasi dengan konsep dual system, yakni pendekatan pendidikan yang tidak hanya belajar teori, tetapi juga lebih menekankan pada praktek lapangan.

Untuk meningkatkan keterlibatan perusahaan dan memastikan keberlanjutan program link and match dengan SMK, Kemenperin telah menyusun skema insentif bagi perusahaan yang terlibat dan diusulkan penetapannya oleh Kementerian Keuangan. “Industri ini diharapkan bisa bekerjasama dengan lima SMK, kemudian juga memberikan pengajaran ke SMK,” tutur Airlangga. irsa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here