Beranda Uncategorized Kampung Tajur, Desa Wisata Berbasis Ekoturisme

Kampung Tajur, Desa Wisata Berbasis Ekoturisme

BERBAGI
Desa Wisata Kampung Tajur ini telah dibangun sejak 2004/hms

Agrofarm.co.id-PURWAKARTA memiliki banyak potensi wisata yang menarik dikunjungi. Salah satunya Desa Wisata Kampung Tajur. Berlokasi di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Bojong ini menawarkan konsep wisata berbasis ekoturisme dan kearifan lokal.

Di mana alam, lingkungan, dan budaya menjadi objek utama dari wisata ini. Mungkin memang belum se-familiar kawasan Puncak Bogor atau daerah Bandung, namun dengan konsep wisata yang ditawarkan, rasanya tempat ini sangat cocok untuk Anda yang membutuhkan ketenangan dari hiruk-pikuk perkotaan.

Desa Wisata Kampung Tajur ini telah dibangun sejak 2004. Untuk berkunjung ke Desa Wisata Kampung Tajur cukup mudah, jika datang dari arah Jakarta hanya butuh waktu 2,5 jam untuk sampai di tempat tujuan. Jarak tempuhnya sekitar 35 kilometer dari pusat kota Purwakarta.

Dari pusat kota Purwakarta ambil jalur menuju Kecamatan Darangdan. Setelah sampai di pertigaan Sawit Kecamatan Darangdan, belok kiri. Kemudian, ikuti jalan tersebut sampai bertemu dengan gapura dan papan petunjuk Madrasah Aliyah. Tidak jauh dari gapura, pada ujung jalan ada Kantor Desa Pesanggrahan. Dari kantor desa itu jarak ke Kampung Tajur kurang lebih hanya 1 kilometer.

Mulai memasuki Kampung Tajur, sepanjang perjalanan mata kita dimanjakan dengan pemandangan Gunung Burangrang yang dikelilingi persawahan hijau. Ditambah hembusan udara yang sejuk, serta gemercik air gunung yang mengalir ke rumah-rumah warga, semakin menambah kesan asrinya desa ini.

Sesampainya di Kampung Tajur, kita akan melihat rumah-rumah berbentuk panggung. Penduduk di sini menyebutnya dengan istilah rumah adat Julang Ngapak. Rumah adat berbentuk panggung ini memiliki kontruksi rumah yang terdiri dari kayu dan anyaman bambu sebagai bahan utamanya. Rumah adat inilah yang biasanya digunakan para pengunjung untuk menginap dan mengikuti program homestay.

Homestay di rumah adat, menjadi program unggulan yang ditawarkan Desa Wisata Kampung Tajur ini. Setidaknya dari 120 rumah yang ada di Kampung Tajur, terdapat 42 rumah yang biasa dijadikan tempat homestay.

Setiap rumah memiliki dua kamar yang bisa digunakan para pengunjung. Masing-masing kamarnya rata-rata berukuran 2×3 meter, jadi bisa ditempati 1-2 orang. Pengunjung bebas memilih rumah mana yang ingin ditempati, selama rumah itu belum ditempati pengunjung lain.

Layaknya tinggal di pedesaan, di program homestay ini pengunjung akan mengikuti aktivitas dari sang pemilik rumah. Misalnya sang pemilik rumah adalah seorang petani, maka kita akan ikut pergi ke kebun untuk bercocok tanam. Begitupun misalnya sang pemilik rumah adalah peternak, maka kita juga akan ikut menggembalakan hewan ternaknya di padang rumput. Tentunya, aktivitas seperti ini akan membuat pengalaman Anda berkesan.

Tinggal menetap di Kampung Tajur, kita akan mendapatkan bonus. Bonusnya adalah bisa menyaksikan kearifan lokal yang masih terjaga. Salah satunya adalah tradisi Tetunggulan. Tetunggulan merupakan suatu kegiatan tradisional menumbuk padi dalam suatu tempat yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian. Kegiatan Tetunggulan ini biasanya dimainkan oleh ibu-ibu berusia senja.

Selain tetunggulan, kearifan lokal yang masih bisa kita saksikan di Kampung Tajur adalah kegiatan memasak dengan memakai peralatan tradisional (kayu bakar). Meski pun ada juga yang sudah menggunakan gas bantuan dari pemerintah, tapi mayoritas masyarakat di sini masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak. Kearifan lokal seperti ini tentunya semakin membuat Anda bersyukur bisa berkunjung di Kampung Tajur.

Di luar program homestay dan kearifan lokal yang bisa kita nikmati, Desa Wisata Kampung Tajur juga menawarkan program-program lainnya. Seperti menangkap ikan di empang, pelatihan membuat kerajinan tangan dari barang bekas, hingga tracking menelusuri tempat-tempat dengan pemandangan bagus untuk berfoto ria. Semuanya ini bisa dinikmati pengunjung tanpa harus menguras kocek yang besar.

Untuk setiap masing-masing program di Desa Wisata Kampung Tajur sebenarnya belum ada tarif yang baku. Namun biasanya untuk program homestay pengunjung cukup membayar uang sebesar Rp200 ribu sampai dengan Rp300 ratus ribu per orang. Uang ini sudah termasuk biaya konsumsi yang kita makan selama tinggal di homestay.

Sedangkan untuk program tambahan seperti menangkap ikan di empang dan pelatihan kerajinan tangan dari barang bekas, pengunjung perorang biasanya membayar kisaran Rp50 ribu sampai dengan Rp100 ribu untuk tiap jenis kegiatan.

Untuk saat ini, memang Desa Wisata Kampung Tajur belum banyak dikenal. Tapi jika melihat potensi yang ditawarkan, Desa Wisata Kampung Tajur Purwakarta bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu liburan dengan sudut pandang yang baru.(adv)