Beranda Pertanian Jelang Natal, Stok Cabai dan Bawang Merah Aman

Jelang Natal, Stok Cabai dan Bawang Merah Aman

97
BERBAGI
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono (tengah)/ist

Agrofarm.co.id-Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) optimis mampu menjaga stabilitas stok dan harga komoditas aneka cabai dan bawang merah jelang hari besar Natal 2017 dan tahun baru 2018.

“Ditjen Hortikultura sudah amankan produksi, bahkan ada indikator suprlus. Ini petani champion saya, kita bersama-sama menjaga produksi,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono dalam siaran persnya, Senin (18/9/2017).

Untuk cabai rawit, prognosis ketersediaan sebanyak 78.606 ton pada September 2017, sedangkan kebutuhannya 73.197 ton. Bulan Oktober, ketersediaan 77.983 ton dan kebutuhan 69.615 ton. Sementara, di November nanti ketersedian mencapai 77.792 ton dan kebutuhan 69.344 ton.

Lalu, prognosis cabai besar di September ini untuk ketersediaan sebesar 100.373 ton dan kebutuhan 91.469 ton. Pada Oktober, ketersediaan 100.373 ton dan 91.468 ton kebutuhannya. Sedangkan pada November nanti diperkirakan ketersediaan mencapai 100.464 ton dan kebutuhan 92.340 ton.

Adapun untuk komoditas bawang merah, prakiraan ketersediaan pada September sebesar 108.987 ton dan 100.291 ton kebutuhannya. Ketersediaan di Oktober sekitar 108.987 ton dan kebutuhan 99.374 ton. Kemudian, November nanti ketersediaan 111.464 ton dan kebutuhan 100.517 ton.

Spudnik menerangkan, tingginya produksi aneka cabai dan bawang merah tersebut dapat di atas kebutuhan nasional, karena Ditjen Hortikultura telah melakukan berbagai upaya secara berkesinambungan. Misalnya, menambah luas areal tanam, membentuk petani champion di sejumlah daerah sebagai sentra produksi baru, mengatur pola tanam, pemberian bantuan berupa pupuk dan benih hingga alat dan mesin pertanian (alsintan).

“Saya harus amankan terus manajemen tanam menjadi dasar untuk pastikan suplai pasokan. Kedua, untuk menjamin manajemen tanam, harus ada infrastruktur, sarana prasarana (sapras) dipenuhi. Saya lakukan semua dan tentunya tiap daerah berbeda-beda. Kemampuan kita juga berbeda-beda,” paparnya.

Dari aspek harga, kata peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya Malang ini, juga tidak ada kenaikan signifikan di tingkat konsumen. Justru, tren yang terjadi adalah menurunnya harga jual di tingkat petani dalam beberapa bulan terakhir, khususnya komoditas cabai.

Menurutnya, banyak faktor yang mempengaruhi turunnya harga jual di tingkat petani. Satu diantaranya adalah panjangnya rantai distribusi.

Bulog diminta serap hasil panen

Karenanya, dalam rangka menjaga kesejahteraan petani melalui perbaikan harga jual, Ditjen Hortikultura sudah menyiapkan rencana jangka pendek dan panjang. Solusi jangka pendek yang diterapkan adalah dua kali bersurat ke Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) agar menyerap produksi petani.

“Surat saya pertama tanggal 7 September. Surat kedua, baru dikirim kemarin (17/9/2017). Intinya sama, meminta (Bulog, red) segera serap, lakukan pembelian di sentra-sentra yang harganya tidak tinggi,” ungkapnya. Penugasan kepada Bulog itu sesuai amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 48 Tahun 2016 dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2017.

Cara lain yang ditempuh Ditjen Hortikultura adalah mendorong Toko Tani Indonesia (TTI) untuk segera meningkatkan penjualan cabai petani, berkomunikasi dengan pelaku industri, mendorong peningkatkan pengolahan cabai menjadi produk bernilai tinggi, serta memperpendek rantai pasok dengan menghubungkan pedagang pengecer dan petani produsen.

Sementara itu, solusi jangka panjang yang dilakukan Ditjen Hortikultura adalah sosialisasi teknologi budidaya rendah pestisida atau ramah lingkungan guna mengurangi biaya produksi hingga 25 persen, menggalakkan mekanisasi pertanian (mektan) agar biaya tenaga kerja turun dan efisiensi sampai 30 persen, membangun mitra kerja sama permanen dengan industri makanan, mendorong disiplin petani dalam penerapan manajemen tanam sepanjang tahun, serta peningkatan kapasitan petani terkait pengolahan hasil panen cabai guna tahan lama dan bernilai jual tinggi.

“Saya juga berharap adanya dukungan daerah, supaya komoditas hortikultura ada kepastian harga. Apalagi, di sana kan ada Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” tutup peraih tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya XX ini. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here