Beranda Pertanian Jelang Idul Adha, Pasokan Cabai Aman

Jelang Idul Adha, Pasokan Cabai Aman

73
BERBAGI
Pasokan cabai melimpah/Ist.

Agrofarm.co.id-Menjelang Hari Raya Idul Adha, ketersediaan cabai aman dan terkendali. Bahkan pasokan yang melimpah karena masa panen dapat memicu turunnya harga cabai di beberapa wilayah khususnya di Pulau Jawa.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) ketersediaan cabai rawit merah pada Agustus 2917 sebanyak 81.864 ton, sementara kebutuhan 73.197 ton, maka ada surplus 8.667 ton.

Bulan September, ketersediaan cabai sebesar 78.606 ton, sedangkan kebutuhan 69.615 ton, sehingga surplus 8.991. Kemudian bulan berikutnya Oktober, cabai surplus hingga 8.669 ton. Ada ketersediaan mencapai 77.983 ton dan kebutuhan 69.314 ton.

“Bahkan ketersediaan aneka cabai mulai Agustus, September sampai Oktober nanti dapat dikatakan mencukupi, bahkan surplus jika dibandingkan dengan kebutuhan secara nasional,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Spudnik Sudjono dalam siaran persnya, Selasa (22/8/2017).

Selain itu, produksi cabai besar masih surplus sampai Oktober nanti. Ketersediaan di Agustus 104.148 ton, kebutuhan 95.328 ton, sehingga ada surplus 8.820 ton. “Pada September ketersediaan cabai besar 100.378 ton, kebutuhan 91.469 ton, surplus 8.904 ton. Sedangkan di Oktober surplus 8.905 ton. Ketersediaan mencapai 100.373 ton dan kebutuhan hanya 91.468 ton,” jelas Spudnik Sujono.

Untuk itu, katanya, manajemen tanam diatur dalam rangka menjaga agar ketersediaan dapat berlangsung setiap bulan dan sepanjang tahun, sehingga pertanaman terjaga setiap saat. “Hal ini telah disepakati bersama antara Dirjen Hortikultura dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam mengatur pola tanam di lapangan,” tandasnya.

Dia menambahkan, pola tanam juga turut diatur dengan mematok target luas untuk mengantisipasi permintaan. Sehingga fluktuasi yang timpang bisa diatasi dengan memeratakan produksi antarbulan sekaligus menyebar di banyak daerah sentra.

“Untuk panen bulan Agustus telah dirancang dan diperoleh dari luas tanam pada bulan Mei seluas 16.878 hektare (ha) dan panen bulan September telah dirancang dan disiapkan dari areal tanam pada bulan Juni seluas 15.976 ha,” tutur Spudnik.

Guna mengantisipasi turunnya harga cabai, lanjutnya, dengan menerapkan pola kemitraan antara petani dengan pedagang cabai besar dan industri pengguna cabai.

“Pola kemitraan ini yang kita lakukan untuk atasi harga cabai, termasuk untuk solusi jangka panjang. Beberapa pola kemitraan yang sudah kita dorong selama ini diharapkan mampu mengatasi masalah cabai. Kita buat kemitraan antara produsen bubuk cabai, produsen sambal, dan kemitraan petani langsung ke konsumen lewat Toko Tani. Jadi cabainya petani dibeli langsung, ada kontraknya,” ungkap Spudnik.

Pola kemitraan juga dilakukan melalui petani-petani andalan yang dikategorikan sebagai petani champion. Petani champion berkoordinasi dengan industri sehingga cabai di tingkat petani bisa terserap maksimal. ]

“Saat ini misalnya, champion di Magelang sudah membangun kerjasama dengan industri, khususnya untuk cabai rawit merah. Kerja sama dilakukan antara lain dengan rumah makan dan industri kecil lainnya,” terang Spudnik. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here