Beranda Perkebunan IRCo Dorong Skema Alokasi Ekspor Karet Alam

IRCo Dorong Skema Alokasi Ekspor Karet Alam

238
BERBAGI
Petani karet. (Ist)

Agrofarm.co.id – International Rubber Consortium Limited (IRCo) mendorong Skema Alokasi Ekspor Karet (Agreed Export Tonnage Scheme/AETS) untuk menstabilkan harga yang sehat serta menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Sementara Pasar Karet Regional (Regional Rubber Market/RRM) merupakan upaya alternatif untuk mekanisme penemuan harga karet alam.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan hari ini, Selasa (2/5/2017) sesuai dengan fokus Rapat Umum Tahunan Direksi IRCo dengan para pemangku kepentingan. Rapat telah digelar pada 20-21 April 2017 di Bangkok, Thailand.

“Gejolak harga karet alam dunia yang terjadi selama ini tidak mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya. Harga terbentuk penuh spekulasi berlebihan yang merugikan produsen dan konsumen. Hal ini cukup menimbulkan kekhawatiran dan tidak memberikan dampak berarti pada kesejahteraan petani maupun biaya bisnis,” jelas Oke.

IRCO merupakan badan yang melakukan strategi operasi pada pasar karet, terutama stabilisasi harga. IRCo didirikan berdasarkan nota kesepahaman di antara tiga negara produsen utama karet alam, yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Harga karet alam yang lebih mencerminkan kondisi fundamental akan bermanfaat bagi produsen maupun konsumen. IRCo sangat memperhatikan keberlanjutan pasokan karet alam. Secara alamiah, pohon karet membutuhkan tujuh tahun untuk matang sebelum bisa disesuaikan, sedangkan karet sintesis hanya butuh beberapa hari untuk melanjutkan operasi.

Harga karet alam sering dibandingkan dengan karet sintetis karena adanya potensi substitusi. Pada 2017, harga karet alam turun 16,6% dari USD 208,88 sen/kg (2 Januari 2017) menjadi USD 174,17 sen/kg (19 April 2017).

Penurunan tajam harga karet alam lebih tinggi dari karet sintesis (6,7%) dan komoditas lainnya seperti minyak mentah (3,6%) dan Goldman Sachs Commodity Index (0,4%). Spekulasi berlebihan yang menyebabkan volatilitas harga ekstrem pada akhirnya akan menyebabkan biaya bisnis lebih tinggi karena kebutuhan untuk mengatasi volatilitas melalui berbagai sarana keuangan.

Kondisi mendasar yang memengaruhi harga karet alam adalah pasokan, permintaan, dan persediaan. Tahun ini, IRCo memperkirakan produksi karet alam di negara-negara penghasil utama menurun, terutama Thailand karena kondisi cuaca yang tidak menentu.

Pantai Timur Thailand Selatan merupakan kawasan perkebunan karet utama yang menyumbang sekitar 60% dari keseluruhan areal perkebunan di Thailand. Tiga bulan pertama tahun ini, curah hujan di wilayah ini meningkat secara drastis hingga 400%. Curah hujan berkepanjangan yang tidak biasa di wilayah ini, terutama di Thailand Selatan, telah menyebabkan berkurangnya produksi.

Menurut ahli perkebunan, karet perubahan cuaca yang tidak menentu selama musim dingin bisa mengurangi produksi karet hampir 10%. Oke juga menyampaikan catatan lain Dewan Direksi IRCo, produksi secara langsung berhubungan dengan intensitas penyadapan. Jika harga terlalu rendah, intensitas penyadapan akan berkurang, karena penyadap akan mencoba mencari sumber pendapatan alternatif.

Negara-negara seperti India, Indonesia, dan Malaysia memiliki harga yang sensitif. Para penyadap karet dapat mencari sumber pendapatan alternatif yang pada akhirnya dapat menyebabkan ditinggalkannya lahan pertanian saat harga rendah.

Berdasarkan data ANRPC Natural Rubber Trends and Statistics (Maret 2017) menyebutkan, harga komposit harian IRCo/DCP (harga rata-rata yang terintegrasi TSR20 dan RSS3), pada kuartal pertama 2015 sebesar USD 154,90/kg. Produksi India sebanyak 135 ribu ton, Indonesia 777 ribu ton, dan Malaysia 216,8 ribu ton.

Pada kuartal pertama 2016, harga karet alam USD 121,10/kg. Produksi India sebanyak 122 ribu ton, Indonesia 765,1 ribu ton, dan Malaysia 187,7 ribu ton. Pada kuartal pertama 2017, harga karet alam mencapai USD 228,28/kg. Produksi India sebanyak 161 ribu ton, Indonesia 840 ribu ton, dan Malaysia 185,6 ribu ton. Diany

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here