Beranda Pertanian Inilah Jurus Kementan Antisipasi Serangan WBC dan Virus Kerdil di Subang

Inilah Jurus Kementan Antisipasi Serangan WBC dan Virus Kerdil di Subang

86
BERBAGI
Kepala Badan Litbang Pertanian Muhammad Syakir melakukan kunjungan ke Subang Jawa Barat/ist

Agrofarm.co.id-Berdasarkan data dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) per 16-31 Agustus 2017 dengan standing crop seluas 64.003 hektare (ha), tercatat luas serangan yang terkena hama Wereng Batang Coklat (WBC) sekitar 227 ha (0,35%), virus kerdil hampa seluas 33 ha (0,05%), dan virus kerdil rumput seluas 40 ha (0,06%).

Adapun Kabupaten Subang merupakan salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat. Kabupaten ini mempunyai luas baku sawah sebesar 84. 570 ha, yang tersebar di 30 kecamatan. Areal sawah terluas berada di Kecamatan Ciasem, Patokbeusi, dan Blanakan, sedangkan Compreng luas baku sawahnya 6.210 ha.

Pertanaman padi sawah di Kecamatan Compreng pada Musi Tanam II 2017 mencapai 4.838 ha yang terdiri dari delapan desa. Salah satu desa yang tidak mengalami masalah dengan kondisi pertanaman pada musim ini adalah Desa Mekarjaya yang sebelumnya telah melakukan eradikasi pertanaman seluas 500 ha akibat serangan virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Eradikasi menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi dalam pengendalian virus kerdil dan terbukti pada pertanaman padi yang saat ini berumur 21 hari di desa ini terkendali dengan baik.

Menurut Ketua KTNA Warsono mengatakan, musim tanam saat ini, serangan penyakit di Kecamatan Compreng cukup tinggi, terutama virus kerdil tetapi berkat pengawalan dan rekomendasi dari Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian (BB Padi dan BPTP Jawa Barat) serta petugas lapangan POPT. Alhamdulilah pertanaman di Desa Mekarjaya aman dan tumbuh lebih sehat, ujar Warsono dalam siaran persnya, Minggu (10/9/2017) .

Rekomendasi anjuran meliputi tanam serempak, penggunaan varietas unggul tahan wereng produksi tinggi serta pemasangan lampu perangkap dimaksudkan untuk memonitor keberadaan hama sekaligus pengendalian.

Dia menambahkan, Badan Litbang, Kementerian Pertanian (Kementan) juga melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada petugas dan gapoktan tentang pengendalian WBC dan virus kerdil. Selain itu, ada juga demplot hasil inovasi berupa varietas unggul baru tahan WBC.

Menikdaklanjuti laporan tersebut, Kepala Badan Litbang Pertanian Muhammad Syakir menverifikasi dengan melakukan kunjungan dan melihat langsung kondisi pertanaman di tiga desa Kecamatan Compreng yaitu Desa Mekarjaya, Desa Jatireja, dan Desa Sukadana. Dalam kunjungannya, Kepala Badan berdiskusi dengan para petani, ketua Gapoktan dan Ketua KTNA di Kecamatan tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah, dan jika para petani ingin berhasil dalam menanam padi, anut pertanian modern sesuai anjuran Kementerian Pertanian, lakukan tanam serempak dan lakukan pergiliran varietas dengan menanam varietas tahan wereng seperti Inpari 33, Inpari 42 dan Inpari 43 , hasil Litbang Pertanian, ungkap Syakir.

Dia menambahkan, kendala yang sekarang dihadapi adalah sulitnya petani di Kecamatan Compreng untuk beralih menggunakan varietas unggul sesuai yang direkomendasikan, dan masih banyak yang menanam varietas padi ketan varietas Grendel dan IR 42 yang rentan WBC.

Masalah lain, petani di wilayah tersebut belum melakukan tanam serempak. Sebagai bentuk aksi nyata pada kunjungan di Kecamatan Compreng ini Kepala Badan menyerahkan bantuan benih varietas unggul baru yang tahan terhadap WBC yaitu Inpari 33, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 43 Agritan GSR dan pestisida nabati untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia, jelas Syakir.

Menurutnya, harus ada dorongan yang kuat dari Pemerintah Daerah kepada petani untuk melakukan tanam serempak, menerapkan hasil-hasil inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian.

Selain itu, perlu sosialisasi asuransi secara masif untuk mengurangi resiko kegagalan panen terutama bagi yang belum menerapkan inovasi teknologi, katanya. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here