Beranda Sawit Hingga Mei, Ekspor Minyak Sawit Tumbuh 29%

Hingga Mei, Ekspor Minyak Sawit Tumbuh 29%

BERBAGI
Produk minyak sawit mentah (crude palm oil). (Ist)

Agrofarm.co.id-Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kinerja ekspor sawit Indonesia selama periode Januari Mei 2017 tercatat meningkat 29% dibandingkan dengan kurun waktu yang sama tahun lalu, atau dari 9,35 juta ton meningkat menjadi 12,10 juta ton.

“Hal ini menunjukkan pasar ekspor Indonesia tetap tumbuh meskipun berbagai kampanye hitam terus membayangi industri sawit,” ujar Direktur Eksekutif GAPKI Fadhil Hasan dalam siaran persnya, Senin (24/7/2017).

Dia menambahkan, jelang bulan Ramadhan biasanya permintaan minyak sawit meningkat karena konsumsi minyak sawit bertambah pada selama bulan Ramadhan dan pada hari Raya Idul Fitri. Tahun ini fenomena tersebut berubah. “Ekspor minyak sawit Indonesia sepanjang Mei hanya terkerek 2% atau dari 2,56 juta ton di April meningkat menjadi 2,62 juta ton pada Mei 2017,” tandasnya.

Menurutnya, kinerja ekspor yang masih cukup tinggi terus menggerus stok minyak sawit Indonesia karena tidak dibarengi dengan produksi yang berimbang. Produksi minyak sawit (CPO dan PKO) pada Mei hanya terdongkrak sebesar 8% atau dari 3,08 juta ton pada April naik menjadi 3,33 juta ton pada Mei. Produksi meskipun sudah membaik akan tetapi masih belum maksimal

Selama Mei 2017, secara tak terduga beberapa negara dengan mayoritas penduduk muslim biasanya meningkatkan permintaan jelang Ramadhan menurunkan permintaan minyak sawitnya. Penurunan yang sangat signifikan dicatatkan Pakistan sebesar 31% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 207,21 ribu ton di April turun menjadi 142,21 ribu ton pada Mei.

“Turunnya ekspor ke Pakistan dikarenakan pangsa pasar Indonesia telah direbut oleh Malaysia dengan harga yang lebih kompetitif karena tidak adanya pajak yang diberlakukan untuk produk turunan minyak sawit,” terang Fadhil.

Ekspor Malaysia ke Pakistan tercatat meningkat tajam di Mei 2017. Dimana peningkatan tercatat lebih dari dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya yang biasanya hanya di kisaran 500 550 ribu ton per bulan sejak Mei meningkat menjadi di atas 1 juta ton. Pada Mei Malaysia memberlakukan pajak ekspor sebesar 7% dengan harga referensi RM3.008,09 atau setara USD 49 per ton dan tidak ada pengenaan pajak ekspor untuk produk turunan CPO.

Sementara Indonesia memberlakukan pajak nol (0) akan tetapi tetap memungut CPO Fund sebesar USD 50 untuk CPO dan USD 20-30 untuk produk turunannya. Sementara produk yang diekspor Indonesia ke Pakistan 95%- nya adalah produk turunan CPO. Faktor yang juga turut menjadi andil juga adalah Malaysia sangat gencar dalam lobi untuk meningkatkan perdagangan dengan pembahasan Review Free Trade Agreement antara Malaysia dan Pakistan dimana banyak peluang investasi dan tarif rendah yang ditawarkan Malaysia.

Penurunan permintaan juga diikuti negara-negara Timur tengah yang membukukan penurunan 23%. China dan negara-negara Uni Eropa juga membukukan penurunan permintaan minyak sawitnya masingmasing 7% dan 2%. Tren penurunan permintaan dari Pakistan, negara-negara Timur Tengah dan China karena pada bulan sebelumnya telah menyetok persediaan dengan memanfaatkan kesempatan dimana harga membeli dalam jumlah besar saat harga sedang rendah.

Sebaliknya Amerika Serikat (AS) menaikkan permintaan minyak sawitnya secara signifikan pada Mei ini. Negeri Paman Sam ini mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 43% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 83,70 ribu ton di April, naik menjadi 119,95 ribu ton. Hal ini sangat mengejutkan di saat AS sedang dengan gencar menuduh Indonesia melakukan dumping biodiesel. Sebagian dari minyak sawit yang diimpor AS digunakan untuk biodiesel.

Sejak diberlakukan pelarangan penggunan lemak trans (trans fat) pada produk makanan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS di pertengahan 2015 permintaan minyak sawit AS terus meningkat karena minyak sawit tidak mengandung lemak trans sehingga menjadi pilihan utama sebagai pengganti. Di samping itu harga minyak sawit juga lebih murah dibandingkan dengan harga minyak nabati lainnya.

Selain itu, Bangladesh ada kenaikan ekspor sebesar 29% atau dari 124,95 ribu ton di April naik menjadi 163,27 ribu ton. Kenaikan permintaan karena konsumsi yang diperkirakan meningkat selama bulan Ramadhan. Hal yang sama diikuti oleh India yang membukukan kenaikan permintaan sebesar 12%. Beledug Bantolo