Beranda Sawit Harga CPO Rendah, Permintaan Benih Sawit Lesu

Harga CPO Rendah, Permintaan Benih Sawit Lesu

236
BERBAGI
Pembibitan kelapa sawit. (Ist)

Agrofarm.co.id – Berdasarkan data FKPBSI tercatat secara nasional penjualan benih sawit sejak tahun 2012 hingga saat ini terus menurun. Dari tahun 2012 sebesar 171 juta butir, kemudian 2013 menjadi 128 juta butir. Turun sekitar 43 juta butir atau 25% dari tahun 2013, dan terakhir tahun 2014 melorot mencapai 102 juta butir atau menurun sekitar 25 juta (20%) dibandingkan tahun 2013.

Tony Liwang, salah seorang Pengurus Forum Komunikasi Produsen Benih Sawit Indonesia (FKPBSI) mengungkapkan, turunnya harga CPO berdampak pada lesunya permintaan benih sawit nasional yang dipicu oleh belum selesainya RTRW pada beberapa propinsi dan penerapan Instruksi Presiden No. 10 tahun 2011 tentang moratorium

butir

hutan primer dan hutan gambut mengakibatkan pembukaan lahan baru sawit cenderung semakin terbatas di satu sisi.

Sedangkan di sisi lain program peremajaan pohon sawit (replanting) dan program revitalisasi belum berjalan dengan baik. Selain itu, harga CPO yang masih cenderung stabil rendah, sejak beberapa tahun belakangan ini hingga saat ini, juga merupakan salah satu faktor pemicu perlambanan pembukaan lahan baru dan peremajaan. Semua hal tersebut berdampak pada sisi permintaan (demand) benih sawit.

Tony menambahkan, dari sisi pasokan atau pengadaan (supply) produsen kecambah sawit nasional semakin banyak dan akan terus bertambah dalam waktu dekat ini padahal kapasitas produksi kecambah nasional saat ini sudah jauh melampaui jumlah permintaan domestik. Di sisi lain, walaupun terjadi kelebihan produksi (over-supply) namun import benih masih juga terjadi walaupun dalam jumlah yang relatif sedikit.

“Jika kondisi supply-demand tersebut masih tidak imbang tersebut masih terjadi di tahun 2015, maka kemungkinan jumlah kecambah sawit terjual di tahun 2015 akan mengalami penurunan lagi dibanding 2014 dan tahun-tahun sebelumnya,” tukasnya.

Tony memperkirakan, tahun ini penjualan benih sawit nasional sekitar 80-90 juta buitir. Ini tercermin dari permintaan benih sawit di semester pertama sebesar 40% dan 60% pada semester kedua. Pesanan benih pada semester satu 2015 masih sangat rendah. “Mestinya pesanan benih untuk semester satu mencapai 40 juta butir, namun realisasinya di lapangan sekitar 30 juta butir. Kemudian semester kedua diperkirakan bisa turun lagi menjadi 50%,” tandasnya.

Menurutnya, ketika pembukaan kebun sawit semakin terbatas, ditambah kondisi harga CPO yang sedang turun dan stabil rendah makapemerintah diharapkan dapat membuat gebrakan kebijakan, misalnya melakukan program replanting terpadu dan selektif. “Sehingga ketika harga CPO membaik, produksi sawit sudah pada puncaknya. Jadi produktivitas kebun petani tidak lagi berkisar 15 ton/hektar/tahun tandan buah segar (TBS). Dengan replanting, maka produktivitas kebun petani bisa mencapai 25-30 ton/hektar/tahun,” kata Tony.

Tony mengungkapkan, perlakukan berbeda dengan Malaysia ketika harga CPO jatuh, pemerintah langsung mengeluarkan kebijakan untuk melakukan replanting pohon sawitnya. Di Negeri Jiran itu pemerintah mengstimulasi semua pekebun sawit melaksanakan replanting. “Sedangkan di Indonesia itu program replanting dan revitalisasi oleh pemerintah itu belum berjalan sesuai dengan target. Ditambah sebagian besar perkebunan sawit di Indonesia adalah milik petani yang memang produktivitasnya relatif masih sangat rendah,” tambahnya.

Jadi apapun yang diharapkan dan akan diterapkan oleh pemerintah belum tentu dapat dilaksanakan oleh petani. Hal ini disebabkan karena kebanyakan petani bersifat

mandiri dalam manajemen maupun finansial. Sementara perusahaan untuk melakukan peremajaan pada umumnya masih akan mengandalkan kredit dari bank karena usaha perkebunannya lebih dapat diterima (bank-able) oleh pihak perbankan dibandingkan dengan usaha perkebunan petani mandiri. Maka dengan kondisi harga CPO sedang lesu, perusahaan mengerem ekspansi. “Namun petani selama mempunyai uang akan terus membuka kebun sawit,” ujar Tony.

Alhasil permintaan benih sawit sekarang lebih banyak ke petani ketimbang perusahaan sawit. Potensi penjualan benih sawit ke petani saat ini cukup besar, namun, katanya, para pembeli benih, khususnya para petani, masih merasa kesulitan dengan peraturan pengadaan benih sawit, misalnya Surat Persetujuan Penjualan Benih Kelapa Sawit (SP2BKS). Regulasi ini perlu lebih disederhanakan dengan kondisi kelebihan pasokan (over-supply) benih sawut saat ini sehingga dapat mempermudah petani. Dikhawatirkan petani sulit membeli benih dari para produsen benih sawit bersertifikat karena adanya SP2BKS tersebut. “Imbasnya petani malah membeli benih sawit ilegal,” tukas Tony.

Dia mengatakan, dalam aturan itu pembelian benih sawit dibawah 5000 butir tidak perlu menggunakan SP2BKS, namun kenyataan di lapangan itu sulit terealisasi. Lebih baik berapa pun jumlah benih sawit yang akan dibeli oleh petani tidak perlu persyaratan SP2BKS. “Sejarah lahirnya aturan ini lantaran permintaan benih sawit melimpah, sementara produksi sedikit. Maka dibuatlah aturan SP2BKS,” ujarnya.

Menurutnya, sekarang kondisinya terbalik karena terjadi kelebihan pasokan (oversupply) benih sawit dan ini sudah terjadi mulai tahun 2009. Sementara kapasitas produksi benih nasional mencapai 230 juta butir. Pemerintah seyogianya membebaskan petani membeli benih dari para produsen tanpa SP2BKS. “Dalam persyaratan itu petani harus menyerahkan KTP dan Surat Kepemilikan Tanah (SKT). Persyaratan-persyaratan inilah yang dapat menyulitkan petani untuk membeli benih sawit bersertifikat dari para produsen,” tandasnya.

Benih Sawit Impor

Perlu Ditinjau

Kemudian persoalan masih dibukanya keran impor benih sawit dari luar negeri. Tony meminta agar pemerintah, selain regulasi impor benih yang harus diterapkan secara tepat, juga penyuluhan kepada para petani bahwa benih sawit produksi dalam negeri tidak kalah dengan benih impor. “Yang terpenting bagaimana tindakan kita apabila terjadi kontaminasi penyakit dari benih impor,” tegasnya kepada Agrofarm.

Oleh karena itu, adanya rencana penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) benih sawit oleh pemerintah guna meningkatkan daya saing benih sawit dalam negeri ini ditanggapi positif. Tony mengungkapkan, saat ini seharusnya semua produsen benih sawit yang sudah ada sudah layak memenuhi SNI tersebut.

“Dengan SNI ini, diharapkan benih sawit kita dapat diekspor, sehingga dapat berdaya saing di luar negeri. Khususnya dalam menyambut penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) per 1 Januari 2016. Maka benih sawit nasional dengan SNI dapat diekspor ke negara-negara ASEAN lainnya dan bukan sebaliknya justru kita mengimport benih sawit dari negara-negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia dan Thailand,” katanya.

Tony mengatakan,PT Dami Mas Sejahtera sendiri tahun ini menargetkan penjualan benih sawit mencapai 20 juta butir. Namun dengan kondisi sekarang diperkirakan hanya sebesar 16 juta butir. Target ini hampir sama dengan i tahun lalu yang penjualan mencapai 16 juta butir. Target yang sama atau kemungkinan turun sekitar 20% ini kemungkinan juga akan dialami oleh para produsen benih lain di tahun 2015. “Kecuali harga CPO kembali naik, maka kecenderungan orang akan kembali mulai bergairah membeli benih sawit untuk pembukaan kebun sawit baru,” tandasnya.

Dia menambahkan, harga benih Dami Mas masih dijual sekitar Rp 12.000,- per butir. Harga ini terbilang bukan yang terendah tetapi juga bukan yang tertinggi dibandingkan dengan harga benih sawit dari produsen lainnya, namun itu tidak masalah yang penting kualitas benihnya bagus. Kebanyakan pembeli sudah melihat dan menikmati kenaikan produktvitas kebun mereka secara nyata setelah menggunakan benih Dami Mas.

Menurutnya, pasar ekspor benih juga lesu, karena sebagian besar permintaan untuk Afrika. . Tahun 2015 diperkirakan pasar ekspor juga drop, terutama di Afrika. “Diperkirakan ekspor minimal sama dengan tahun lalu. Termasuk ekspor benih sawit nasional tahun ini akan sama atau lebih rendah dari tahun 2014 sebanyak 1,6 juta butir,” pungkas Tony.

Benih Masa Depan

Mengantisipasi semakin menurunnya permintaan benih sawit secara umum akibat berkurangnya penanaman sawit baru, baik di lahan baru maupun di lahan replanting, maka para pekebun sawit harus menerapkan intensifikasi, dari pada ekstensifikasi, untuk meningkatkan produksi mereka. Salah satu peningkatan produksi melalui intensifikasi adalah menggunakan benih yang bermutu tinggi, yang mampu berproduksi tinggi pada berbagai kondisi agroekosistem yang berbeda-beda dan juga toleran terhadap berbagai cekaman biotik dan abiotik.

Salah satu cekaman biotik yang dihadapi oleh para pekebun sawit saaat ini adalah ancaman penyakit Ganoderma boninense, sedangkan cekaman abiotik adalah cekaman kekeringan, terlebih dengan sering terjadinya anomali cuaca pada beberapa tahun terakhir ini. “Oleh karena itu, PT Dami Mas Sejahtera melalui program risetnya yang terpadu melalui program pemuliaan tanaman baik secara konvensional maupun secara molekular, sedang berupaya untuk dapat menghasilkan benih yang lebih tahan Ganoderma dan kekeringan. Dengan demikian, diharapkan benih Dami Mas dapat berkontribusi secara langsung terhadap keberlanjutan industry sawit secara nasional,” ujar Tony. (Beledug Bantolo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here