Beranda Sawit GAPKI Akan Bangun Sistem Ketenagakerjaan di Sektor Sawit

GAPKI Akan Bangun Sistem Ketenagakerjaan di Sektor Sawit

237
BERBAGI
GAPKi dan CNV Internationaal dorong perbaikan sistem ketenagakerjaan/bantolo

Agrofarm.co.id-Guna memperbaiki kondisi kerja di sektor kelapa sawit Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI) melakukan kerjasama dengan serikat buruh yakni CNV Internationaal, Hukatan dan International Labour Organization (ILO).

Sumarjono Saragih, Ketua Bidang Ketenagakerjaan GAPKI megatakan, pihaknya akan melakukan perbaikan system kerja di sektor sawit menyusul banyaknya laporan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terkait isu ketenagakerjaan.

Untuk itu, lanjutnya, GAPKI dan serikat kerja akan membuat program bersama terkait best practice system tenaga kerja. “Sehingga akan dilakukan penggalian dan formulasi program kerja melalui kegiatan workshop pada tanggal 11-13 Oktober 2017 di Jakarta,” ujar Sumarjono pada acara Press Conference di kantor GAPKI Pusat Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Dia menjelaskan, program tersebut akan memprioritas beberapa hal. Pertama, hak dan kewajiban perkerja yang sesuai dengan Undang Undang Ketenagakerjaan. Kedua, melakukan edukasi agar tidak ada pekerja di bawah umur. Ketiga, promosi aspek keselamatan, kesehatan kerja (K3).

Menurutnya, selama ini pengusaha dan buruh terjebak pada isu yang sifatnya normatif yakni upah buruh, upah minimum provinsi (UMP) dan kebebasan berserikat. “Namun ke depan ingin mendorong suara pekerja atau aspirasi pekerja terhadap industri sawit,” jelasnya.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kemtan) tahun 2015 jumlah pekerja pada industri sawit sebanyak 7,9 juta orang. ari angka itu sebanyak 30% merupakan pekerja dari industri yang tergabung dalam GAPKI.

Dia menambahkan, adanya kebijakan moratorium berdampak pada ekspanasi kelapa sawit. imbasnya akan terjadi penutupan lapangan kerja baru. Padahal kelapa sawit merupakan sektor yang paling cepat dan banyak dalam penyediaan lapangan kerja.

“Jika sawit terus diintimidasi dengan berbagai macam isu negative, tidak menutup kemungkinan industri ini akan tutup dan akan terjadi pengurangan lapangan kerja,” ujar Sumarjono.

Amalia Falah Alam, Perwakilan Serikat Buruh Belanda (CNV Internationaal) di Indonesia mengatakan, dialog sosial dan kebebasan berserikat ini penting dalam memperbaiki kondisi kerja di sektor kelapa sawit.

“Kami menawarkan solusi bahwa harus ada dialog sosial antara serikat buruh, pekerja dan pemerintah. Ini merupakan salah satu langkah penting untuk memperbaiki kerja di sektor sawit,” tutur Amalia.

Menurutnya, adanya perbaikan kondisi kerja dapat meningkatkan citra sawit di pasar eropa, lantaran industri ini mempunyai market pada Benua Biru. Sekarang tidak bisa hanya mengandalkan sertifikasi agar produk sawit diterima di eropa.

“Berdasarkan penelitian sebelumnya sertifikasi tidak dapat dijadikan satu-satunya alat untuk memastikan kepatuhan industri kelapa sawit terhadap standar internasional,” tandas Amalia.

Saat ini banyak isu terkait ketenagakerjaan pada industri sawit. Di antaranya adalah isu keselamatan kerja, pegawai kontrak, pekerja di bawah umur, pekerja perempuan, kontrak kerja dan isu kebebasan berserikat. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here