Beranda Sawit Ekspor Sawit Tembus 10,7 Juta Ton pada Kuartal I 2017

Ekspor Sawit Tembus 10,7 Juta Ton pada Kuartal I 2017

132
BERBAGI
Produk minyak sawit mentah (crude palm oil). (Ist)

Agrofarm.co.id – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat kinerja ekspor minyak sawit dan produk turunannya selama kuartal I 2017 mencapai 10,7 juta ton. Angka ini menujukan kenaikan sebesar 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 8,7 juta ton.

“Ekspor yang meningkat karena permintaan pasar global yang tinggi sehingga tak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan akan minyak sawit tak terhindarkan meskipun berbagai macam kampanye negatif didengungkan oleh negara pesaing untuk menjatuhkan kebesaran minyak sawit,” kata Sekertaris Jenderal GAPKI Togar Sitanggang, Sabtu (03/6/2017).

Dia menambahkan, ekspor minyak sawit Indonesia meningkat 6% dibandingkan Maret yang hanya 2,53 juta ton menjadi 2,68 juta ton. Kenaikan ekspor tersebut, mengikis stok minyak sawit Indonesia yang saat ini tersisa 888 ribu ton. “Apalagi produksi dalam negeri belum maksimal, tidak seimbang dengan permintaan pasar global yang terus meningkat,” terang Togar.

Togar mencontohkan,  pda pertengahan Maret 2017 Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi tentang minyak sawit dituduh sebagai penyebab deforestasi. Pada bagian akhir resolusi tersebut menyarankan agar menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya untuk pemanfaatan program biodiesel. Namun kenyataanya permintaan minyak sawit Benua Biru membukukan kenaikan sejak Maret.

“Pada April ini, permintaan minyak sawit berupa CPO dan turunannya dari negara-negara Uni Eropa masih mencatatkan kenaikan sebesar 8% dibandingkan Maret yakni dari 446,92 ribu ton menjadi 482,95 ribu ton,” tandasnya.

Dia menambahkan,  menjelang Ramadhan permintaan beberapa negara yang berbasis mayoritas muslim mengalami kenaikan karena pada umumnya konsumsi terhadap minyak nabati selalu meningkat selama bulan puasa hingga Idul Fitri.

Adapun ekspor ke Bangladesh mencatatkan kenaikan permintaan minyak sawit sebesar 116% pada April yakni menjadi 124,95 ribu ton dari Maret yang hanya 57,80 ribu ton, begitu juga dengan Pakistan mengalami peningkatan permintaan 18% dari 175,26 ribu ton menjadi 207,21 ribu ton. Selain itu, diikuti India sebesar 56% dari 430,03 ribu ton pada Maret menjadi 672,14 ribu ton.

Sebaliknya, permintaan minyak sawit dari China pada April 2017 mengalami penurunan yang tajam mencapai 38% dibandingkan bulan sebelumnya yakni dari 322,14 ribu ton pada Maret menjadi 201,12 ribu ton.

“Lesunya permintaan pasar China karena negeri Tirai Bambu ini sedang masif mengimpor kedelai untuk memenuhi permintaan industri crushing di dalam negerinya,” ujarnya.

Selain itu, katanya, China juga sedang meningkatkan stok kedelainya dengan memanfaatkan harga kedelai yang masih tergolong murah karena melimpahknya stok global. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here