Beranda Success Story dr Orie Andari Sutadji, MBA – “Cita-Cita Saya Supaya Indonesia Mandiri Secara...

dr Orie Andari Sutadji, MBA – “Cita-Cita Saya Supaya Indonesia Mandiri Secara Ekonomi dan Terhormat di Dunia Internasional”

BERBAGI
Foto : Bimo

Agrofarm.co.id Semasa menjabat sebagai Diektur PT Asuransi Kesehatan (Askes) Indonesia, dr Orie Andari Sutadji, MBA pernah masuk dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia versi majalah Globe Asia (edisi Oktober 2007). Perannya sebagai istri dari Drs. Sutadji dan ibu dari 3 anak mereka tidak lantas menjegal langkahnya untuk meniti karir. Kiprah srikandi kesehatan ini pun telah membuahkan banyak hasil perbaikan dalam tubuh perusahaan yang pernah dipimpinnya.

Saat lulus sekolah menengah, wanita kelahiran Purwokerto, 29 Oktober 1947 ini sesungguhnya berminat untuk mempelajari teknik arsitektur. Namun, atas permintaan ayahnya, ia mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Jawa Tengah. Setelah lulus dari kedokteran, ia bertekad untuk berkarir sebagai PNS di Departemen Kesehatan.

Walaupun harus mulai dari golongan paling rendah dan mendapat kritikan dari keluarga yang menginginkannya kerja di rumah sakit besar dan mendapat penghasilan lebih baik, dr. Orie muda tetap mantap dengan pilihannya. Pekerjaannya sebagai PNS baru di Biro Statistik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesiea lebih banyak berkecimpung di data dan administrasi.

Karirnya terus meningkat, hingga pada tahun 1985 ia menjadi Kepala Divisi Administrasi Pusat Data Kesehatan Kemenkes. Dan empat tahun setelahnya, ia dipercaya menjadi Kepala Tata Usaha di Biro Umum, sekaligus menjadi sekretaris pribadi Menteri Kesehatan RI.

Secara khusus, dr Orie melanjutkan pendidikan dan mendapat gelar Master of Business Administration (1992) di Institut Pengembangan Pendidikan dan Manajemen Jakarta. Harapannya supaya Kimia Farma, Indofarma, dan Askes yang beradai di bawah Kemenkes benar-benar dapat dikelola secara businesslike, dan ia ingin mengambil bagian disitu.

Kinerjanya yang baik dan dilengkapi background pendidikan bisnis yang matang kembali membawanya ke posisi bergengsi pada 1992, yaitu menjadi Direktur Umum PT Askes (Persero). Delapan tahun kemudian (tahun 2000) ia menduduki posisi tertinggi sebagai Direktur Utama Askes, menggantikan posisi Dr. Hj. Sonja Roesma, SKM. AAK.

Menurut aturan, periode jabatan tersebut lima tahun, tetapi jabatan dr. Orie diperpanjang sampai 2008 oleh Kemenkes. Di berbagai kesibukannya yang juga aktif di politik, sejak tahun 2010 dr Orie dipilih menjadi Ketua Umum Indonesian Quality Award Foundation (IQAF). Dan saat ini Ia juga menjadi Ketua Bidang Hubungan Internasional Palang Merah Indonesia (PMI).

Dimusuhi

Ada kisah menarik saat pertama masuk dalam jajaran direksi Askes. dr Orie membawa misi memperbaiki citra dan kinerja Askes. Gara-gara misinya tersebut, ia sempat dimusuhi dan diprotes para karyawannya.

Waktu itu Askes mendapat stigma yang tidak bagus karena pelayanannya yang lambat, dan peserta di-pingpong kalau mengurus Askes. Belum lagi masalah disiplin waktu, karyawan banyak yang datang terlambat dan merasa tidak bersalah karenanya.

“Ternyata mereka tidak punya pikiran, bahwa mereka itu harus melayani peserta dengan baik. Mereka hanya menganggap, bahwa mereka melakukan tugas, tidak perlu capek karena uang sudah datang sendiri bagi pegawai negeri melalui Departemen Keuangan. Dan itu sama sekali tidak benar. Mereka tidak punya pemikiran serve better. Itu tidak ada,” tuturnya.

Ia dan jajaran direksi lantas mencari jalan keluar untuk perbaikan. Kalau meminjam istilah Joko Widodo, ia ingin melakukan revolusi mental. Tak tanggung-tanggung, akhirnya Askes menjalin kerjasama dengan Angkatan Darat, tentara. Para karyawan Askes mendapat pelatihan disiplin mental disana supaya memiliki etos kerja yang baik. Biar adil, dr Orie pun ikut bergabung dalam pelatihan itu.

Demo dan protes dari karyawan yang keberatan dengan adanya pelatihan tesebut muncul. Untunglah seluruh direksi kompak dan tak geming. “Dan itu berjalan. Angkatan pertama dan angkatan kedua masih ada rejection. Angkatan ketiga sudah mulai melunak. Angkatan keempat saya dikejar-kejar ‘ibu kapan giliran saya? Ada hasilnya. Setelah itu Askes menjadi bagus sekali berkembang, dan stigma pelayanan yang tidak bagus tidak ada lagi,” imbuh wanita yang pernah juga menjadi konsultan World Health Organization (WHO) untuk membangun Skema Asuransi Kesehatan Sosial di Republik Maldives.

Empat Kunci Keberhasilan

Pencapaian yang berhasil diraih oleh dr Orie bukan sesuatu yang instan. Ketekunan, percaya diri dan kemauan untuk berkembang telah membawanya ke posisi puncak. Tentu saja dukungan dari orang tua dan keluarganya tak terlepas juga dari semua itu.

Malah justru karena dukungan dari keluarganyalah, ia dapat berhasil dalam berkarir dan dalam kehidupan berkeluarga. Ia banyak belajar bisnis dari ayahnya yang seorang pebisnis sukses dengan semangat nasionalisme tinggi. dr Orie banyak memegang prinsip hidup yang dipelajari dari ayahnya, sedang prinsip kekeluargaan banyak didapat dari sang ibu.

Ada empat rahasia kesuksesan yang berhasil ia simpulkan dari pengalamannya. “Pertama di keluarga. Dukungan keluarga. Kedua, saya belajar dan selalu belajar. Belajar tidak hanya di sekolah, tetapi belajar dari bawahan saya, belajar dari teman. Kemudian saya berusaha untuk mendengar pegawai, orang lain, pelanggan. Keempat, saya membangun network baik nasional maupun internasional,” tegasnya.

Dengan posisinya sebagai Ketua Umum IQAF yang mendorong terbentuknya kinerja ekselen, dr Orie kembali membawa misi untuk kemajuan Indonesia. Dengan fakta miris 400 ribu hektar lahan dimiliki asing, perkebunan dan tambang juga sudah dimiliki asing, bahkan perusahaan air minum dalam kemasan terkenal yang mengambil kekayaan air juga dimiliki asing.

Ia ingin agar Indonesia betul-betul bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Dan agar sesuai dengan Undang-Undang, agar tanah air dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Pada usia saya sekarang ini saya ingin tetap berkontribusi sampai hayat meninggalkan badan agar Indonesia menjadi mandiri dari segi ekonomi dam menjadi negara terhormat di dunia internasional. Dari sisi ekonomi, supaya semua sektor industri baik manufaktur maupun jasa bisa memenuhi syarat untuk berkompetisi global. Apalagi kita masuk negara G20, tidak dari sisi makro ekonomi saja yang dinilai tapi dari sektor riilnya harus dinilai,” tegas pecinta kuliner Nusantara ini. (Natalia Lee/Irsa Fitri)