Beranda Pertanian Dirjen PKH : Tim Satgas Tetap Siaga Selamatkan Ternak di Bali

Dirjen PKH : Tim Satgas Tetap Siaga Selamatkan Ternak di Bali

BERBAGI
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita saat memberikan arahan dalam acara Silaturahmi Nasional Peternak Kambing dan Domba tanggal 22 September 2017 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur/ist

Agrofarm.co.id– Pasca menurunnya status Gunung Agung dari status awas menjadi siaga, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita menegaskan, Tim Satgas dari Ditjen PKH untuk tetap terus berjalan mengkoordinasikan kegiatan penyelamatan dan penanganan ternak, serta penyaluran bantuan dari pihak lain.

“Kita jaga peternak dan ternaknya jangan sampai ketika terjadi bencana alam mereka jadi korban, Hal tersebut juga merupakan amanat Bapak Menteri Pertanian agar peternak tidak merugi dan merasa tenang dan nyaman ditempat-tempat penampungan ternak,” ujar Diarmita dalam keterangan resminya, Minggu (5/11/2017).

Kepala Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi Bali menyampaikan, jika selama ini penjualan ternak pengungsi sangat baik dengan harga yang wajar, namun tetap kita sarankan yang dijual adalah sapi-sapi yang jantan.

Menurutnya, pengalaman bencana meletus Gunung Merapi di Jawa Tengah telah mengajarkan banyak hal khususnya dalam mengevakuasi ternak. “Ketika terjadi musibah bencana alam, pemerintah tidak memikirkan masyarakat saja, sekaligus ternak juga harus dievakuasi, sehingga jelas SOP untuk evakuasi sapi yang aman,” tambahnya.

Diarmita juga mengapresiasi kinerja Tim Satgas PKH dalam penanganan evakuasi sapi yang lebih baik. Saat ini Pemerintah telah menyiapkan lokasi penampungan ternak yang terdapat pada 43 lokasi di 7 titik sebaran yakni Klungkung, Buleleng, Karangasem, Gianyar, Bangli, Tabanan, dan Gianyar. Dari data update evakuasi di Posko tercatat jumlah ternak yang ada di penampungan sejumlah 6.584 ekor.

Dia mengingatkan kepada Tim Satgas, agar pengawasan di tempat penampungan ternak harus tetap memperhatikan ketersediaan pakan, obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan. “Kegiatan ini membutuhkan banyak dana dan kita telah kerjasama dengan banyak pihak, dan kami ucapkan terimakasih kepada pihak yang sudah terlibat,” ungkapnya.

Sementara itu, Firman Sjafrial Agustus Dandim 1623 Karangasem mengatakan, sebelum ditetapkan status awas Gunung Agung, telah dilakukan koordinasi, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat agar mengerti tentang bahaya bencana erupsi Gunung Agung. Program livelihood diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat pengungsi yang berasal dari daerah rawan bencana.

“Saat ini kita anjurkan adanya Tim Sosialisasi untuk anak sekolah dan masyarakat melalui poster-poster, sehingga mendapat gambaran apa yang harus dilakukan dalam menghadapi bencana alam ini,” ungkapnya.

Menghadapi hari galungan, pihaknya telah mengantisipasi pengungsi yang akan merayakan hari galungan di kampung halaman yang masuk zona Kawasan Rawan Bencana (KRB). “Telah terdapat pos-pos penjagaan yang tersebar di beberapa titik untuk patroli petugas sekitar KRB,” jelasnya.

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses evakuasi penduduk dan ternaknya yang berada di daerah rawan bencana. Sekitar 200 ribu masyarakat telah dievakuasi dan turun ke tempat yang aman.

Menurutnya, hampir 30% penduduk Karangasem bertani dan beternak sapi. I Gusti menilai peternak sapi sangat mencintai ternaknya bahkan peternak telah merasa satu jiwa dengan ternaknya. “Jika orangnya selamat, maka sapinya juga harus selamat,” tandasnya.

Ketua Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nata Kusuma menyampaikan, telah menginventaris permasalahan jika terjadi erupsi maka perlu disiapkan seperti Persiapan posko pasca erupsi untuk menangani ternak yang mati, masalah penggantian ternak ketika ada ternak cidera, masalah penggunaan anggaran, SOP untuk evakuasi agar sapi tidak cidera. Permasalahan ini harus dibahas bersama melalui koordinasi yang intens, ujarnya.

Firman Sjafrial menuturkan, dalam koordinasi bersama pihak, telah banyak solusi yang telah ada dari mulai persiapan pra evakuasi , saat evakuasi dan pasca evakuasi (termasuk didalamnya pemulihan dan penampungan). Menurutnya, persoalan yang belum ditemukan yakni penggantian ternak.

Diarmita menyampaikan perlu ada penggantian ternak yang harus dibahas mekanisme dan strateginya dengan mengedepankan langkah akuntabilitas dan transparansi untuk meminimalisir adanya resiko pidana. “Untuk itu perlu disiapkan penggantian bagi ternak yang cedera,” ungkap Diarmita. Bantolo