Beranda Industri & Keuangan Defisit Bahan Baku Kulit Memprihatinkan

Defisit Bahan Baku Kulit Memprihatinkan

BERBAGI

Agrofarm.co.id – Adapun sapi untuk kebutuhan industri kulit tidak diimpor.Keadaan ini menyulitkan industri penyamakan kulit besar dan kecil untuk bertumbuh. “Saya mewakili asosiasi meminta kepada Kementerian Perindustrian untuk mencari solusi terkait hal ini,” ujar Ketua Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI) Sutanto Haryono pada AgroFarm di Kementerian Perdagangan, Jakarta .

Sutanto menjelaskan, industri penyamakan kulit nasional sebenarnya bisa menggunakan bahan mentah atau setengah jadi dari luar negeri. Namun, proses perizinan impor sulit. Pasalnya, kulit impor dianggap sumber penyakit kuku dan mulut. Selain itu, salah satu penyebab bahan baku impor sulit didapat. Menurutnya, adalah kebijakan Kementerian Perdagangan untuk memilih impor daging sapi dibandingkan impor sapi utuh.

Dia mengungkapkan, jumlah kulit yang dibutuhkan industri penyamakan mencapai 20 juta ekor sapi per tahun.Sejauh ini pasokan dalam negeri baru memenuhi 25% atau setara 5 juta ekor sapi. Artinya, industri membutuhkan impor sapi sekitar 15 juta ekor per tahun.

Dalam pandangan dia, industri penyamakan kulit cukup strategis karena nilai ekspor per tahun mencapai USD 200 juta. Selain itu, banyak anggota APKI yang menjadi pemasok industri sepatu dan tas dalam negeri.

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini jumlah industri kulit aneka dalam negeri kurang lebih sebanyak 1.035 perusahaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 995.315 orang dengan total investasi mencapai Rp 19,37 triliun, dan mampu memberikan kontribusi terhadap ekspor sebesar USD 5,96 miliar dengan nilai produksi Rp 55,95 triliun dan utilisasi sebesar 59,76%.

Menjawab hal itu, Direktur Jenderal Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan, pemerintah akan mencoba menyediakan stok penyangga (buffer stock) untuk industri penyamakan kulit. Buffer stock akan digunakan sebagai cadangan bahan baku kulit untuk industri dalam negeri. “Dengan adanya buffer stock, industri penyamakan tidak akan kekurangan bahan baku lagi,” kata Harjanto.

Harjanto juga mengatakan bahwa persoalan bahan baku ini memang masalah antar-kementerian. Dengan ini, pihaknya berjanji akan membawa persoalan ini kepada lintas kementerian terkait. “Nanti akan coba kami komunikasikan dengan kementerian lain. Kalau Kemenperin sendiri yang memutuskan tidak akan efektif,” ujar Harjanto.

Terhambat Aturan

Karantina Kulit Kementan

Kurangnya pasokan bahan baku diakui Ramon Bangun, Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemperin). Menurut Ramon, selain sulitnya pasokan bahan baku dari dalam negeri, industri ini juga mengalami hambatan dalam memperoleh bahan baku impor. Penyebabnya, aturan karantina kulit dari Kementerian Pertanian (Kementan) membuat pasokan bahan baku kulit impor jadi terhambat.

Dalam aturan itu, menurut Ramon, tidak hanya bahan baku kulit mentah yang harus di karantina sebelum masuk ke pabrik penyamakan. Namun bahan baku yang sudah diproses dan diwarnai juga harus ikut karantina. “Padahal tinggal dijahit tapi harus di karantina dulu,” kata Ramon.

Industri penyamakan kulit Tanah Air semakin tertekan dengan mudahnya produk impor berbahan baku kulit, seperti tas dan sepatu, masuk ke pasar dalam negeri. Tidak hanya itu. Saat ini industri juga harus bersaing untuk bisa mendapatkan pasokan kulit dengan kualitas bagus.

Menurut Ramon, terbatasnya teknologi membuat pemasok bahan baku kulit kualitas terbaik lokal lebih memilih mengirim bahan baku ke industri penyamakan di luar negeri. Apalagi harganya jauh lebih tinggi ketika diproses di luar negeri dibanding di dalam negeri. “Pemasok bahan baku takut harga produk mereka akan jatuh karena salah proses pengolahan,” ujar Ramon. (Dian Yuniarni/Irsa Fitri)