Beranda Liputan Khusus Dana Riset Sawit Perlu Ditingkatkan Dua Kali Lipat

Dana Riset Sawit Perlu Ditingkatkan Dua Kali Lipat

BERBAGI
Sawit merupakan industri strategis nasional/Ist

Agrofarm.co.id – Dewan Riset Nasional (DRN) meminta dana riset atau penelitian untuk sektor perkebunan sawit yang dialokasikan oleh pemerintah di Indonesia ditingkatkan dua hingga tiga kali lipat.

Ketua Komisi Pangan dan Pertanian DRN Haryono dalam Diskusi Kelapa Sawit di Jakarta, Rabu (17/5) mengatakan, sawit merupakan penghasil dewisa nomer satu bagi Indonesia oleh karena itu harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

“Dengan menghasilkan devisa tertinggi maka sudah seharusnya riset di perkebunan terutama sawit mendapat perhatian lebih tinggi,” katanya dalam diskusi bertema Inovasi dan Teknologi Terkini dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Kelapa Sawit Berkelanjutan di Hotel Sahid Jaya, Rabu, (17/5/2017).

Dukungan riset yang kuat untuk sektor perkebunan maka komoditas perkebunan akan semakin optimal memberikan hasil serta memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Menurut mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan itu, lemahnya riset berdampak pada rendahnya produktivitas perkebunan rakyat, salah satunya pada perkebunan kelapa sawit.

Meskipun diakuinya, peningkatan produktivitas sawit juga menjadi tanggung jawab perusahaan. Bahwa sekitar 40% dari total luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini dimiliki oleh petani. “Swasta diperlukan karena sebagian kebun sawit dimiliki oleh masyarakat,” tutur Haryono.

Oleh karena itu, lanjutnya, sudah seharusnya pemerintah memberikan porsi yang besar untuk riset perkebunan, karena selama ini dana riset di perkebunan masih rendah, padahal untuk membangun perkebunan yang kuat harus didukung oleh riset yang kuat baik di hulu maupun hilir.

Haryono menyatakan, besaran dana riset yang harus dianggarkan ke depan harus naik dua kali bahkan tiga kali dari saat ini atau lebih dari satu digit dari sekarang.

“Untuk membangun sektor perkebunan sawit, maka harus didukung oleh inovasi dan riset yang kuat. Sebaliknya jika tidak didukung oleh riset, ke depan perkebunan bakal hancur,” tukasnya.

Direktur Penelitian dan Pengembangan PT SMART, Tony Liwang menyatakan, seiring perkembangan industri dan dunia usaha perkebunan yang semakin cepat maka sudah seharusnya riset perkebunan perlu dipetakan kembali sehingga jelas arah dan tujuannya.

“Peta jalan (roadmap) riset perkebunan diperlukan sebagai acuan bagi semua pemangku kepentingan khususnya para peneliti untuk menentukan target utama dalam jangka pendek, menengah dan panjang,” katanya.

Dia mencontohkan, Komite Riset Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) yang telah menyusun roadmap riset sawit, membutuhkan infrastruktur, sumber daya manusia dan dana yang memadai.

Menurutnya, dengan memperkuat riset juga dapat melawan isu-isu negatif yang dihembuskan negara asing, salah satunya pada kelapa sawit yang saat ini banyak dilancarkan kepada Indonesia. Beledug Bantolo