Beranda Pertanian Cetak Sawah Ditargetkan Capai 80.000 Ha di Tahun 2017

Cetak Sawah Ditargetkan Capai 80.000 Ha di Tahun 2017

216
BERBAGI
Presiden Joko Widodo panen padi. (Ist).

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan kegiatan perluasan areal sawah atau cetak sawah mencapai 80.000 hektar (ha) pada tahun 2017.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Pending Dadih Permana mengungkapkan, kegaiatan cetak sawah merupakan bagian dari Program Nawacita Presiden Joko Widodo. “Targetnya akan dikembangkan cetak sawah seluas 1 juta hektar hingga tahun 2019, ujar Pending dalam acara konferensi pers tentang Kartu Tani, Pembangunan Embung, dan Bantuan alsintan di Jakarta, Senin (19/6/2017).

Dia menyebutkan, realisasi cetak sawah pada 2016 sebesar 129.000 ha dari target 134.000 ha, dan realisasi tahun 2015 sebesar 120.000 ha.

“Program ini penting guna mengimbangi laju alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, ujar Pending. Sementara itu, katanya, ada potensi perluasan areal pertanian seluas 12,4 juta ha di tanah terlantar. Selain itu, lahan rawa sekitar 6,4 juta ha dan lahan subur seluas 24 juta ha.

Menurutnya, potensi perluasan areal pertanin cukup besar, namun laju konversi lahan juga tinggi. Meskipun sudah ada Undang-Undang No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Berdasarkan catatan Kemetan, sebanyak 257 kabupaten/kota yang telah menerapkan peraturan daerah (perda) perlindungan lahan pertanian pangan, ungkap Pending.

Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2004 mencatat Lahan sawah ke non pertanian sekitar 110.164 ha, lahan sawah ke usaha pertanian lainnya 77.556 ha dan lahan kering ke non pertanian seluas 9.152 ha.

Dia menambhakan, produktivitas tanaman padi pada lahan cetak swah baru lebih rendah ketimbang lahan sawah yang sudah lama atau berada di Pulau Jawa. Produktivitas berkisar 2,5 sampai 4 ton per ha. Sehingga tidak benar adanya cetak sawag baru dapat menurunkan produksi padi. Tidak bisa disamakan lahan sawah yang baru dibuka dengan lahan berumur puluhan tahun yang lebih dahulu existing.

Pending mengungkapkan, ada beberapa hambatan dalam program cetak sawah di Indonesia. Adanya ketersediaan lahan terbatas yakni lahan telah dikuasai sebagai HGU, Kawasan Hutan Lindung, Taman Nasional, tumpang tindih dengan program atau kegiatan lainnya. “Hamparan lahan terpencar-pencar, ujar Pending.

Selain itu, katanya, sumber daya air tidak memadai karena belum tersedia infrastruktur jaringan irigasi atau sumber-sumber air irigasi. Meskipun ada, tetapi belum dikembangkan atau sangat jauh, debit air tidak mencukupi. Keterbatasan jumlah sumberdaya manusia sebagai tenaga kerja pembuka lahan maupun penggarap sawah, tambahnya.

“Tak kalah penting, terbatasnya jumlah sarana peralatan untuk pembukaan lahan pada wilayah tersebut. Hasil Survey Investigasi Desain (SID) yang kurang sempurna, lantaran masih terbatasnya ahli desain perluasan sawah dan juga keterbatasan petugas yang mengerti desain perluasan sawah, jelasnya. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here