Beranda Pertanian BPPSDMP Dorong Terciptanya Wirausahawan Muda Pertanian

BPPSDMP Dorong Terciptanya Wirausahawan Muda Pertanian

BERBAGI
Kepala BPPSDMP Kementan Momon Rusmono. (Bantolo Agrofarm)

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) mendorong regenerasi petani muda melalui Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP).

Kepala BPPSDMP Kementan Momon Rusmono mengatakan, BPPSDMP memiliki peran yang sangat penting khususnya pada penguatan kelembagaan petani dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian.

“Dengan program dan kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendidikan, maka akan terbentuk sumber daya manusia pertanian yang professional mandiri dan berdaya saing,” ujar Momon saat konfrensi pers di Ruang Diorama Gedung D, Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Senin (14/8/2017).

Untuk itu, katanya, BPPSDMP akan melakukan transformasi pendidikan. Pertama, enam Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) yang tersebar di Kota Medan, Bogor, Magelang, Malang, Gowa dan Manokwari akan beralih fungsi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian. Kedua, tiga Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMKPP) di Banjarbaru, Kupang dan Sumbawa juga akan ditingkatkan menjadi Politeknik.

Momon menambahkan, hal itu didasari pada Undang-Undang No 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.”Dampak transformasi ini, maka lulusan yang sebelumnya berorientasi pada pendidikan kedinasan untuk meningkatkan kompetensi penyuluh pertanian, maka ke depan akan didorong menjadi wirausahawan muda,” terangnya.

Politeknik Pembangunan Pertanian berorientasi pada dua hal yakni menciptakan wirausahawan muda pertanian atau menciptakan lapangan kerja (Job-creator). “Namun tetap menciptakan tenaga ahli di bidang pertanian (Job Seeker) untuk memenuhi kebutuhan penyuluh pertanian, Pengendali Organisme Penganggu Tumbuhan (POPT dan dokter hewan. Ke depan diutamakan berorientasi pada wirausahawan muda pertanian,” ujar Momon.

Dia menambahkan, dua tahun ini STPP sudah mulai mengawali program tersebut, dengan menerima mahasiswa umum. Ada empat jalur penerimaan mahasiswa yakni jalur umum, undangan, tugas belajar dan kerjasama. “Jalur kerjasama terus ditingkatkan dengan pemerintah daerah untuk menghasilkan lulusan yang berorientasi wirausahawan,” jelas Momon.

Selain itu, katanya, ada penambahan program studi. Awalnya 12 program studi. Ke depan akan bertambah menjadi 24 program studi atau lulusan D4. “Bahkan, kita akan menghasilkan lulusan D3 di Politeknik ex SMKPP,” tuturnya.

Penerimaan jumlah mahasiswa juga meningkat. Sebelumnya hanya menerima sekitar 900 orang. Namun peminatnya membludak. STPP Bogor sampai 2.000 orang, STPP Medan dan Malang sekitar 1.600 orang. Akhirnya diputuskan tahun ini meningkat menjadi 300 orang. “Sehingga tahun ini kita menerima 1.200 orang. Target kami tahun 2021 mahasiswa baru mencapai 3.600 orang,” terang Momon.

Imbas mahasiwa meningkat, katanya, harus diimbangi dengan tenaga pengajar. Untuk itu, tenaga dosen harus ditingkatkan. Saat ini baru 205 orang, maka tahun 2021 tenaga dosen ditargetkan berjumlah 400 orang. “Sehingga saat ini mulai membuka lowongan dosen Strata 2 (S2) dan Stra 3 (S3) untuk mengajar di Politeknik,” tambahnya.

Menurutnya, proses pembelajaran pada Politeknik Pembangunan Pertanianakan menggunakan pendekatan Teaching Factory atau pembelajaran usaha pertanian dalam arti utuh. Untuk itu, ke depan perlu ada peningkatan sarana prasarana pendidikan terutama penyediaan asrama.

Dia menerangkan, Kementan sudah melakukan kerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Alhamdulilah tahun ini sudah dibangun asrama pada dua lokasi yakni STPP Bogor dengan kapasitas 146 mahasiswa dan STPP Manokwari. “Namun kita juga mengusulkan agar seluruh STPP maupun ex SMKPP dibangunkan asrama mahasiswa,” katanya.

BPPSDMP saat ini tengah berupaya menumbuhkan regenerasi petani. Pertama, program PWMP bagi mahasiwa dan lulusan perguruan tinggi. Sejauh ini BPPSDMP sudah melakukan kerjasama dengan 16 perguruan tinggi. “Kita fasilitasi dalam bentuk kelompok berupa pemberian bimbingan teknis, bantuan modal dan monitoring,” tambahnya.

Kedua, program pendampingan mahasiwa alumni perguraun tinggi pada program Upaya Khsusus (UPSUS) padi, jagung dan kedelai. Tujuannya mengawal program-program Kementan, namun dapat menumbuhkan minat para alumni supaya tertarik terjun di sektor pertanian. “Tahun ini ada sekitar 2.000 alumni mahasiswa yang diikutsertakan pada program tersebut,” jelas Momon. Beledug Bantolo