Beranda Sawit Bertemu Pengusaha Belanda, Menko Luhut Bicara Peran Sawit Indonesia

Bertemu Pengusaha Belanda, Menko Luhut Bicara Peran Sawit Indonesia

BERBAGI
Menko Maritim, Luhut B. Pandjaitan saat bertemu dengan 15 pimpinan perusahaan besar Belanda yang berinvestasi di Indonesia di Den Haag, Belanda/ist

Agrofarm.co.id-Menko Maritim, Luhut B. Pandjaitan mengatakan, saat ini sedang meningkatkan produksi dan ekspor kelapa sawit untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal itu diungkapkan Luhut saat bertemu dengan 15 pimpinan perusahaan besar Belanda yang berinvestasi di Indonesia di Den Haag, Belanda.

“Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat selain pengentasan kemiskinan yang menjadi salah satu penyebab suburnya radikalisme, kami saat ini juga sedang meningkatkan produksi dan ekspor kelapa sawit untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sekitar 20 juta petani plasma sawit dan keluarganya,” ujar Luhut dalam keterangan resminya, Rabu (15/11/2017).

Untuk itu, katanya, akan berkeliling ke beberapa kota di Eropa untuk berdiskusi dan menyampaikan manfaat kelapa sawit bagi masyarakat di Indonesia.

Menko Luhut juga mengatakan, pada isu keamanan bahaya terorisme sejauh ini masih bisa dikendalikan oleh pemerintah. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mencegah bertumbuhnya radikalisme pemerintah serius mengurangi angka kemiskinan.

Dia menjelaskan, Indonesia patut gembira dengan penilaian dari badan-badan internasional tentang situasi perekonomian dan investasi di Indonesia. Meskipun, perbaikan-perbaikan masih perlu dilakukan untuk membuat keadaan lebih baik lagi.

“Saat ini dapat saya sampaikan bahwa situasi ekonomi lebih bagus dari tahun lalu. Baru saja Bank Dunia mengeluarkan penilaiannya bahwa Indonesia merupakan tempat yang tepat untuk berinvestasi, beberapa waktu lalu S&P juga meningkatkan rating Indonesia,” terangnya.

Namun dia menyadari bahwa masih banyak yang harus dibenahi, seperti memberantas kemiskinan terutama saat ini di bagian selatan Pulau Jawa.

“Kami juga sedang fokus pada pembangunan untuk pendidikan, menurunkan tingkat kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan keterampilan yang siap kerja di bidang industri.

Menko Luhut mengatakan pemerintah mulai mengurangi izin ekspor bahan mentah dan mendorong industri untuk mengolah produknya di dalam negeri sebelum mengekspor, sehingga ada nilai tambahnya.

Berdasarkan data, tahun 2016 pemerintah Belanda mencatat perdagangan bilateral antara kedua negara bernilai 3,4 miliar euro, Belanda mengimpor senilai 2,4 miliar euro dengan nilai ekspor hampir 1 miliar euro ke Indonesia. Tahun lalu investasi perusahaan Belanda di Indonesia bernilai hampir 2 miliar euro. Bantolo