Beranda Inspirasi Bernostalgia Zaman Menner di Tugu Kunstkring Paleis

Bernostalgia Zaman Menner di Tugu Kunstkring Paleis

BERBAGI
Foto : Bimo

Tugu Kunstkring Paleis, tempat ini memang merupakan salah satu tenant terbaru dari Tugu Hotel & Restaurants Group yang memang telah terkenal akan keunikannya. Sebut saja Dapur Babah, Lara Djonggrang, Samarra, dan Shanghai Blue 1920. Semua restoran ini memiliki dekorasi yang didominasi dengan barang-barang seni berumur ratusan tahun yang sarat akan makna.

Tugu Hotel & Restaurants Group memiliki visi ‘The art, soul and romance’ membawa kembali ke kehidupan seni yang indah, romansa, budaya dan sejarah Indonesia. Oleh karena itulah akhirnya Tugu Hotel & Restaurants Group memutuskan untuk mengambil alih salah satu bangunan bersejarah yang paling indah di Jakarta ini. Tugu Kunstkring Paleis merupakan hasil kerja sama Tugu Group dengan Lingkaran Seni Indonesia yang ingin mengembalikan fungsi awal dari bangunan ini.

Public Relation Manager Tugu Kunstkring Paleis, Rosiany T Chandra mengatakan bahwa, awalnya bangunan ini bernama Bataviache Kunstring, didirikan oleh orang belanda sebagai art center, sesuai dengan namanya kunstkring (kunst = seni, kring = lingkaran) menjadi lingkaran seni dimana orang-orang belanda bersosialisasi dalam bidang seni. Tujuannya untuk mempromosikan praktek dan antusiasme untuk seni rupa dan dekoratif Hindia. “Bangunan ini pertama kali dibuka pada tanggal 17 April 1914 dan dibuka kembali tepat 99 tahun kemudian oleh Tugu Group,” ujar Rosiany kepada AgroFarm.

Dulunya, lanjut Rosiany, gedung ini pernah menampilkan karya seni kelas dunia milik Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Paul Gauguin, Marc Chagall pada tahun 1934 dan 1939. Berdasarkan sejarah inilah, Grup Tugu mengambil alih gedung ini dan mengembalikan ke fungsi awal sebagai galeri seni dimana para seniman-seniman Indonesia dapat memamerkan hasil karyanya kepada masyarakat luas. Selain itu ditambahkan juga fungsi restoran agar masyarakat dapat mengenal Indonesia tidak hanya dari karya seni namun juga melalui makanan. “Disini, bukan hanya sebagai tempat dining, kita juga diatas ada gallery, ini perpaduan antara kuliner dan gallery,” ujar Rosiany dengan ramah.

Sambil Berkeliling, Rosiany menjelaskan kepada AgroFarm detail setiap ruangan yang ada di Tugu Kunstkring Paleis. Di sini, setiap ruangan memiliki cerita yang berbeda. Tugu Kunstkring Paleis, terdiri dari beberapa ruangan yang memiliki tema yang berbeda dengan nilai sejarah yang sangat kental. Seperti ruangan Pangeran Diponegoro yang merupakan ruang makan utama di Tugu Kunstkring Paleis. Ruangan ini sengaja dibuat sebagai penghormatan untuk Pangeran Diponegoro yang dikenal sebagai pejuang dari tanah Jawa pada masa Hindia Belanda.

Di ruangan ini Anda akan melihat sebuah lukisan yang sangat besar berukuran 9 m x 4 m yang berjudul The Fall Of Java. Lukisan ini menggambarkan tentang penangkapan Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830 di rumah Magelang Resident, setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Jenderal De Cock dari Pemerintah Hindia Belanda. Lukisan dengan tema The Fall of Java ini pernah dilukis oleh JW Pieneman dan Raden Saleh.

Bersebelahan dengan ruang Diponegoro, Anda bisa bersantai di Suzie Wong Bar. Ruangan yang satu ini terinspirasi dari sebuah novel karya Richard Mason yang bercerita tentang seorang wanita bernama Suzie Wong. Dia bekerja sebagai seorang wanita penghibur demi menafkahi anaknya. Kisahnya yang cukup fenomenal membuat sang founder dari Grup Tugu mendedikasikan satu ruangan untuk Suzie Wong. Dalam ruangan ini Anda akan dibawa ke dalam suasana dramatis di Hongkong pasca terjadinya perang pada tahun 1950an. “Disini lebih casual. Juga difungsikan sebagai smoking area bagi tamu yang masih ingin mengobrol santai di sini. Tersedia juga beberapa jenis wine, coffee dan tea,” imbuh Rosiany.

Dibalik lukisan Fall of Jawa, beberapa ruang makan privat dengan kapasitas 12 hingga14 orang. Salah satunya adalah ruangan Multatuli. ruang ini didedikasikan untuk seorang tokoh Belanda bernama Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan Multatuli. Beliau dikenal sebagai orang menentang sistem tanam paksa yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada masanya. Dalam ruangan ini, Anda bisa melihat lukisan Multatuli yang menjadi salah satu dekorasi dalam ruangan ini.

Lalu ada ruangan Soekarno yang didedikasikan untuk sang proklamator Ir. Soekarno. Dalam ruangan ini, Anda akan menemukan berbagai gambar dari sang proklamator yang merupakan koleksi dari founder Grup Tugu. “Ruangan ini juga bisa dijadikan private area jika ingin menikmati suasana ruang Soekarno dengan orang-orang terdekat,” ujar Rosiany.

Menu andalan di Tugu Kunstkring, Betawi Grand Rijsttafel. Rijsttafel merupakan cara makan berurutan dengan pilihan menu Nusantara yang kerap digunakan oleh orang Belanda dan Eropa di Batavia saat itu. Sajian diawali dengan makanan pembuka (appetizer), lalu makanan utama dan diakhiri dengan makanan penutup. Di sini, rijsttafel yang dikombinasikan dengan budaya betawi dipersembahkan oleh para pelayan dengan membawakan makanan sambil diiringi tarian dan musik betawi. “Ini menjadi ciri utama dari Restoran Tugu Kunstring Paleis, dengan tetap mempertahankan tradisi rijsttafel,” papar Rosiany.

Hidangan favorit di sini adalah nasi uduk yang dibungkus dengan daun pisang, sup lidah sapi dan daging cincang yang disajikan dengan batang kelapa manis. Anda juga bisa menyicipi tempe lombok ijo serta ayam setan yang dibumbui paprika hijau, tomat dan mustard hijau, sebagai makanan pembuka. Pilihlah kue onde-onde khas Betawi, tradisonal telo ungu platter atau es selendang mayang sebagai hidangan penutup. “Tradisional telo ungu platter yang terbuat dari ubi ungu. Dengan mengkreasikan karya ini, kita juga populerkan kreasi makanan dari bahan dasar yang banyak di Indonesia. Ternyata ubi ungu itu bisa juga diolah menjadi onde-onde,” imbuh Rosiany.

Bosan duduk di dalam ruangan?? Anda bisa menikmati suasana open air di Balcony Van Menteng. Di area ini Anda dapat menikmati suasana senja yang sejuk sambil melihat pemandangan yang mengelilingi tempat ini. Suasana ini sangat cocok bagi Anda yang menginginkan suasana sore hari yang romantis sambil menikmati berbagai pilihan teh yang diimpor dari seluruh dunia dan juga kopi dari hasil perkebunan Grup Tugu yang berada di Blitar, serta hidangan aneka snack tradisonal yang dapat memanjakan lidah Anda. (Puspita Rahmadyanti)