Beranda Pertanian Beras Medium Mulai Langka di Pasar Cipinang

Beras Medium Mulai Langka di Pasar Cipinang

BERBAGI
Pemerintah perlu menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras. (Ist)

Agrofarm.co.id-Kondisi pasokan beras medium di pasar semakin seret. Meskipun Menteri Pertanian mengatakan stok beras masih cukup. Akan tetapi, dilihat di lapangan harga beras hari ini terendah Rp 10.500/kilogram (kg).

Hal itu dikatakan oleh Zulkarnain Pedagang Beras Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), pada acara Lokakarya Evaluasi Kebijakan Stabilisasi Pangan (Beras) 2017 di Hotel Aston Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Dia menjelaskan, semenjak harga eceran tertinggi (HET) ditetapkan oleh pemerintah 1 September 2017 sampai saat ini beras medium langka di pasar.

“Ada kekhawatiran kita beras medium ini menghilang di pasar. Hal ini mulai terlihat pada bulan November harga gabah tidak ada dibawah Rp 5.000/kg, rata-rata harga sekitar Rp 5.400-5.600/kg,” kata Zulkarnain.

Dia menyebutkan, apabila harga gabah Rp 5.600/kg dengan rendemen 54%, maka harga beras menyentuh Rp 11.000/kg. “Sementara itu, beras medium paling banyak dinikmati oleh masyarakat menengah kebawah hingga 70%,” tandasnya.

Dia menambahkan, pasokan beras ke pasar pada minggu ini mengalami penurunan. “Satu bulan ini Bulog juga sudah melakukan operasi pasar dengan harga jual sekitar Rp 7.525/kg. Sedangkan pedagang harus menjual beras sesuai HET sebesar Rp 8.100/kg,” tuturnya.

Dia juga mengeluhkan, kelangkaan pasokan beras medium. Untuk itu, dia mengusulkan agar pemerintah membuka keran impor beras. “Kita boleh impor ketika perlu. Dan kita tidak impor disaat pasokan beras melimpah,” ujar Zulkarnain.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Karyawan Gunarso mengatakan, Bulog berperan dalam stabilisasi di tingkat hulu melalui mekanisme Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Saat ini HPP Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 3.700/kg, Gabah Kering Giling (GKG) Rp 4.600/kg dan beras Rp 7.300/kg.

Dia menyebutkan harga GKP saat ini mencapai Rp 6.200/kg. Apabila Bulog nmengacu pada Inpres No.5 Tahun 2015, maka kewajiban stabilisasi harga di tingkat petani sudah selesai. “Pada prinsipnya HPP yang ditetapkan oleh pemerintah itu sebagai harga penyangga,” ujar Karyawan.

Pada kuartal III 2017 harga gabah sudah tinggi, pemerintah meminta Bulog untuk menaikan harga beli dengan skema harga fleksibilitas sebesar 10%.

“Dari harga Rp 7.300 menjadi Rp 8.030/kg. namun dalam perkembangannya pedagang dan masyarakat sulit mencari barang di harga itu,” ungkapnya.

Dia mengakui, Bulog terbentur pada aturan. Ini menjadi tantangan dalam aspek stabilisasi di tingkat hulu. Memasuki “Bulan Januari hingga Maret 2018 akan masuk panen raya, sementara saat ini Bulog mebeli beras Rp 8.030/kg,” katanya.

Pada periode itu biasanya harga akan cenderung turun, bahkan jatuh. “Untuk itu, peran Bulog sebagai penjamin pasar dan harga petani,” ujar Kayawan. Bantolo