Beranda Sawit Barter Sawit dengan Pesawat Sukhoi Untungkan Indonesia

Barter Sawit dengan Pesawat Sukhoi Untungkan Indonesia

79
BERBAGI
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita/ist

Agrofarm.co.id-Imbal dagang sebelas Sukhoi SU-35 Rusia dengan sejumlah produk ekspor Indonesia mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit ini menguntungkan Indonesia.

Imbal dagang di bawah supervisi kedua Pemerintah ini diharapkan dapat segera direalisasikan melalui pertukaran sebelas Sukhoi SU-35 dengan sejumlah produk ekspor Indonesia mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit dan produk-produk industri strategis pertahanan, jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam siaran persnya, Senin (14/8/2017).

Adapun Kedua Menteri beserta delegasi masing-masing juga menyaksikan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara BUMN Rusia, Rostec, dengan BUMN Indonesia, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, terkait rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35 untuk menggantikan armada F-5 Indonesia yang sudah usang.

Enggar berharap agar kesepakatan imbal dagang kali ini dapat disusul oleh kesepakatan serupa menyangkut produk atau sektor lain. Kesempatan itu kini sangat terbuka karena Rusia menghadapi embargo perdagangan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, serta sekutu-sekutunya terkait isu keamanan dan teritorial. Sementara Rusia membalas dengan mengenakan sanksi pembatasan impor dari negara-negara tersebut. Akibat embargo dan kontra embargo ini Rusia memerlukan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk buah-buahan tropis, serta produk esensial lainnya.

Ini peluang yang tidak boleh hilang dari genggaman kita. Potensi hubungan ekonomi yang memanfaatkan situasi embargo dan kontra embargo ini melampaui isu-isu perdagangan dan investasi yang biasa karena kita juga melihat peluang di bidang pariwisata, pertukaran pelajar, kerja sama energi, teknologi, kedirgantaraan, dan lainnya, imbuh Mendag Enggar.

Mendag juga berharap dapat mempercepat terbentuknya Indonesia-Russia Preferential Trade Agreement (PTA) dan Indonesia-Eurasia FTA agar dapat mendorong perdagangan yang seimbang dengan Rusia dan negara-negara di kawasan Eurasia.

Negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin ini berperan penting dalam hubungan dagang Indonesia. Rusia menjadi pintu gerbang produk Indonesia ke zona Uni Ekonomi Eurasia, yang terdiri dari Rusia, Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kyrgyzstan. Rusia juga merupakan pasar nontradisional terbesar untuk produk dan jasa layanan Indonesia di Eropa Tengah dan Timur.

Mendag menambahkan, misi dagang ke Rusia sukses menghasilkan perjanjian-perjanjian prospektif. Capaian ini diharapkan mampu menggenjot ekspor nonmigas Indonesia ke Negeri Beruang Merah itu pada tahun 2017 ditargetkan meningkat 20,87% atau menjadi USD 1,52 miliar.

“Ekspor nonmigas ke Rusia ditargetkan meningkat 20,87% atau sebesar USD 1,52 miliar untuk menunjang target peningkatan ekspor nonmigas pada tahun 2017 sebesar 5,6%. Misi dagang ini juga dimaksudkan untuk memperluas akses pasar ke mitra nontradisional, khususnya Rusia dan negaranegara Eurasia,” jelas Mendag.

Perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia dapat dikatakan masih sangat rendah disbanding potensinya. Pada tahun 2012 total perdagangan kedua negara hanya mencatat USD 3,4 miliar dengan defisit di pihak Indonesia sebesar USD 1,6 miliar.

Nilai perdagangan dan defisit yang sama dicatat pada tahun 2013 sebelum perdagangan bilateral menurun menjadi USD 2,6 miliar pada tahun 2014 dan USD 1,9 miliar pada tahun 2015 yang dibarengi perbaikan dalam posisi neraca bagi Indonesia. Pada tahun 2015 Indonesia mulai mencatat surplus perdagangan senilai USD 1,1 juta dengan Rusia dan meningkat menjadi USD 411 juta pada tahun 2016. Diany

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here