Beranda Pertanian Bantuan Pangan Non Tunai Akan Ubah Model Bisnis Bulog

Bantuan Pangan Non Tunai Akan Ubah Model Bisnis Bulog

BERBAGI
Gedung Perum Bulog. (Ist)

Agrofarm.co.id – Adanya rencana pemerintah mengganti kebijakan distribusi beras sejahtera (Rastra) ke Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), akan berimba pada perubahan bisnis model  Perum Bulog.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Karyawan Gunarso mengungakpkan, Bulog sebagai operator sudah 20 tahun melaksanakan program rastra. Ini juga merupakan amanah sesuai Instruksi Presiden (Inpres) No.5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah.

“Program ini merupakan integrasi antara mengamankan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras untuk petani dan bantuan masyarakat miskin,” ujar Karyawan usai diskusi Antisipasi Penerapan Kebijakan Rastra Sistem Tunai di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (29/5/2017).

Menurutnya, pelaksanaan program pengadaan beras, hampir 90 persen itu outletnya berupa rastra. “Sesuai dengan Inpres, beras untuk rastra berjenis medium. Persoalan bagi Bulog kedepan, akan ada perubahan manakala rastra bertransformasi menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT),” jelas Karyawan.

Dia menambahkan, pada dasarnya program BPNT ini menggunakan mekanisme pasar bebas (free market). Tidak hanya Bulog, akan tetapi siapa pun pihak mempunyai akses boleh menyiapkan beras medium. “Kami mempertanyakan pelaksanaan Inpres No.5 seperti apa di lapangan nantinya,” tandasnya.

“Apabila operatornya tetap Bulog, maka diusulkan beras yang akan diserap harus ada jaminan outletnya.Sebaliknya untuk memenuhi program BPNT bisnis proses penyerapan beras Bulog akan berubah menjadi komersil. Dalam bantuan BPNT kami akan melihat selera masyarakat terlebih dahulu. Jika beras premium, maka Bulog akan menyerap beras jenis ini dari para petani,” terangnya.

Dia menegaskan, Bulog sebagai operator siap melaksanakan keputusan pemerintah. “Adanya program BPNT, maka model bisnis Bulog akan berubah menjadi penyerapan beras komersil,” ujar Karyawan.

Sementara itu, pengamanan sosial untuk Bulog, berupa cadangan beras pemerintah (CBP) setiap tahun sekitar 280.000 ton. “Untuk itu, pihaknya mengsulkan agar stok CBP dapat ditingkatkan,” katanya.

Adanya rencana percepatan rastra menjadi BPNT per 1 Juli 2017. Sementara saat ini stok Bulog sebanyak 2,1 juta ton. Kewajiban Bulog menyalurkan  rastra hingga Juni  sebanyak 600.00 ton, CBP sekitar 200.000 ton dan lainnya 100.000 ton. “Jadi stok 2,1 juta ton dikurangi 900.000 ton, alhasil stok Bulog sampai akhir tahun sebanyak 1,1 juta ton,” ujar Karyawan.

Parahnya lagi, anggaran pengadaan beras tidak lagi ditanggung oleh APBN. Sepenuhnya berasal dari pinjaman bank. “Setiap tahun Bulog harus membayar Rp 1,2 triliun untuk bunganya saja. Sehngga akhir tahun kami harus mengembalikan uang tersebut,” tandasnya. Beledug Bantolo