Beranda Sawit Asian Agri Bagikan Premi Rp 2,6 M kepada 29.000 Petani Sawit

Asian Agri Bagikan Premi Rp 2,6 M kepada 29.000 Petani Sawit

207
BERBAGI
Foto : Asian Agri bagikan premi kepada petani sawit binaannya. (Ist)

Agrofarm.co.id –  Asian Agri membagikan dana sebesar Rp 2,6 miliar kepada perwakilan 6 (enam) asosiasi KUD yang menaungi sekitar 29.000 petani plasma di Provinsi Riau dan Jambi. Mereka telah memperoleh sertifikasi berkelanjutan di bidang kelapa sawit yakni  Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan ISCC (International Sustainability & Carbon Certification).

Dana tersebut merupakan insentif dari penjualan minyak sawit berkelanjutan yang diserap oleh pasar internasional selama tahun penjualan 2015.

Kegiatan ini merupakan penghargaan dan apresiasi kepada para petani kelapa sawit binaan Asian Agri yang telah menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan. Kemitraan dengan  petani sawit memungkinkan Asian Agri  secara konsisten mendampingi petani untuk memperoleh hasil yang optimal dan berkelanjutan sehingga memperoleh kepastian akses dan pasar ekspor.

Direktur Asian Agri, Freddy Widjaya menjelaskan bahwa pembagian premi (premium sharing) ini merupakan komitmen perusahaan untuk terus mendukung industri sawit Indonesia yang berkelanjutan.

“Sejak tahun 2011, Asian Agri secara konsisten mendampingi petani plasmanya memperoleh sertifikat internasional baik RSPO maupun ISCC.  Pasar internasional, terutama negara-negara Eropa, merupakan pasar yang potensial bagi ekspor minyak sawit bersertifikasi internasional, sedangkan premi yang akan dihasilkan nantinya merupakan insentif tambahan bagi petani,” ujar Freddy di Jakarta.

Premi penjualan minyak sawit berkelanjutan tahun 2015 ini dibagikan oleh Asian Agri melalui 6 asosiasi KUD yang menangungi lebih dari 71 KUD untuk 29,000 petani plasma binaan yang mengelola 60,000 ha kebun sawit.

“Kami berharap premi yang diserahkan ini akan dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan petani secara kolektif, seperti perbaikan infrastruktur desa, pelatihan praktik ramah lingkungan, peningkatan kapasitas petani maupun hal-hal lain untuk kesejahteraan petani. Komitmen kami untuk berbagi premi penjualan minyak sawit berkelanjutan ini tentunya akan didasari oleh kondisi pasar pada tahun yang sedang berjalan dan prinsip kemitraan yang saling menguntungkan,” jelas Freddy.

Melalui kemitraan, Asian Agri sebagai perusahaan mitra petani sawit terus melakukan  penguatan kelembagaan petani kelapa sawit – termasuk dalam rangka mewujudkan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), sehingga para petani mampu menghadapi persaingan pasar global serta menjadi bagian dari kampanye positif pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan, baik di dalam maupun di luar negeri dengan tujuan Indonesia dapat menjadi referensi industri sawit dunia.

Kelapa sawit merupakan produk agrobisnis strategis Indonesia, dan saat ini Indonesia merupakan negara penghasil dan pengekspor kelapa sawit terbesar di dunia. Nilai ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia mencapai lebih dari USD 17 miliar setiap tahun dan merupakan pencipta devisa ekspor terbesar.

Diki Arianto, salah satu perwakilan penerima premi dari petani binaan Asian Agri yang berasal dari KUD Barokah Jambi mengatakan, “Kami mengucapkan terima kasih atas penerimaan premi sebagai bukti nyata kerja keras kami sebagai petani selama ini. Sehingga kami mengharapkan kerjasama yang saling menguntungkan ini bisa terus berjalan.”

Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, program kemitraan dengan pola inti-plasma yang sejak dulu diterapkan, sekarang telah terkikis oleh zaman. Aturannya ada, akan tetapi jumlahnya mulai berkurang.

Menurutnya, Asian Agri dengan program kemitraan dengan petani terus berjalan hingga sekarang. Bahkan telah mampu membina dan menjadi  pembeli (off taker) dari produksi sawit petani swadaya. “Perusahaan mempunyai kepentingan terhadap kualitas produk yang dihasilkan, sehingga pendampingan mutlak dilakukan,” tandasnya.

Menurutnya, Asian Agri telah memberikan kontribusi nyata terhadap devisa negara melalui ekspor minyak sawit. Perusahaan juga telah mendukung ekspor Indonesia. “Program kemitraan yang sudah dilakukan dengan petani plasma maupun swadaya perlu dicontoh oleh perusahaan sawit lain,” tandasnya.

Dia menuturkan, peningkatan kualitas memberikan dampak positif terhadap industri sawit nasional. Tuduhan negatif dilontarkan terus oleh negara-negara maju. “Indonesia telah mempunyai sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan mendesak negara-negara luar menerima sertifikasi ISPO,” jelas Enggar.

Ini merupakan komitmen Indonesia atas sustainable palm oil dan sesuai kriteria dunia internasional. Asian Agri membina para petani dan membagi keuntungan berupa premi. Pemerintah memberikan perhatian kepada petani dan meminta agar hasil panen dapat terbeli, salah satunya melalui skema kemitraan dengan perusahaan.

Mendag meminta agar Asian Agri tidak hanya melakukan kemitraan di sektor hulu saja, akan tetapi  dari hulu hingga hilir sawit. “Jadilah perusahaan yang dicintai rakyat dan menjadi panutan atau contoh bagi perusahaan sawit lain,” tandasnya.

Dia mencontohkan, kemitraan sektor hilir sawit yakni pengembangan produk minyak goreng. Perusahaan bisa menggandeng masyarakat dalam pembuatan packaging minyak goreng di daerah. “Wadahnya bisa berupa koperasi dan nantinya akan dibina oleh Kementerian UKM dan Koperasi,” jelas Enggar

Selain itu, dia mendorong perusahaan untuk melakukan program integrasi sawit dengan sapi guna mendukung swasembada daging. Petani plasma melalui koperasi dapat memgimpor 10 sapi indukan dan akan dibantu kredit oleh pemerintah dengan skema kredit usaha rakyat (KUR). “Program ini akan mendaptkan nilai tambah bagi petani sawit,” ujar Mendag.

Freddy menambahkan, perusahaan sudah menjalankan program integrasi sawit-sapi. Saat ini terdapat 1.000 ekor sapi yang sudah dikembangkan oleh para petani binaan Asian Agri. Tujuannya agar petani memperoleh tambahan pendapatan dalam menghadapi masa peremajaam tanaman sawit (replanting).

“Tiga tahun masa replanting, petani tidak mendapatkan penghasilan, maka ada sumber pendapatan lain dari pengembangan sapi di perkebunan sawit,” ujar Freddy. Beledug Bantolo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here