Beranda Kehutanan Ancaman Ekspor Kayu Indonesia Setelah Brexit dari Eropa

Ancaman Ekspor Kayu Indonesia Setelah Brexit dari Eropa

BERBAGI
foto ist

Agrofarm.co.id-Uni Eropa (UE) merupakan salah satu pasar utama ekspor kayu olahan dan produk kayu Indonesia. Lisensi FLEGT atau Forest Law Enforcement, Governance, and Trade akan memberikan potensi bagi ekspor produk kayu Indonesia ke pasar UE. Inggris merupakan pasar strategis di pasar UE. Proses keluarnya Inggris ke UE akan memberikan dampak pada kerja sama perdagangan yang telah dibangun UE dan negara pemasok, termasuk negosisasi FLEGT Volutary Partnership Agreement (FLEGT VPA).

Kondisi itu disampaikan, Kasan Muhri,  Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, dalam rilis yang diterima Agrofarm, Selasa (18/4/2017).

Untuk itu, Indonesia, kata Kasan,  perlu mengetahui keberlangsungan lisensi FLEGT setelah keluarnya Inggris dari UE atau Brexit. Potensi Ekspor Produk Kayu Indonesia ke EU melalui Lisensi FLEGT Ekspor kayu olahan dan produk kayu Indonesia ke pasar dunia tercatat USD 3,87 miliar dengan kenaikan rata-rata per tahun sebesar 6,06% selama 2011-2015. Sebagian besar ekspor ditujukan ke pasar RRT (pangsa 22,13%) dan Jepang (pangsa 20,60%). Adapun ekspor ke pasar UE tercatat USD 448 juta pada 2015.

Menurut Kasan, Inggris merupakan pasar strategis ekspor kayu olahan dan produk kayu Indonesia di UE. Pangsa pasar Inggris tercatat 27,11%; dengan kenaikan rata-rata per tahun yang tinggi sebesar 10,14% per tahun selama 2011-2015. Selain itu, Jerman dan Belanda juga merupakan pasar utama ekspor dengan pangsa masing-masing sebesar 25,20% dan 23,49%.

Kendati demikian, tren ekspor ke Jerman dan Belanda mengalami penurunan setiap tahunnya masing-masing sebesar 4,94% dan 3,83% selama 2011-2015.

Impor kayu olahan dan produk kayu Inggris bahkan masih mencatatkan tren kenaikan per tahun yang cukup signifikan. Sebaliknya, kata Kasan, tren impor UE justru bernilai negatif. Lisensi FLEGT akan memberikan potensi bagi ekspor kayu olahan dan produk kayu Indonesia di pasar UE. FLEGT pun akan membantu Indonesia dalam mengatasi permasalahan illegal logging serta mendorong sektor kehutanan yang inklusif. Dalam dua tahun ke depan, Inggris akan keluar dari UE. Kendati demikian, dalam proses transisi ini, Inggris masih akan tergabung dalam kebijakan dan kerja sama perdagangan yang dilakukan oleh UE, termasuk FLEGT VPA.

“Inggris diperkirakan masih akan mempertahankan lisensi FLEGT dan negosiasi VPA mengingat FLEGT dapat memberikan manfaat yang besar bagi negara importir, terutama Inggris sebagai salah satu negara importir utama di pasar UE,”prediksi Kasan. diany