GAPKI : Perang Dagang AS-China Pengaruhi Pasar Minyak Nabati

Foto : Staf Ahli Menteri Pertanian, Mukti Sardjono. (Ist)

Agrofarm-Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China semakin panas, mulai berpengaruh pada minyak nabati lainnya yang merupakan salah satu komoditi perdagangan kedua negara tersebut.

Amerika telah mulai menerapkan tarif pajak tinggi kepada barang dari China dan Negeri Tirai Bambu tidak tinggal diam. Retaliasi pun dibalas secara proporsional dengan mengurangi pembelian kedelai dari AS.

“Eskalasi perselisihan dagang kedua negara Adi Kuasa ini mulai berpengaruh pada minyak nabati lainnya yang merupakan salah satu komoditi perdagangan kedua negara tersebut. Dengan pengurangan pembelian kedelai oleh China menyebabkan stok kedelai di AS melimpah,” kata Mukti Sardjono Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam siaran persnya, Rabu (11/7/2018).

Di sisi lain China, lanjutnya, telah mempersiapkan diri dengan munumpuk stok di dalam negeri jauh hari sebelum perselisihan dagang dimulai. Melimpahnya stok kedelai AS dan permintaan pasar global yang lemah hargapun mulai jatuh.

“Pada saat yang sama stok minyak nabati lain seperti rapeseed, bunga matahari dan minyak sawit juga cukup melimpah di negara produsen. Akibatnya harga minyak nabati menurun karena hukum ekonomi mulai berlaku, ketersediaan barang melimpah, permintaan sedikit, maka harga murah,” jelas Mukti.

Berdasarkan data GAPKI, sepanjang Mei 2018 volume ekspor minyak sawit secara total termasuk biodiesel dan oleochemical membukukan penurunan sebesar 3% atau dari 2,39 juta ton di April susut menjadi 2,33 juta ton pada Mei.

Khusus volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya tidak termasuk biodiesel dan oleochemical pada Mei 2018 tercatat menurun 4% dibandingkan dengan April lalu atau dari 2,22 juta ton di April merosot menjadi 2,14 juta ton di Mei. “Penurunan ekspor dipengaruhi stok minyak nabati lain yang melimpah di pasar global sehingga harga yang murah juga tidak mendongkrak permintaan,” tukasnya.

Pada Mei ini, volume ekspor CPO dan turunannya ke Pakistan meningkat 29%. Peningkatan impor yang cukup signifikan setelah selama 3 bulan terakhir stagnan. Naiknya volume ekspor di Pakistan karena harga minyak sawit yang sedang murah sehingga para traders memanfaatkan kesempatan untuk menggendutkan stok minyak sawitnya.

Peningkatan volume ekspor juga diikuti negara tujuan ekspor di Afrika yang membukukan kenaikan sebesar 29,5% atau dari 176,64 ribu ton di April terkerek menjadi 228,75 ribu ton di Mei. Ini adalah volume tertinggi sepanjang tahun 2018. AS dan China yang sedang berseteru juga mengeskalasi impor minyak sawitnya pada Mei ini. China membukukan kenaikan 6% dan AS mencatatkan kenaikan 18%.

Pada sisi lain, turunnya harga tidak mampu menarik pembeli dari India untuk menimbun stok minyak sawit. Sejak tarif bea masuk yang tinggi untuk minyak sawit permintaan India mengalami kelesuan dan sudah pada tahap akut. Pada Mei ini, India mencatatkan penurunan impor CPO dan turunannya sebesar 31% atau 346,28 ribu ton turun merosot menjadi 240,16 ribu ton. Pasar India yang sudah tergerus lebih dari 50% dari sejak awal tahun yang juga turut berkontribusi menyebabkan stock minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menjadi tinggi karena susutnya pembelian yang sangat signifikan.

Beralih ke negara Benua Biru, Ekspor ke Uni Eropa sudah dipastikan menurun karena melimpahnya produksi minyak bunga matahari dan rapeseed. Sepanjang Mei Uni Eropa membukukan penurunan impor sebesar 7% atau dari 385,10 ribu ton di April menyusut menjadi 359,31 ribu ton di Mei. Bantolo

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*