Asbenindo Dorong Penggunaan Benih Padi Hibrida

Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Yuana Leksana (kanan)/ist

Agrofarm-Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Yuana Leksana, mengungkapkan, produktivitas jagung meningkat, salah satu kontbusi utama adalah penggunaan teknologi hibrida.

Adapun produktivitas adalah parameter atau refleksi dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian berlanjut mendorong keterlibatan sektor swasta dalam industri benih.

“Keterlibatan industri benih berdampak positif pada rangkaian proses yang sistematis mulai dari kebutuhan pasar, penelitian, produksi benih, pemasaran hingga pendampingan konsumen,” tutur Yuana dalam acara Diskusi Tebatas bertema Produktivitas Padi versus Importasi Beras, Ada Apa? yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) di kantor Kementerian Pertanian (Kementan) Jakarta, Senin (09/7/2018).

Berdasarkan data Kementan, dalam tiga tahun belakangan produksi padi terus menngkat, namun dari sisi produktivitas menurun. Sedangkan produksi jagung naik, dikarenakan luas panen meningkat, sementara tingat produktivitasnya turun.

Produktivitas padi tahun 2015 sebesar 5,34 ton per hektar, tahun 2016 turun menjadi 5,24 ton per hektar dan tahun 2017 hanya mencapai 5,16 ton per hektar.

Meskipun, lanjutnya, pemerintah telah mendorong penggunaan benih bermutu dan varietas unggul melalui subsidi benih. “Anehnya, banyaknya bantuan benih pemerintah, namun dari aspek podukivitas malah menurun,” ujarnya.

Dia menyebutkan, varietas padi Ciherang yang dilepas pada tahun 2000, masih mendominasi 30.44% luas tanam padi nasional. Padahal Kementan telah banyak varietas padi dilepas setelahnya yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. “Misalnya varietas padi Mekongga dan Inpari yang ditanam dalam skala luas.”

Untuk itu, dia mendorong penggunaan benih padi hibrida. Teknologi sudah diperkenalkan pada tahun 2001 lewat pelepasan varietas dan diseminasi teknologi Kaji Terap, baik oleh Kementan maupun swasta. “Hibrida sudah terbuki pada jagung karena sekitar 70 persen areal tanam sudah menggunakan hibrida,” jelasnya.

Selain itu, ketersediaan fasilitas penelitian dan produksi benih di dalam negeri, serta kemitraan penangkaran yang terjalin baik untuk benih jagung.

“Padi hibrida menjadi pilihan di banyak negara Asia, misalkan China, India, Pakistan, Bangladesh, Filipina dan Vietnam,” ujar Yuana.

Dia menyebutkan, produktivitas padi hibrida lebih tinggi sekitar 20 sampai 30 persen ketimbang benih biasa. Bantolo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*