BGA Bantu Petani Sawit Miliki Kembali Lahan yang Sudah Terjual

Petani sawit plasma/ist

Agrofarm-Permasalahan terjadinya jual beli lahan plasma atau pengalihan hak kepemilikan kebun anggota plasma pertama kepada pihak kedua hampir terjadi di program kemitraan semua perusahaan perkebunan. Tidak terkecuali di perkebunan kemitraan Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Group.

Hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman petani bahwa kelapa sawit adalah invetasi jangka panjang, dengan demikian sebelum kebun menghasilkan petani harus mempunyai usaha lain seperti menjadi tenaga kerja dan atau melakukan tumpang sari selama kebun belum menghasilkan.

Tetapi karena tuntutan dan kebutuhan ekonomi yang mendesak seperti biaya pengobatan, biaya sekolah anak dan lain sebagainya, maka pada saat itulah pihak yang punya uang menawarkan untuk mengambil alih kebun mereka, dengan sangat terpaksa karena tidak ada pilihan lain maka terjadilah penjualan kebun atau kavling plasma mereka dengan sang pembeli.

Program Pembangunan Kebun Plasma bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga di sekitar perkebunan. Sehingga kebun merupakan sumber pendapatan yang pasti dari petani anggota.

Meskipun penjualan lahan plasma tidak dianjurkan oleh Peraturan Daerah (Perda) namun demikian para petani tetap saja melakukannya dengan alasan memenuhi kebutuhan ekonomi. Kavling plasma milik mereka terpaksa dijual dengan harga yang murah dan tak sebanding dengan hasil penjualan buah sawit yang dihasilkan jika sudah usia tanaman memasuki tahun keempat.

Menyikapi persoalan tersebut, Departemen Kemitraan BGA Group melakukan pembinaan dan sosialisasi bahwa kavling kebun plasma adalah aset investasi jangka panjang.

Untuk itu, kata Manager Kemitraan BGA Group Iswandi Ilyas, perusahaan memfasilitasi koperasi dengan melakukan program pengembalian atau penebusan kebun atau kavling petani yang sudah terjual agar bisa dimiliki kembali oleh pemilik pertama melalui dana surplus escraw account koperasi, seperti koperasi mitra binaan yakni Koperasi Harapan Abadi di sekitar PT Windu Nabatindo Lestari (anak usaha BGA Group), Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

“Mekanismenya, Koperasi Harapan Abadi memberikan uang ganti rugi kepada pembeli agar mau mengembalikan lahan plasma yang dibelinya. Program ini disambut sukacita oleh para anggotanya karena berkesempatan untuk memiliki kembali kebun sawit miliknya yang dulu sudah dijual,” jelas Iswandi dalam keterangan resminya, Jumat (06/7/2018).

Per April 2018, Koperasi harapan Abadi telah merealisasikan pengembalian lahan tahap ke-1 seluas 600 hektar (ha) dengan mencairkan dana sebesar Rp. 5 Miliar. Kemudian memperhatikan program tahap pertama ini cukup berhasil, maka koperasi mengajukan kembali program pengambilalihan (tahap ke-2) dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp.5 Miliar lagi dengan rencana luasan 400 ha.

Adanya program ini, Koperasi harapan Abadi sebagai mitra PT BGA Group sudah berupaya untuk membantu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga desa Pantai Harapan. Hal ini sejalan dengan amanat UU No.25 tentang Perkoperasian yaitu mensejahterakan anggotanya. Selain itu, program ini juga merupakan pagar sosial yang akan mendukung keberlangsungan jalannya usaha BGA Group.

“Dengan demikian, perusahaan berharap agar program pengambilalihan kavling petani anggota di koperasi harapan abadi ini dapat menjadi contoh bagi koperasi lainnya dilingkungan mitra kerja BGA Group,” pungkasnya. Bantolo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*