Dagang Teh dan Rempah di AS, Indonesia Raup USD 1,68 Juta

Perkebunan teh. (Ist)

Agrofarm-Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles dan Atase Pertanian Washington DC menutup Ramadan 2018 dengan mempromosikan produk teh dan rempahrempah Indonesia. Promosi tersebut dilakukan dengan mengikuti pameran World Tea Expo 2018 yang diselenggarakan pada 1114 Juni 2018 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Pada ajang ini, produk teh dan rempah-rempah Indonesia berhasil membukukan transaksi sebesar USD 1,68 juta.

“Pada pameran ini total transaksi Paviliun Indonesia mencapai USD 1,68 juta. Nilai ini tidak hanya berasal dari buyer AS, tetapi juga dari Austria, Jerman, Inggris, Venezuela, dan Spanyol. Selain itu, produk yang terjual tidak hanya teh, tapi juga beberapa jenis rempah-rempah,” ungkap Kepala ITPC Los Angeles Antonius Budiman dalam keterangan resminya, Minggu (01/7/2018).

Pada pameran ini, Paviliun Indonesia menampilkan empat perusahaan teh yaitu PT Harendong Green Farms, PT Bukit Sari, PT Mitra Kerinci, dan PT Tri Bintang Interglobal. Perusahaan tersebut menampilkan berbagai varian teh khas Indonesia seperti teh oolong, teh melati, teh putih, teh hijau, serta teh hitam.

Selain itu, ditampilkan berbagai racikan teh spesial yang saat ini sangatdigemari kalangan pencinta teh dunia seperti umami, my humble bee, dan unparalled interlude. Para produsen ini telah memiliki sejumlah sertifikasi/standar seperti sertifikat organik dari United States Department of Agriculture (USDA), Japanese Agricultural Standard (JAS), Canadian Organic Standards (COS), Non-GMO, Halal, serta Organik Indonesia.

“Kita perlu mengedukasi pasar AS mengenai kualitas dan kesiapan produsen teh Indonesia dalam memenuhi permintaan pasar AS,” ujar Atase Pertanian Washington DC Rindayuni Triavini.

Pada kesempatan ini Paviliun Indonesia juga menampilkan teh kemasan atau teh siap konsumsi merek Teh Botol Sosro dan Teh Kotak. Teh kemasan Indonesia mendapatkan penilaian positif, baikdari buyer, blogger, maupun pengamat industri minuman teh di AS. Selain itu, teh Indonesia juga mendapatkan penilaian positif dari perwakilan sejumlah perusahaan terkemuka di AS, seperti Starbuck, Bigelow Tea, dan Wholefood.

“Selain produk teh, perwakilan perusahaan AS cukup antusias mencoba sejumlah penganan ringan pendamping minuman teh asal Indonesia seperti Royal Danish, Danisa, Astor, Butter Coconut Biscuit, Sesame Biscuit, dan Speculaas Caramel,” kata Anton.

Salah satu perusahaan Indonesia yang mengikuti pameran ini, yaitu PT Harendong Green Farm berhasil mendapatkan dua penghargaan medali perak pada ajang Global Tea Championship 2018. Penghargaan tersebut diperoleh untuk kategori Tea Competition Best Small Batch Iced Tea untuk varian organic premium oolong tea dan organic premium black tea.

Selain itu, teh Indonesia juga diulas pada segmen khusus dalam buku World of Tea, yang ditulis oleh Jane Pettigrew, seorang penulis teh ternama asal Inggris yang menerima penghargaan dari Ratu Inggris atas dedikasinya pada industri teh.

Pasar teh AS merupakan pasar yang prospektif. AS merupakan negara dengan nilai importasi produk teh ketiga terbesar di dunia dengan nilai sebesar USD 467 juta pada tahun 2017. Indonesia saat ini berada di peringkat ke-13 sebagai negara asal impor produk teh ke AS dengan nilai sebesar USD 7,2 juta. Untuk varian produk teh yang paling diminati masyarakat AS adalah teh hitam mencapai 80%, diikuti teh hijau sebesar 16%, dan sisanya adalah varian teh oolong, teh putih, serta dark tea.

Sementara itu, 23% dari total populasi AS mengonsumsi teh secara rutin setiap harinya dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5,5% atau sebesar 2,4 juta orang per tahun. Peningkatan konsumsi teh diyakini sejalan dengan tren gaya hidup masyarakat AS terutama kalangan milenial yang sangat peduli dengan kesehatan.

Dengan banyaknya inovasi yang ditawarkan produsen teh, diharapkan tingkat konsumsi teh juga akan terus meningkat. Terlebih dengan peningkatan daya beli para milenial yang diprediksi juga semakin meningkat.

“Pengenalan produk teh siap minum asal Indonesia juga akan terus digenjot oleh ITPC Los Angeles, mengingat nilai pasarnya yang diperkirakan mencapai USD 7,4 miliar. Hal ini tentu membutuhkan kolaborasi dan upaya bersama dari segenap pemangku kepentingan terkait, baik pemerintah maupun swasta,” pungkasnya. Dian

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*