Beranda Sawit Amanah, Asosiasi Petani Swadaya Raih Sertifikasi ISPO Pertama di Indonesia

Amanah, Asosiasi Petani Swadaya Raih Sertifikasi ISPO Pertama di Indonesia

BERBAGI
Asosiasi Petani Swadaya Amanah memperoleh sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). (Ist)

Agrofarm.co.id –  Petani kelapa sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Swadaya Amanah memperoleh sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pertama di Indonesia.

Prestasi ini merupakan hasil pendampingan yang diselenggarakan oleh berbagai pemangku kepentingan dalam industri sawit. Program pendampingan petani ini merupakan proyek percontohan antara Kementerian Pertanian RI, United Nations Development Programme (UNDP) dengan menggandeng perusahaan perkebunan kelapa sawit, Asian Agri.

Kegiatan pendampingan telah berlangsung selama 3 bulan terakhir dan  diselenggarakan dalam bentuk seminar mengenai praktik-praktik perkebunan terbaik dan manajemen perkebunan yang efektif, untuk meningkatkan hasil produksi petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Swadaya Amanah.

Setelah pelatihan selesai dilakukan, Asosiasi tersebut kemudian dievaluasi secara independen dalam hal kepatuhan dan penerapan prinsip serta kriteria ISPO, hingga berhasil dinobatkan sebagai Asosiasi Petani Swadaya pertama di Indonesia yang menerima sertifikat ISPO.

Ketua Asosiasi Petani Swadaya Amanah, Sunarno mengatakan, dengan sertifikasi ISPO ini, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi petani swadaya lainnya untuk memperoleh sertifikasi yang sama, dalam rangka peningkatan kapasitas petani swadaya. “Implementasi praktik-praktik perkebunan yang berkelanjutan akan membawa manfaat bagi para petani sawit swadaya,” kata Sunarso.

Dia menambahkan, proses mendapatkan serifikat ISPO memakan waktu 6 bulan. Mulai mendaftar bulan November 2016, pra audit pada Desember, dilakukan audit pada Februari 2017 dan April keluar serifikat ISPO.  Adapun lembaga sertifikasi yang digunakan Mutu Agung Lestari.

Menurutnya, ada empat aspek yang dinilai dalam proses sertifikasi ISPO untuk petani sawit swadaya yakni legalitas kebun, organisasi pekebun dan pengelolaan kebun, pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta peningkatan usaha secara berkelanjutan.

Asosiasi ini berdiri sejak tahun 2005 dan kini telah beranggotakan sebanyak 318 petani, dengan luas areal kebun sawitnya mencapai 594 hektar (ha). Sementara itu, produksi tandan buah segar (TBS) 24 ton/hektar/tahun.

Meskipun diakuinya, dalam proses memperoleh sertifikasi ISPO mengalami kendala teknis terkait penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), lantaran ada perpindahan dari Dinas Perkebunan ke perizinan untuk perusahaan di daerah.

Selain itu, katanya, pembiayaan dalam proses sertifikasi cukup mahal sekitar Rp 600 juta. Kemudian permasalahan internal petani dalam pemahaman sertifikasi untuk mengubah kebiasaan petani agar setiap kegiatan harus terdokumeentasi.

Freddy Widjaya, Direktur Asian Agri mengatakan, kemitraan antara petani dan perusahaan seyogyanya mendorong komitmen berkelanjutan di industri kelapa sawit. “Dengan ISPO, penerapan praktik perkebunan terbaik akan menjadi standar bagi para petani dan perusahaan pendamping untuk mendukung pemerintah mewujudkan industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan berdaya saing,” jelas Freddy. Beledug Bantolo