2018, Penyerapan Biodiesel Diperkirakan 3,5 Juta KL

Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI)/ist

Agrofarm.co.id-Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) memperkirakan penyerapan biodiesel nasional tahun ini mencapai 3,5 juta kiloliter (KL). Jumlah tersebut dipastikan meningkat dibanding realisasi penyerapan tahun lalu sekitar 3,1 juta KL.

Adapun hingga November 2017 produksi biodiesel mencapai 3,13 juta kiloliter. Sementara serapan dalam negeri sebesar 2,35 juta kiloliter atau 90% dari total serapan, dan untuk ekspor sebesar 179.000 kiloliter.

“Meningkatnya produksi tahun ini bisa dipicu oleh penggunaan biodiesel oleh transportasi kereta api. Bila kereta api menggunakan biodiesel tahun ini bisa menyerap sekitar 400.000-500.000 kiloliter,” ucapnya.

Selain kereta api, lanjutnya, pihaknya mendorong penyerapan biodisel untuk sektor pertambangan, alat utama sistem pertahanan (alutsista) dan alat-alat berat. Menurutnya, penggunaan di sektor pertambangan bisa mencapai 1 juta KL per tahun.Sedangkan penggunaan biodisel untuk avtur atau bahan bakar pesawat terbang masih harus menunggu peraturan dari Kementerian Perhubungan.

“Kalau semuanya jalan maka penyerapan biodisel dalam negeri baik untuk PSO maupun non PSO bisa mencapai hampir 6 juta kiloliter,” tuturnya.

Paulus mengatakan, meskipun serapan biodiesel di dalam negeri diperkirakan meningkat, namun tahun ini diperkirakan tidak akan ada ekspor biodiesel. Terlebih, ada tuduhan dumping biodiesel oleh Uni Eropa dan Amerika. Padahal, Indonesia pernah mengekspor biodiesel sebesar 1,7 juta kiloliter ke Uni Eropa dan sebesar 400.000 kiloliter ke Amerika pada tahun 2014.

Paulus mengatakan terdapat 22 perusahaan biodiesel di Indonesia di mana kapasitas produksinya Indonesia bisa mencapai 12 juta kiloliter per tahun. “Kapasitas produksi yang besar ini memang awalnya ditujukan untuk ekspor,” kata Paulus.

Ketua Umum APROBI MP Tumanggor megatakan, guna meningkatkan ekspor biodiesel ini, Indonesia pun tengah berunding dengan China, karena negara tersebut merupakan negara potensial di mana penggunaan biodieselnya tinggi, mencapai 9 juta kiloliter dari Indonesia.

Namun, tambahnya, sampai saat ini pemerintah Indonesia dan China tengah mendiskusikan penetapan harga biodiesel tersebut. “China meminta harga ditetapkan fixed untuk jangka waktu 10 tahun, kita yang masih keberatan soal itu,” bebernya.

Dia menambahkan, Jepang juga tertarik menggunakan biodiesel dari Indonesia. Jepang akan menggunakan biodiesel sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik menggantikan nuklir. Akan tetapi, Jepang meminta harga dipatok tetap tanpa mengikuti harga pasar dalam waktu 10 tahun.

Begitu juga dengan Jepang, semua power plant di Jepang itu akan diganti, dan tidak lagi menggunakan tenaga nuklir. Mereka ingin menggunakan energi terbarukan salah satunya dengan biodiesel. Namun meminta harga selama 10 tahun tetap. Sekarang para produsen biodiesel sedang bernegoisasi agar harga bisa dievaluasi selama 2 tahun, pungkasnya. Bantolo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*