2018, Astra Agro Siapkan Capex Rp 1,8 Triliun

Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari, Santosa/ist

Agrofarm.co.id-PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) pada tahun 2018 sebesar Rp 1,8 triliun.

Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari, Santosa mengatakan, jumlah belanja modal tahun ini naik Rp 100 miliar dibandingkan tahun lalu. “Tahun 2017 capex kami mencapai Rp 1,7 triliun,” katanya beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, alokasi terbesar capex ditujukan untuk pengembangan tanaman belum menghasilkan (TBM) dengan nilai sekitar Rp 500 miliar hingga Rp 600 miliar.

Selain itu, katanya, AALI menyiapkan dana senilai Rp 250 miliar untuk membangun 1 pabrik kelapa sawit (PKS) baru di kawasan Kalimantan Selatan. “Kami targetkan bisa beroperasi tahun 2019 nanti,” ujar Santosa.

Dia menuturkan, kapasitas produksi PKS sebesar 45 ton per jam yang nantinya bisa ditingkatkan sampai dengan 60 ton per jam. “Pembangunan PKS baru ini ditujukan untuk mengolah hasil kebun inti baru yang akan masuk ke usia tanaman menghasilkan di tahun 2019 serta menangkap peluang peningkatan pasokan Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan plasma maupun mandiri yang ada disekitarnya,” terangnya.

Astra Agro telah melakukan diversifikasi usaha pengembangan peternakan sapi dalam bentuk pembibitan (breeding) dan penggemukan (fattening).

“Ini ada peluang bisnis yang menjanjikan. Selain itu, kotoran sapi juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk bagi kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan, sehingga terjadi integrasi antara perkebunan sawit dan peternakan sapi,” katanya.

Menurutnya, dalam jangka panjang, lini bisnis peternakan sapi ini diharapkan bisa menjadi salah satu unit usaha yang menguntungkan.

“Meskipun masih ada berbagai kendala dalam pengembangan sapi yakni, penetrasi pasar dan logistik. Lahan perkebunan sawit ada di luar Jawa, sementara pasar sapi paling besar sekitar 70% berada di Jawa,” ujar Santosa.

Dia menyebutkan, sampai akhir tahun 2017, AALI telah memiliki sekitar 8.000 ekor sapi yang diternak dari target 10.000 ekor. “Tahun ini perusahaan menyediakan anggaran sebesar Rp 150 miliar untuk pengembangan integrasi sawit-sapi,” bebernya.

Sebelumnya perseroan pada 2016 sudah mengucurkan investasi sekitar Rp 100 miliar untuk upaya itu, dan bertambah menjadi sekitar Rp 120 miliar pada tahun 2017.

Dia menjelaskan, kebutuhan daging sapi cukup besar di dalam negeri, sementara pasokan masih kurang. Ini menjadi bisnis masa depan dan perusahaan ikut andil dalam kontribusi swasembada daging nasional.

“Untuk itu, perusahaan telah menyiapkan ahli-ahli peternakan yang dapat melakukan pembibitan pengembangbiakan dan pembuatan pakan ternak sendiri,” terangnya.

Sementara itu, sisa belanja modal digunakan untuk keperluan pembaruan dan perawatan alat-alat mekanik serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia perseroan. Bantolo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*