Musim Mas Kecewa atas Usulan Parlemen Eropa

Grup Musim Mas/ist

Agrofarm.co.id-Grup Musim Mas kecewa atas usulan Parlemen Eropa untuk mengecualikan kelapa sawit dari penggunaan biofuel pada tahun 2021.

Carolyn Lim Corporate Communications Grup Musim Mas mengungkapkan, perusahaan menyambut baik keputusan Parlemen Eropa untuk meningkatkan efisiensi dan mengatur pangsa energi sumber terbarukan.

“Grup sependapat dengan Uni Eropa (UE) mengenai urgensi agenda energi berkelanjutan, dengan mengingat kelangkaan sumber daya alam secara umum, dan proyeksi pertumbuhan populasi penduduk yang akan mencapai 8,6 miliar jiwa ditahun yang sama,” jelas Lim dalam keterangan resminya, Senin (05/2/2018).

Namun pada saat bersamaan, keputusan Parlemen UE untuk mengecualikan Kelapa Sawit dari biofuel pada tahun 2021 sangat disayangkan. Keputusan ini bertentangan dengan nilai-nilai pembangunan inklusif dan merata.

“Ini bersifat diskriminatif karena data dari sumber yang dapat dipercaya menunjukkan fakta bertentangan dengan klaim yang dibuat oleh parlemen UE. Keputusan tersebut juga bertentangan dengan agenda keamanan pangannya sendiri,” terangnya.

Sementara itu, produktivitas tanaman kelapa sawit unggul dalam hal rasio penggunaan lahan terhadap minyak yang dihasilkan. Ini didukung baik dengan data yang independen dan kredibel seperti Food and Agricultural Organization (FAO) dan Oil World.

Dia menambahkan, kebijakan keberlanjutan dan skema sertifikasi di berbagai tingkat telah memfasilitasi transformasi di sektor ini dalam rentang beberapa tahun yang singkat. Dalam relevansi tertentu, impor sawit ke UE mematuhi persyaratan ketat dari International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) dan sesuai dengan persyaratan pengurangan emisi yang ditetapkan oleh UE.

“Untuk itu, Musim Mas mengkhawatirkan keputusan tersebut merugikan usaha dan kemajuan signifikan yang telah dilakukan secara kolektif oleh industri terhadap peningkatan standar keberlanjutan,” ujar Lim.

Sebelum transisi penuh ke biofuel generasi kedua, penghentian minyak sawit dari daftar campuran bahan bakar tentu. Itu artinya akan lebih banyak tanaman penghasil minyak lainnya diminta untuk memenuhi permintaan biofuel yang sama.

“Oleh karena itu, hal ini akan memperparah masalah-masalah lingkungan dan menimbulkan kekhawatiran keamanan pangan yang diutarakan oleh Parlemen UE,” tandasnya.

Menurutnya, keputusan untuk menghapuskan Kelapa Sawit merupakan salah satu keputusan yang mengkhawatirkan kelangsungan hidup suatu sektor yang sangat penting bagi model pembangunan ekonomi di Indonesia, terutama bagi infrastruktur pedesaan, pendapatan sekitar 1,5% – 2,5% dari PDB Indonesia dan tingkat lapangan kerja lantaran sekitar 5,7 juta orang bekerja langsung di sektor kelapa sawit.

Sementara sekitar 16 sampai 20 juta orang bekerja dengan berhubungan baik langsung ataupun tidak langsung dengan sektor kelapa sawit. Bantolo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*