Data Amburadul, Produksi Beras Diprediksi Turun

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa/ist

Agrofarm.co.id-Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) bahwa produksi beras mencapai 51,3 juta ton. Sementara data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) produksi beras hanya 37 juta ton. Maka itu, ada perbedaan data sebesar 27,9%.

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa Menurutnya, ada persoalan besar pada keakuratan data pangan di Indonesia. untuk itu, perlu ada perbaikan data tersebut.

“Apabila data ini masih berantakan, maka tata kelola pangan kita juga akan amburadul,” ujar Dwi Andreas pada acara Talkshow bertema Mudah Mainkan Data Pangan di Hotel Ibis Cawang Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Hasil kajian Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia Indonesia (AB2TI) pada Juni-Agustus 2017 bahwa produksi padi tahun 2017 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. “Hal ini menyusul adanya serangan hama wereng batang cokelat (WBC),” terangnya.

Adapun tingkat kerusakan pada wilayah yang terserang 25-60%. Kajian dilakukan pada 16 kabupaten di Jawa dan Bali. “Tingkat kerusakan akibat WBC paling parah adalah tahun 2017 selama sepuluh tahun terakhir,” ujar Dwi.

Dia menyebutkan, serangan wereng, kerdil rumput dan kerdil hampa pada musim tanam (MT I) dan MT II tahun lalu seluas 407.000 hektare (ha).

Selain itu, katanya, harga beras terus meningkat sejak bulan Juli 2017. Ini menandakan adanya masalah di produksi dan stok. Meskipun Permendag No 57/2017 tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) diberlakukan.

“Apabila tidak ada tindakan penambahan stok beras, maka Harga beras diperkirakan akan terus meningkat hingga Februari 2018,” tandasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS merilis harga gabah kering panen (GKP) sejak Agustus 2017 sudah mengalami kenaikan sebesar 8,8%. Kemudian Oktober-Januari 2018 meningkat menjadi 15,5%. “Bahkan kalkulasi kenaikan harga pada April 2017 hingga Januari 2018 mencapai 49,1%,” katanya.

Dwi mencemaskan, melonjak harga beras medium lantaran sejak Juli 2017 sampai saat ini menginjak Rp 11.350 per kilogram (kg). “Jika tidak segera ditangani serius oleh pemerintah, akan terjadi kekacauan (chaos),” ungkap Dwi.

Khudori Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan mengatakan, data produksi beras dikatakan surplus lantaran Kementan masih menggunakan metode penghitungan lama.

Selama ini pengumpulan data produksi padi menggunakan dua komponen yakni produktivitas dan luas panen. Data luas panen sepenuhnya dikumpulkan oleh Kementan.

Sedangkan tingkat produktivitas berbagi peran antara BPS dan Kementan. “Sehingga 75% dalam pengumpulan data produksi padi sumbangan dari Kementan yang memiliki kepentingan politik. Dan sisanya 25% oleh BPS,” jelas Khudori. Bantolo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*