Beranda Pertanian Stok Cabai dan Bawang Merah Cukup Hingga Maret 2018

Stok Cabai dan Bawang Merah Cukup Hingga Maret 2018

BERBAGI

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura menjamin ketersediaan cabai dan bawang merah mencukupi hingga Maret 2018.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Spudnik Sujono mengungkapkan, pemerintah terus menjaga ketersediaan cabai dan bawang merah. Untuk itu, manajemen tanam kunci keberlanjutan stok cabai dan bawang merah nasional. “Diperkirakan stok bawang merah dan cabai aman hingga Maret 2018,” ujar Spudnik di kantornya, Rabu (27/12/2017).

Berdasarkan data, ketersediaan cabai besar pada Desember 2017 sebanyak 104.064 ton, sementara kebutuhan hanya 95.652 ton. Sehingga terjadi surplus sebesar 8.412 ton. Sedangkan pada Januari 2018 stok diperkirakan 102.153 ton, kebutuhan 93.311 ton dan kelebihan stok sebesar 8.842 ton.

Tiap hari ketersediaan cabai dan bawang merah kita pantau perkembangannya. Meskipun saat ini, harga cabai rawit di tingkat petani anjlok hingga Rp 9.000 per kilogram (kg). Sedangkan harga di pasar ritel tembus mencapai Rp 50.000 per kg. Ada kenaikan dratis hingga 400%, terangnya.

Semetara ketersediaan cabai rawit sebanyak 81.637 ton, kebutuhan 73.099 ton dan terjadi surplus 8.538 ton. Pada Januari 2018 pasokan sebanyak 77.84 ton, kebutuhan 69.843 ton, maka ada kelebihan stok 8.004 ton.

Untuk ketersediaan bawang merah pada Desember tercatat 123.849 ton, kebutuhan 109.437 ton, dan ada kelebihan 14.412 ton. Januari pasokan 117.904 ton, permintaan berkisar 101.597 ton. maka itu ada surplus 16.308 ton.

Dia menuturkan, bulan ini daerah Brebes sudah memasuki masa panen pucak. Harganya pun masih rendah sekitar Rp 10.000 per kg di tingkat petani.

“Beberapa bulan ini muncul spekulasi bahwa musim hujan tanaman terserang OPT, mengakibatkan supali terganggu dan harga merangkak naik,” tuturnya.

Padahal, katanya, pasokan bawang merah melimpah di sentra-sentra produksi. “Jadi sulit terkontrol. Harga naik itu hal wajar Rp 1.000-2.000 per kg. Namun tidak melonjak drastis dari Rp 18.000 per kg menjadi Rp 32.000 per kg,” tandasnya.

Menurutnya, ada anomaly lantaran harga melambung tinngi. Akan tetapi, pasokan berlebih. “Ini menjadi aneh dan cenderung politis lantaran BPS merilis angka inflasi meningkat akibat harga bawang naik di pasar,” katanya.

Dia menyebutkan, ongkos angkut bawang dan cabai sebesar Rp 2.000 per kg dan biaya resiko rusak Rp 2.000 per kg. “Para pedagang membeli dari petani Rp 9.000 per kg, kemudian dijual Rp 18.000-20.000 per kg itu masih wajar,” jelas Spudnik.Bantolo