Beranda Perkebunan Vanili Indonesia Tembus Pasar Eropa dan AS

Vanili Indonesia Tembus Pasar Eropa dan AS

BERBAGI
Rudi Ginting Ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia (kiri)/bantolo

Agrofarm.co.id-Dalam lima tahun terakhir ini vanili (Vanilla planifolia) sudah menjadi tanaman primadona. Hal ini lantaran harga vanili diatas Rp 2 juta per kilogram (kg). Pada tahun 2001 Indonesia pernah menjadi eksportir vanili terbesar dunia.

Saat ini harga vanili sudah mencapai Rp 5 juta per kg. Bahkan, sempat menyentuh Rp 6,2 juta per kg pada dua bulan lalu. Pada saat itu Negara Meksiko, Ghana dan Madagaskar belum mengalami panen puncak.

“Ketika sekarang masuk masa panen, harga jadi turun seitar Rp 5 juta per kg,” ujar Rudi Ginting Ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia pada acara Peringatan Hari Perkebunan ke-26 di Yogyakarta, Minggu (10/12/2017).

Sentra vanili tersebar di Indonesia mulai dari daerah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi dan Irian jaya. Namun juga mulai berkembang di Magelang, Purwokerto, Banyuwangi, Malang, Jember, Bondowoso, Lampung, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.

Dia menerangkan, dalam satu hektar bisa ditanami 2.500-3.000 pohon vanili. Satu pohon dapat menghasilkan 0,3 sampai 0,4 kg vanili kering. “Produksi ini tergantung perawatan dan cara mengolah vanili dengan baik. Tanaman ini panen dua kali dalam setahun,” katanya.

Rudi menjelaskan, vanili pernah menjadi idola dan meredup lantaran harga jatuh di tingkat petani. Harga jatuh karena adanya permainan eksportir.

“Untuk itu, ke depan kualitas vanili harus ditingkatkan. Salah satu faktor harga vanili turun dan ditolak ekpor lantaran rendahnya kualitas vanili petani,” tandas Petani Vanili Jawa Timur.

Selain itu, katanya, pasca panen vanili terutama dalam proses pengiringan disamakan dengan tanaman padi dan jagung. Tidak bisa dijemur langsung di bawah sinar matahari, namun harus melalui proses fermentasi. “Dan yang diterima di pasar luar negeri vanili kering dari hasil fermentasi, dengan kadar air minimal 12%-15%,” tambahnya.

Tanaman vanili dapat tumbuh pada ketinggian minimal 400 dibawah permukaan laut. “Sehingga tidak semua daerah Indonesia dapat ditanami tanaman asal Meksiko ini,” ujar Rudi.

Menurutnya, tantangan sekarang dalam pengembangan vanili, minimnya ketersediaan benih unggul. Meskipun sudah diproduksi oleh Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), namun harganya cukup mahal sekitar Rp 30.000 per pohon. “Harga segitu terlalu mahal bagi petani,” tandasnya.

Dia menuturkan, pasar ekpor vanili cukup besar utamanya ke Negara Eropa dan Amerika Serikat (AS). “Pesanan vanili kering ke AS bisa mencapai 8 ton per bulan,” ungkapnya.

Sementara itu, negara pesaing penghasil vanili Indonesia yakni Papua Nugini dan Timor Leste. “Kedua Negara tersebut sudah memiliki ratusan hektar tanaman vanili dan sepanjang tahun panen karena pola tanam sudah tertata dengan baik,” bebernya.

Untuk itu, pada peringatan Hari Perkebunan ke-26 ini para petani mendirikan perkumpulan petani vanili Indonesia. “Saat ini kami sedang menyusun sruktur kepengurusan organisasinya besarta program kerja,” jelas Rudi. Bantolo