Beranda Pertanian Enzim DigeGrain Alternatif Pengganti AGP

Enzim DigeGrain Alternatif Pengganti AGP

BERBAGI
PT Tirta Buana Kemindo (TBK) dukung pelarangan penggunaan Antibiotics Growth Promoter (AGP) oleh Kementan/ist

Agrofarm.co.id-PT Tirta Buana Kemindo (TBK) mendukung langkah Kementerian Pertanian (Kementan) melarang penggunaan Antibiotics Growth Promoter (AGP) pada awal 2018 mendatang.

Direktur PT Tirta Buana Kemindo (TBK) Ivonne Subeni mengungkapkan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah terkaitpelarangan penggunaan antibiotik sebagai sebagai pemacu pertumbuhan ternak atau growth promoter yang sudah didengungkan sejak tahun 2014.

“Kami mendukung kebijakan pemerintah seperti pelarangan pemakaian AGP. Untuk itu, harus ada produk yang dapat menggantikan peran AGP yang lebih aman dan baik hasilnya di kandang,” ujar Ivonne pada Seminar Teknis Enzim Sebagai Alternatif Solusi Pelarangan Penggunaan AGP di Hotel Santika Slipi Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Alasan utama pelarangan AGB, katanya, lantaran sudah tingginya kejadian resistensi bakteri terhadap banyak jenis antibiotik, bahkan antibiotik yang dipersiapkan untuk menangani kasus bakteri multiresisten.

“Aturan ini juga sudah diterapkan di beberapa negara. Misalnya Amerika Serikat dan Kanada melarang penggunaan golongan antibiotic yang penting dimanusia sebagai AGP,” terangnya.

Dia mengungkapkan, perusahaan mengusung produk enzim DigeGrain Delta Plus yang diproduksi oleh Advanced Enzymes principal India.

“DiigeGrain menggunakan teknologi yang mutakhir dan diproduksi oleh produsen terbaik di India. Lalu sudah digunakan di banyak Negara, karena itu PT TBK ujicobakan di Indonesia serta hasilnya sangat baik,” jelasnya.

Dia menuturkan, produk enzim ini sudah diujicoba di Kerawang, hasilnya ayam yang dipelihara dan pakannya dicampurkan dengan DigeGrain pertumbuhannya lebih cepat. Selain itu, bobot ayam lebih besar.

Enzim pengganti AGP

“Enzim ini dapat menggantikan penggunaan AGP, sekaligus vitamin dan mineral. Dari percobaan yang dilakukan menggunakan enzim ini pertumbuhan ayamnya bisa meningkat 30% dari yang tidak diberikan enzim,” ungkap Ivonne.

Dia menambahkan, broiler yang dipelihara menggunakan enzim ini dalam 35 hari pertumbuhan bobotnya dapat mencapai 2,8-3 kilogram (kg), sedangkan yang tidak diberikan enzim bobotnya hanya 2,2 hingga 2,3 kg pada waktu yang sama.

“Daging ayamnya pun menjadi lebih padat dan berisi, efisien FCR (Feed Convention Rate) juga dapat dihemat sekitar 0,1. Dari cost harga lebih murah hanya USD 7 per kg. relative murah walaupun masih sedikit diatas AGP, tapi kita bisa mereduksi cost pembelian vitamin maupun mineral dari penggunaan enzim ini,” paparnya. Bantolo