Beranda Perkebunan Pemerintah Genjot Produksi Kakao

Pemerintah Genjot Produksi Kakao

BERBAGI
Petani kakao/ist

Agrofarm.co.id-Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Saat ini Indonesia menduduki peringkat tiga dunia dan terus meningkatkan produksi dan kulitas agar mampu mendongkrak peringkat di dunia.

Pulau Sulawesi sebagai wilayah penghasil kakao terbesar di Indonesia atau lebih dari 50 persen kakao Indonesia dihasilkan dari Pulau Selebes ini terus berupaya untuk meningkatkan produktivitasnya. Dengan mayoritas kakao dihasilkan dari perkebunan rakyat, industri kakao menjadi penting untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.

Bertempat di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, atau lebih sering disebut Pangkep, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam kegiatan Peletakan Batu Pertama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kakao Mars Indonesia.

Jusuf Kalla berharap dengan dibangunnya pusat penelitian dan pengembangan akan menambah jumlah produksi kakao di Sulawesi Selatan.

“Jika sekarang 700 kg/ha, di negara lain 2 ton/ha. Sangat mungkin dengan hasil penelitian meningkat menjadi 1, 5 kali. Pendapatan bisa masuk Rp 9 triliun per tahun,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (20/11/2017).

Jusuf menambahkan biaya pembangunan pusat penelitiannya memang tidak besar, hanya sekitar Rp 50 miliar rupiah, tetapi yang terpenting adalah bagaimana hasil dari penelitian bisa memproduksi kakao lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik.

Wapres mengakui sekitar 60 hingga 70 persen produksi kakao di Indonesia tumbuh di empat propinsi di Sulawesi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Selawesi Utara dan Sulawesi Barat, selebihnya ada di Jawa dan Sumatera. Bukan hanya kakao, lanjut Wapres, Sulawesi juga memproduksi kopi, udang dan rumput laut, semuanya dilakukan oleh rakyat sendiri.

“Ini memberikan pemerataan dan kemakmuran yang baik buat rakyat, karena lahan-lahannya milik mereka sendiri. Daerah baru tumbuh apabila ada nilai tambah dari masyarakat. Berbeda dengan perkebunan di Sumatera yang dikuasai oleh industri-industri besar,” tegasnya.

Dia berharap kalau selama ini produksi kakao kita masih ketiga di dunia maka diharapkan dengan penelitian ini, produksi akan bertambah. “Kita masih punya kesempatan yang baik, karena kita masih di bawah,” terangnya.

Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Mars telah lama mengawal percoklataan di Sulawesi Selatan. Mars, sambung Syahrul memiliki kepedulian bukan hanya kepada petani coklat tetapi juga masyarakat dan bangsa. Syahrul mengatakan coklat minimal mempunyai 12 turunan untuk industri dan ia juga berharap produksi kakao akan semakin berkualitas dan memiliki industri besar.

“Rencana bibit untuk seluruhnya 2,4 triliyun APBNP saja, seluruh indonesia 30 juta batang lengkap dengan pupuknya, yang jelas Sulawesi yang paling besar,” jelas Amran.Bantolo