Beranda Pertanian Kementan Susun Roadmap Pengendalian Hog Cholera

Kementan Susun Roadmap Pengendalian Hog Cholera

BERBAGI
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH)Kementan I Ketut Diarmita/ist

Agrofarm.co.id-Dalam upaya mengembangkan komoditas unggulan Babi menjadi komoditas ekspor di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pentingnya pengendalian dan pemberantasan penyaki Hog Cholera.

“Hog Cholera merupakan penyakit yang sangat signifikan berpengaruh secara ekonomi, untuk itu perlu segera dikendalikan dan diberantas,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH)Kementan I Ketut Diarmita dalam siaran persnya, Selasa (7/11/2017).

Untuk itu, Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) bekerjasama dengan Dinas Peternakan menyusun roadmap pengendalian dan pemberantasan penyakit Hog Cholera.

Menurutnya, penyakit Hog Cholera cepat menyebar dalam populasi babi dan dapat menyerang segala umur. Morbiditas dan mortalitas sangat tinggi dan dapat mencapai 95-100%.

Penyakit Hog Cholera atau Classical Swine Fever (CSF) atau juga dikenal dengan Sampar Babi, merupakan salah satu penyakit virus yang menyerang ternak babi dan masuk salah satu dari daftar 25 jenis penyakit hewan menular strategis berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 4026/Kpts/OT.140/4/2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis.

Ketut mengatakan tujuan dari pengendalian dan pemberantasan Hog Cholera. Pertama, meningkatkan populasi ternak babi. Kedua, mengamankan daerah sumber bibit ternak babi dari hog cholera, sehingga mengurangi risiko penularan penyakit ke daerah penerima ternak babi bibit.

Ketiga, meningkatkan pendapatan dari hasil usaha peternakan babi. Keempat, peningkatan perdagangan ternak babi baik domestik maupun eskpor. Kelima, naiknya pendapatan daerah.

“Saya sarankan agar pengendalian dan pemberantasan Hog Cholera difokuskan ke daerah-daerah tertentu saja, seperti Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Bali, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara,” jelas I Ketut.

Lebih lanjut I Ketut menyampaikan, Babi menjadi komoditas unggulan ekspor dalam Rencana Strategis 2015 2019, selain ayam ras.

“Pada tahun 2045 Indonesia bahkan berkeinginan dapat menjadi lumbung pangan dunia, dan ternak babi dapat dikembangkan untuk mengisi peluang lumbung pangan dunia tersebut, karena secara komoditas dianggap memiliki nilai tambah dan berdaya saing di dunia,” ungkapnya.

Diarmita menegaskan, pengendalian dan pemberantasan Hog Cholera penting lantaran komoditi ternak babi merupakan aset ekonomi bagi daerah-daerah tertentu di Indonesia. Adanya perkembangan peningkatan populasi babi dalam lima tahun terakhir. Komoditi ternak babi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan budaya dan adat istiadat masyarakat tertentu di Indonesia.

“Ternak babi merupakan salah satu sumber daging dan pemenuhan sumber protein hewani yang sangat efisien bagi masyarakat tertentu di Indonesia, dan sudah menjadi komoditi ekspor,” ujar Ketut.

Berdasarkan data Statistik Ditjen PKH, produksi daging babi menduduki urutan ketiga terbesar sesudah daging ayam ras dan daging sapi. Kontribusi produksi daging babi terhadap produksi daging nasional sebesar 10,78% atau sebesar 342,3 dari sebesar 3.175,2 ribu ton.

Perkembangan Populasi Babi di Indonesia sejak tahun 2012 2016 terjadi peningkatan sebesar 1,7 % yaitu dari 7,9 juta ekor (2012) menjadi 8,1 juta ekor (2016). Sedangkan dari aspek peningkatan produksi meningkat 9,6 % yaitu dari 232.143 ton (2012) menjadi 342.346 ton (2016)

“Meningkatnya produksi daging babi di Indonesia tersebut, dan terbatasnya segmentasi pasar daging babi, menjadi peluang peningkatan ekpor daging babi,” pungkas Diarmita. Bantolo