Beranda Perkebunan Perbaikan Teknologi Solusi Atasi Masalah Perkebunan

Perbaikan Teknologi Solusi Atasi Masalah Perkebunan

BERBAGI
Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka acara World Plantation Conferences and Exhibition (WPLACE) /ist

Agrofarm.co.id-Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, satu-satunya cara untuk mengatasi permasalahan sektor perkebuan yakni teknologi. Tantangan ke depan makin besar lantaran meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan iklim (Climate change).

Jusuf Kalla mengatakan, sejarah Indonesia tidak terlepas dari perkebunan. Orang barat datang ke Indonesia untuk mencari pala, kopi dan cengkeh. Seiring perjalanan bekembang perkebunan rakyat dan perkebunan besar yang dibina oleh pemerintah Belanda.

Menurutnya, tantangan perkebunan saat ini semakin kompleks. Teori Maltus menyebutkan bahwa perkembangan produksi tidak seimbang, dengan kebutuhan manusia akan hasil pertanian dan perkebunna.

“Ini harus diatasi karena pada masa mendatang tahun 2050 julah penduduk mencapai 10 miliar orang. Maka itu, kebutuhan akan makanan dan hasil perkebunan akan meningkat capai 70%,” ujar JK saat membuka World Plantation Conferences and Exhibition (WPLACE) di Hotel Sahid Jakarta, Rabu (18/10/2017).

Disatu sisi, katanya, lahan terus berkurang, akan tetapi di satu sisi kebutuhan akan hasil perkebunan cukup besar. Selain itu, perubahan iklim dan air sangat mempengaruhi produktivitas perkebunan Indonesia.

“Tantangan ini semua menjadi tantangan perkebunan. Ini narus diatasi dengan satu-satunya cara yakni perbaikan teknologi,” ujar Jusuf Kalla.

Dia menambahkan, produktivitas tanaman perkebunan perlu ditingkatkan. Produktivitas sawit rakyat hanya sekitar 2 ton/hektare (ha), namun perkebunan besar swasta bisa mencapai 5 ton/ha. “Untuk itu kita perlu mendorong rakyat agar menggunakan bibit unggul dengan produksi 7-8 ton/ha,” jelas JK.

JK menuturkan, Indonesia pernah bangga sebagai negara eksportir gula terbesar dunia. Hal ini lantaran mempunyai lembaga penelitian terbaik di Pasuruan Jawa Timur.

“Namun sekarang kita impor gula. Satu-satunya yang bisa mengatasi semua itu adalah teknologi. Caranya menciptakan teknologi bibit unggul, pertanaman, hemat air, biodiversity dan bioteknologi,” terangnya.

Menurutnya, itu semua dihasilkan dari riset dan percobaan. Akan tetapi, lanjutnya, membutuhkan disiplin masyarakat untuk menanam tepat waktu, lahan cocok dan tidak merambah hutan karena dapat menghabiskan sumber air.

Semntara itu, Teguh Wahyudi Direktur Utama Riset Perkebunan Nusantara (RPN) mengatakan, penyelenggaraan acara WPLACE bertujuan menghasilkan pemikiran dan solusi yang bermanfaat untuk mengatasi tantangan serta menghadapi perubahan dinamis indusri perkebunan nasional maupun global. Acara ini dihadiri sekitar 1.500 peserta, termasuk 385 orang yang berasal dari 33 negara. Beledug Bantolo