Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (HA FPIK IPB) mengelar talkshow Open C secara daring. Talkshow Open C/ist

Open C, Cara Jitu Kembangkan Bisnis Alumni FPIK IPB

Agrofarm.co.id-Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (HA FPIK IPB) mengelar talkshow Open C secara daring. Talkshow Open C seri pertama ini mengambil tema from zero to zillion, How to do it? menghadirkan tiga pembicara. Ketiga pembicara tersebut adalah Maulana Ishak (C 43) yang merupakan founder Lombok Pearl Jewelery, Aang Permana (C 45) owner sipetek dan Roza Yusfiandayani (C 30) founder e Fad STP IPB.

Ketua Bidang Kerjasama Alumni dgn Alumni, Alumni dgn Mahasiswa, Penguatan Organisasi dan Jaringan (Kamboja) HA FPIK IPB, Ilan R Suryadi saat membuka talkshow mengatakan bahwa open C adalah wadah bagi para alumni FPIK IPB yang memiliki bisnis untuk lebih bisa mengembangkan usahanya. HA FPIK IPB mencoba memfasilitasi alumni FPIK IPB yang memiliki usaha untuk dipertemukan dalam open C, dimulai dari grup WA, Telegram dan Website.

“Alumni FPIK IPB cukup banyak mungkin ada sekitar 14-15 ribu orang, dibalik progam di WA dan Telegram diyakini sudah ada transaksi. Buktinya sehari bisa mencapai 100 -150 chat. Makanya fasilitas lain berupa website . ada menu program usaha yang bisa dimanfaatkan para alumni. Dan juga diharapkan talkshow ini menjadi ajang belajar bagi sesama anggota open C. Dan bisa memotivasi para alumni maupan para calon alumni FPIK IPB untuk tidak takut berusaha,” kata Ilan, Minggu (6/2/2021).

Dalam talkshow yang diikuti sekitar 100 rogang dan berlangsung selama tiga jam tersebut, para pembicara sharing pengalaman masing masing dalam memulai usahanya hingga sukses. Dipandu Moderator Frida Aulia, Owner dari Neng Geulis , pembicara pertama Maulana Ishak yang merupakan founder Lombok Pearl Jewelery menceritakan bagaimana ia memulai usahanya. Pria berkacamata ini mengaku melakukan berbagai macam bisnis sebelumnya akhirnya terjun diusaha mutiara di lombok.

“Saya punya teori tujuh langkah. Diawali dengan tujuh pertanyaan berapa interaksi anda per hari,dari interaksi berapa peluang tercipta,dari peluang tercipta berapa yang mampu dieksekusi,dari yang tereksekusi berapa yang jadi uang,dari yang jadi uang berapa yagn bisa dibawa pulang,dariyag bisa dibawa pulang, berapa yang biasa digunakna untuk kebaikan, dari yang digunakan untuk kebaikan berapa yang dialokasi secara kontinyu,” ungkap Maulana.

Dengan konsep bisnis merupakan ibadah, Maulana mengaku bisa mengantongi omset diatas 500 juta dengan memiliki hampir 10 ribu reseller. Meskipun bisnis mutiara bukan merupakan bisa pertama dan utamanya, tapi dimasa pandemi seperti saat ini ternyata bisnisnya masih tetap berjalan.

Lain halnya dengan Aang Permana, pria asal Cianjur yang lebih senang dipanggik tukang ikan ketimbang pengusaha ini mengaku nekad memulai usahanya setelah hampir 2 tahun bekerja di perusahaan minyak dan gas. Aang merasa ingin lebih bermanfaat akhirnya memutuskan pulang kampung ke Cianjur

“Kebetulan kampung halaman saya dekat dengan waduk cirata, disana banyak ikan, saya pun memulai usaha dari sederhana, goreng sendiri, coret coret sendiri produksi sendiir, packing sendiri dan jualan sendiri,” aku Aang

Bisnis yang dirintis sejak 2014 ini, akirnya pun sukses dengan brand Sipetek. Kini usaha yang juga menggandeng sejumlah UMKM ini sudah memiliki omset 400-500 juta per bulan dengan jumlah reseller mencapai 8 ribu lebih.

“Bisnis itu gak mudah yang utama konsistensi, Adapun penghargaan yang saya terima itu merupakana bonus karena kita konsisten,” jelas dia.

Tak hanya itu, untuk bisa bertahan sebuah bisnis harus memiliki pembeda dengan bisnis yang lainnya, menjadi yang pertama, menjadi yang terbaik dan jadi yang paling beda merupakan hal utama untuk bertahan, ungkap dia.

Sedangkan pembicara terakhir Roza Yusfiandayani founder e Fad STP IPB, mengaku saat ini IPB University memiliki platform untuk menyambungkan hasil inovasi yang dilahirkan dari IPB University dengan dunia industri. Apalagi saat ini tercatat 43,1 persen dosen-dosen di IPB University melahirkan inovasi.

“Perguruan tinggi sebagai bank inovasi bisa bekerjasama dengan dunia industri,” kata Dosen FPIK IPB ini.

Sementara itu, Dekan FPIK IPB Ferdinant mengaku sangat senang dengan talkshow Open C. Karena ini merupakan pembelajaran bagi alumni dan calon alumni dalam pengembangan berbagai aspek.

“Bagaimana bisa memanfaatkan potensi potensi ini untuk bisa masuk dalam suatu program proses pembelajaran. Karena dasar ilmu bisa jadi stimulator kemampuan di bidang bisnis,” jelas dia. Bantolo