Ayam hidup (livebird/LB)/ist

Chocolate Monggo: Perusahaan Indonesia Pertama Yang Menerbitkan Kebijakan Telur Bebas Kerangkeng

Agrofarm.co.id-Chocolate Monggo, perusahaan coklat asal Yogyakarta telah mengumumkan bahwa mulai Juli 2020 mereka hanya menggunakan 100% telur yang berasal dari peternakan bebas kerangkeng (baik telur utuh, telur cair, maupun bubuk telur) untuk bahan membuat kue dan cookies. Pernyataan ini dikeluarkan Chocolate Monggo pada publikasi di hari coklat sedunia 9 Juli 2020 lalu.

Chocolate Monggo menyatakan, perusahaan bekerja sama dengan peternak lokal di Yogyakarta, Galaksi Telur Organik, sebagai pemasok telur organik dan bebas kerangkeng, tentunya kami gunakan untuk bahan membuat kue dan cookies. Ayam yang dibiarkan bebas di lahan terbuka, mempunyai kualitas hidup yang lebih baik, dan menghasilkan telur yang baik juga. Selain itu, ayam-ayam tersebut mempunyai kemungkinan kecil untuk membawa penyakit karena mereka tidak dikurung dan berdesakan dalam kerangkeng di satu tempat besar! Kami senang atas kehadiran Animal Friends Jogja sebagai LSM yang meningkatkan kesadaran perlindungan hewan, terlebih berupaya untuk mengubah praktik berternak yang lebih bersahabat dengan hewan.

Komitmen ini menandai langkah besar Chocolate Monggo dalam memperhatikan kesejahteraan hewan ternak, dan meningkatkan reputasinya sebagai merk coklat asal Indonesia yang mengedepankan welas asih dan fokus pada bahan-bahan alami.

Sebelum menyatakan komitmen ini, Chocolate Monggo sudah menerapkan nilai-nilai welas asih pada hewan. Mayoritas produk cokelat yang dikeluarkan Chocolate Monggo adalah vegan. Chocolate Monggo juga merupakan produsen cokelat yang menggunakan sebagian besar produk lokal untuk mengurangi jejak karbon terkait proses produksi.

“Selain mendukung peternak ayam petelur organik dan bebas kerangkeng, Chocolate Monggo juga mendukung petani kakao lokal untuk mengalihkan ke budidaya kakao organik dan berkualitas tinggi,” kata Steffen Hitscher, Marketing Manager Chocolate Monggo dalam siaran persnya, Senin (03/8/2020).

Komitmen Telur Bebas Kerangkeng ini diterbitkan setelah Chocolate Monggo berkomunikasi dengan Animal Friends Jogja (AFJ), LSM yang bekerja untuk kesejahteraan hewan ternak di Indonesia.

Sejak dirintis di awal tahun 2000, Chocolate Monggo selalu mewujudkan visi dan nilai-nilai yang melampaui zaman, seperti komitmen pada penggunaan bahan-bahan lokal dan organik yang kini mulai populer.

“Sebagai produsen coklat berkualitas tinggi, komitmen Chocolate Monggo menunjukkan bahwa kepedulian pada hewan yang hidup di peternakan merupakan nilai yang integral dengan kepedulian pada lingkungan,” ujar Among Prakosa, Juru Kampanye AFJ.

“Komitmen inimenunjukan Chocolate Monggo berada di barisan terdepan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan pada hewan yang diternak untuk sumber pangan,” tambah dia.

Sistem kerangkeng, atau dikenal dengan kandang baterai, adalah neraka kehidupan bagi ayam di peternakan. Dua sampai tiga ayam hidup berjejal dalam ruang sempit, masing-masing memiliki ruang hanya seluas kertas A4. Di dalam kerangkeng inilah ayam menghabiskan hidupnya, menjadi mesin produksi telur. Hingga memasuki usia 2 tahun, ayam diafkir lalu dikirim ke pejagalan karena dinilai tidak lagi menguntungkan.

Hidup dalam kerangkeng dengan luas pijakan hanya seukuran kertas A4, membuat ayam tak dapat memenuhi naluri alaminya. Tidak ada sarang untuk bertelur, pasir untuk mandi dan mengais sumber makanan lain, serta kayu untuk bertengger. Ayam dalam kerangkeng bahkan tidak dapat merentangkan sayapnya.

Studi menyebutkan bahwa sistem pengurungan kerangkeng menyebabkan ayam menderita stress dan frustasi sepanjang hidupnya dan memiliki masalah kesehatan yang parah seperti pelemahan tulang dan osteoporosis.

Terkait keamanan kebersihan pangan, studi komprehensif pernah dilakukan European Food Safety Authority mengenai perbandingan kontaminasi salmonella dalam sistem kerangkeng dan bebas kerangkeng. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kontaminasi salmonella pada sistem kerangkeng lebih tinggi jika dibandingkan dengan bebas kerangkeng.

“Berbeda dengan abad lalu, saat ini kesejahteraan hewan merupakan isu yang menjadi perhatian generasi milenial di Indonesia, sama seperti perhatian mereka pada isu lingkungan dan perubahan iklim,” ungkap Angelina Pane, Manajer Program AFJ.

“Cokelat Monggo menjadi contoh bagaimana entitas bisnis bisa ikut aktif dalam upaya mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi semua spesies. Kami mengajak perusahaan Indonesia lainnya mengambil langkah yang sama,” lanjutnya.

Sebelumnya, perusahaan internasional seperti Sodexo, Compass Group, Marriott International, Nestl, dan Unilever telah berkomitmen untuk mengalihkan sumber telurnya ke sistem kerangkeng pada operasi mereka di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dian