Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono pada acara pelepasan ekspor di Gudang PT. Asal Jaya Gempol, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur/bantolo

Kementan Lepas Ekspor Kopi dan Cengkeh Jawa Timur Senilai Rp 11,7 Miliar

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebuanan melepas ekspor kopi dan cengkeh PT Asal Jaya Pasuruan Jawa Timur senilai Rp 11,7 miliar.

Adapun komoditas kopi sebanyak 382,8 ton (20 kontainer) dengan dengan negara tujuan Mesir, Inggris, Itali dan Jepang. Sementara cengkeh sebesar66,8 ton (4 kontainer) dengan negara tujuan Pakistan.

“Total nilai ekspor mencapai Rp 11,7 miliar. Ini salah satu perusahaan yang mempunyai komitmen untuk meningkatkan ekspor produk perkebunan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono pada acara pelepasan ekspor di Gudang PT. Asal Jaya Gempol, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, Selasa (10/12/2019).

Untuk itu, pihaknya akan memperbaiki aspek hulu karena suplainya harus dipenuhi. Dia mendorong ekspor tidak hanya dalam bentuk produk mentah (raw material), namun ke arah produk hiir.

Pemerintah juga akan membantu akses pembiayaan kepala petani berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR). Alokasi KUR sektor pertanian mencapai Rp 50 triliun dan sektor perkebunan sekitar Rp 20 triliun pada tahun 2020, jelas Kasdi.

Selain itu, katanya, akan mempermudah izin karantina dalam memberikan sertifikasi kepada para eksportir.

Sementara itu Direktur Asal Jaya, Haryanto, mengatakan bahwa kopi asal Indonesia tidak khawatir akan pasar, karena mempunyai kelebihan dari segi kualitas dan rasanya.

Dia menambahkan, perusahan telah mengekspor kopi sejak tahun 1993. Dalam dua tahun ini ekspor cengkeh mengalami kenaikan yang cukup signifikan yakni menembus 5.327 ton.

“Kopi kita yang beli ngantri, tapi suplainya tidak mencukupi jadi peluang ekspornya masih sangat tinggi sekali,” ujar dia.

Untuk itu, katanya, perusahaan sudah melakukan pembinaan kepada kelompok tani melalui CSR. Seperti di Kabupaten Malang.

“Sebelumnya produksi kopinya dibawah 1 ton perhektar, dengan pembinaan, bantuan, bibit dan ternak serta green house, sekarang produksinya sudah 1,5 ton sampai 2 ton perhektar,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, sebenarnya dengan pembinaan dan peningkatan produksi yang dilakukan sudah melakukan gerakan tiga kali ekspor seperti yang dinginkan pemerintah.

Menurutnya kalau semua perusahaan mau melakukan seperti itu, maka keinginan pemerintah menjadi ekspor tiga kali lipat, pasti terjangkau asal ada komitmen untuk meningkatkan produktivitasnya.

Harga kopi robusta di tingkat petani sekitar Rp 22.500 per kilogram (kg), sedangkan kopi arabika sekitar Rp 60.000-80.000 per kg.

Dia menambahkan, permintaan cengkeh juga cukup tinggi mencapai 5.300 ton. Pasarnya sudah tembus Timur tengah, Singapura dan Rusia. Sementara itu, harga cengkeh ditingkat petani sebesar Rp 73.000 per kg.

Dia berharap ekspor cengkeh ini dapat menbantu cita-cita pemerintah dalam upaya mengembalikan kejayaan rempah indonesia. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *