Program integrasi kelapa sawit dengan sapi/ist

Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit Solusi Peningkatan Produksi Daging Nasional

Agrofarm.co.id-Kebutuhan terkait pasokan daging sapi yang sangat tinggi pada tiap daerah, tentunya membuat pemerintah harus bijak dalam menemukan solusi untuk menekan impor. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya protein hewani menyebabkan konsumsi protein hewani, khususnya daging sapi meningkat juga.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama lima tahun ini telah berupaya untuk meningkatkan produktivitas peternakan melalui penerapan konsep integrasi sapi-sawit. Pembiakan sapi di lahan perkebunan kelapa sawit dapat memberikan aliran pendapatan tambahan bagi pemiliknya dan dapat mengurangi biaya produksi serta meningkatkan produktivitas.

Guna mewujudkan swasembada daging sapi, BPPT bersama dengan Kemitraan Indonesia-Australia tentang Ketahanan Pangan di Sektor Daging Merah dan Sapi (Partnership) menggelar konferensi internasional tentang Integrated Cattle & Oil Palm Production (ICOP) Conference 2019, di Jakarta.

Forum ini membahas hasil penelitian, peluang dan tantangan integrasi sapi dan kelapa sawit serta untuk mendorong pelaku industri dalam melakukan integrasi sapi dan kelapa sawit yang menguntungkan.

Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan bahwa saat ini BPPT tengah mengkaji potensi pemanfaatan lahan perkebunan sawit untuk diintegrasikan dengan peternak sapi, khususnya peternak rakyat. Dikatakannya, permintaan daging sapi nasional saat ini terus meningkat, namun peningkatan itu tidak diimbangi dengan peningkatan produksi daging sapi dalam negeri, sehingga ketersediaan daging sapi secara nasional tentunya masih kurang.

Hammam menyebut, Indonesia saat ini memiliki 14,03 juta hektar perkebunan sawit dengan 4,4 juta areal yang berpotensi untuk diintegrasikan dengan ternak sapi. “Namun saat ini baru 132.000 hektar perkebunan sawit yang sudah diintegrasikan dengan 66.000 ekor sapi,” ujar Hamman dalam keterangannya, Rabu (23/10/2019).

Melalui ICOP Conference 2019 Hammam berharap bisa menghasilkan rekomendasi dari para pemangku kepentingan terkait kebijakan serta pengimplementasian dalam pengintegrasian sapi-sawit.

“Sehingga akan diperoleh rekomendasi kebijakan dan implementasi pada integrasi kelapa sawit dan sapi dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemerintah, industri peternakan, perkebunan kelapa sawit swasta, serta perusahaan milik negara (BUMN),” jelasnya.

Sementara, Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Wisnu Wijaya Soedibjo yang juga selaku Co-chair Indonesia Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector mengungkapkan pihaknya melalui salah satu program Partnership telah mengujicobakan integrasi sapi-sawit sejak tahun 2016.

“Salah satu potensi usaha pembiakan sapi di Indonesia adalah dengan memanfaatkan lahan-lahan yang sudah ada, termasuk lahan perkebunan sawit karena dapat memberikan pendapatan tambahan serta serta meningkatkan produktivitas,” kata Wisnu.

Wisnu juga mendukung pengembangan sapi di Indonesia, mengingat permintaan daging sapi yang meningkat sementara tidak dibarengi dengan pertumbuhan sapi, diharapkan kedepan populasi sapi di Indonesia dapat meningkat.

Di acara tersebut juga diluncurkan inovasi-inovasi berbasis teknologi di sektor pembiakan sapi. BPPT meluncurkan aplikasi SI PINTER untuk pencatatan dan identifikasi ternak dengan perekaman RFID dan GPS tracker untuk memantau ternak dengan tepat dan cepat. Bantolo

One comment

  1. Izin pak..
    Coba deh pemerintah mau evaluasi UU Nomor 40 tahun 2007, besar kemungkinan swasembada daging sapi akan terwujud. Karna masih banyak BUMN dan anak perusahaan nya yang tidak melaksanakan apa yang tertuang pada UU tersebut dengan dalih sapi membawa virus yang merusak tanaman sawit. Kami masyarakat petani sapi di riau yang cara pemeliharaan nya diangon dikebun sawit, sulit berkembang karna selalu saja ada korban dari ternak yang ditembak, dan diracun oleh pemilik kebun sawit karna isu2 dari petinggi perkebunan sawit bahwa sapi adalah hama untuk tanaman sawit. Kalau saja para petinggi perkebunan BUMN turut mensosilisasikan itegrasi sapi – sawit saya pikir banyak cara pandang masyarakat yang akan terbuka dan program swasembada daging sapi akan lebih mudah tercapai jika masyarakat banyak yang turut beternak dengan program integrasi sapi – sawit.
    Karna dominan yang pelihara sapi di riau itu masyarakat kecil (kurang mampu) yang ingin turut mewujudkan program pemerintah namun keterbatasan lahan merumputkan ternaknya..
    Sejauh ini tidak ada payung hukum bagi kami para peternak kecil ketika ternak kami mati diracun atau ditembak di kebun sawit yang kami tumpangi untuk merumputkan ternak..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *