Kopi Jeapara khas Indonesia/ist

Di Markas Besar PBB, Wapres Bicara Merosotnya Harga Kopi

Agrofarm.co.id-Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyoroti terus merosotnya harga biji kopi di pasaran dunia yang mencapai 70% sejak 1982. Menurut Wapres, salah satu penyebabnya adalah kelebihan pasokan produksi biji kopi dunia.

“Saya ingin menggarisbawahi dampak dari krisis harga kopi ini. Petani kecil adalah korban yang paling dirugikan. Petani kecil, bukan industri maupun konsumennya,” kata Wapres Jusuf Kalla saat berbicara pada forum Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan, di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat (AS).

Menurut Wapres, lebih dari 90% lahan kopi Indonesia dikelola oleh petani kecil. Karena itu, Indonesia sangat prihatin dengan krisis ini, saat keuntungan industri kopi besar dunia justru meningkat. “Lebih dari 25 juta petani kecil kopi di seluruh dunia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Indonesia sendiri memiliki 1,8 juta petani kopi,” ungkap Kalla dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Jumat (27/9/2019).

Merosotnya harga dunia, lanjut Wapres Jusuf Kalla, juga telah mengakibatkan menanam kopi tidak lagi menjadi sumber penghidupan yang diminati. Sebagian petani kopi bahkan beralih ke sektor lain. Karena itu, sebagai sesama negara penghasil kopi, Wapres mengajak bersama-sama untuk membuat terobosan guna memperbaiki nasib produsen kopi di negara masing-masing.”Kita tidak bisa berdiam diri,” tegas Wapres.

Langkah-Langkah

Dalam forum yang diinisiasi negara Kolombia ini, Wapres Jusuf Kalla memaparkan langkah-langkah yang menjadi usulan Indonesia dalam mengatasi kemerosotan harga kopi dunia. Pertama, kata Wapres, terus memperluas pasar kopi, dan mengendalikan jumlah pasokannya.

Kedua, petani kecil harus ditingkatkan kemampuannya agar dapat menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik dan bernilai tambah. Ketiga, perlunya dibangun kemitraan antara industri dan petani kecil. Wapres menunjuk contoh industri kopi besar harus memberikan CSR (Corporate Social Responsibility) untuk peningkatan kapasitas petani kecil.

Keempat, perlu upaya khusus untuk menjaga keseimbangan harga kopi bagi petani, industri, dan konsumen. “Diperlukan dukungan International Coffee Organization (ICO) dalam hal ini,” ujar Jusuf Kalla. Puspa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *